Kereta pengasingan, katamu.
Tanyaku: untuk apa?
Jawabmu: untuk melihat rumah-rumah yang terbuat dari kardus bekas.
Aku tertarik untuk jadi salah satu penumpang, kataku.
Katamu: silahkan naik, semoga tidak hujan.
Condongcatur, Des 2009 – Jan 2010
Kereta pengasingan, katamu.
Tanyaku: untuk apa?
Jawabmu: untuk melihat rumah-rumah yang terbuat dari kardus bekas.
Aku tertarik untuk jadi salah satu penumpang, kataku.
Katamu: silahkan naik, semoga tidak hujan.
Condongcatur, Des 2009 – Jan 2010
Ditulis dalam Bagasi Sajak | Leave a Comment »
Aku dan kau, siapa yang bagaimana? Okey. Biar aku jawab. Siapa? Aku sebagai aku. Dan kau sebagai kau. Lalu. Aku dan kau yang bagaimana? Aku si jelek yang bisu tuli. Sedangkan kau si cantik yang tuna netra. Cukup? Kalau sudah cukup kisah ini akan kumulai.
Kau tahu? Kenyataan yang membentuk siapa dan bagaimana kita itu. Ternyata membuatku tidak memilih untuk menempuh jalan tercepat menuju dirimu. Karena jalan memutar untuk mengenal dirimu secara lebih perlahan. Menurutku lebih menarik. Karena dengan begitu aku jadi bisa melihatmu dari banyak sudut. Walaupun rasa penasaran akan sebuah hasil akhir menjadi lebih panjang dan tak tertahankan: apakah suatu saat aku bisa mengajakmu berbincang, tapi dengan cara yang sedikit lain?
***
Baiklah. Begini saja. Aku ingin jujur padamu. Kalau aku tak pernah tahu apa nama kisah yang saat ini sedang berlangsung. Kecuali keterposanaan yang datang mendadak di sore hari. Waktu itu langit berwarna jingga-sephia. Dan kita berada di sebuah tempat yang sama. Kau duduk sambil memangku rahasia. Dan aku berdiri menerawang. Membelakangimu. Waktu itu aku ingin mengajakmu berbincang dengan cara yang sedikit lain. Tapi keberanianku mendadak disapu habis oleh angin.
Lalu pada sore yang lain. Aku melihatmu berjalan ke depan sambil membaca buku tentang masa lalumu. Sebuah masa lalu yang mungkin membuatmu sesak nafas. Aku ingin sekali menolongmu. Tapi aku tak ingin bergerak langsung menuju dirimu. Aku ingin menempuh jalan memutar lebih dulu. Agar aku bisa melihat dirimu dari banyak sudut. Semoga kau tidak buru-buru pergi meninggalkan tempat dudukmu. Seperti penglihatan yang buru-buru pergi meninggalkan matamu.
Alur dari kisah ini selanjutnya mungkin lebih tersengal. Seperti seseorang yang ragu untuk meneteskan air mata ketika dadanya padat oleh kesedihan. Sebaiknya aku tidak mengirim banyak isyarat kepadamu. Karena aku takut untuk melukaimu dengan cara komunikasi yang melahirkan batas dan jarak itu. Ah! Siapa yang memahat kisah ini lebih dingin dari sebelumnya. Hingga membuatku sangat menggigil untuk meneruskannya.
***
Semoga kau baik-baik saja dengan cahaya yang tak bisa direspon oleh matamu. Dan aku juga baik-baik saja dengan keterbatasan berbicara dan keheningan pada telingaku. Tapi perlu kau tahu. Aku pernah beberapa kali diremas kesadaran. Bahwa diriku ini tidak sedang baik-baik saja. Apalagi ketika aku terdiam di dalam ruang tunggu tanpa seorang pun di situ. Sendiri. Sepi. Atau ketika aku berada di tengah kerumunan orang “normal”. Aku merasa menjadi sangat berbeda dari mereka. Karena kerumunan sering membuat kesepakatan yang berasal dari dominasi dan hieraki.
Dari kenyataan itu, aku jadi lebih tahu hubungan antara lelah dan air mata. Hubungan itu kutemukan ketika aku tak henti membuat gerak. Maksudku gerak untuk menjadi sama. Tapi kemudian aku malah melahirkan sesuatu bernama kesia-siaan. Kemudian kesia-siaan meninggal, tepat ketika aku menemukanmu. Aku seperti menemukan tuju baru.
Tapi setelah itu. Tahukah kau?! Beberapa kisah tanpa inisial semakin banyak menjejali diriku. Aku tidak tahu bagaimana itu bisa terjadi. Mungkin penyebabnya adalah masalah tersembunyi yang sedang kuhadapi. Masalah tersebut bisa jadi adalah masalah komunikasi antara kau dan aku. Tahukah kau? Jiwaku berombak ketika memikirkan itu. Bahwa kita adalah dua manusia dengan indera yang tak lengkap. Yang sialnya bermukim di dalam dunia yang janggal dan diskriminatif.
Ah! Seandainya saja kau bisa melihat dan menangkap isyarat yang kususun. Maka aku tidak akan kelimpungan untuk mengatakan: aku jatuh cinta padamu, sungguh, aku jatuh cinta padamu. Tapi aku harus buru-buru sadar. Kalau saat itu. Aku hanyalah seseorang yang masih tahu sedikit tentang dirimu: kau adalah perempuan yang mungkin tidak sedang menunggu apapun. Entahlah sesuatu apa yang membuatku berfikir demikian. Tapi jika pikiranku benar. Aku akan berusaha untuk menjadi sesuatu yang kau tunggu.
Pada sore yang lain lagi. Tepat ketika angin timur berkemas menuju barat. Aku memutuskan untuk berani mendekatimu. Dengan jarak yang lebih dekat lagi tentunya. Padahal jantungku selalu berdegup lebih kencang. Tiap kali aku berada satu meter lebih dekat dari tempatmu duduk. Tapi, ah… Aku tak peduli. Aku harus berani.
Singkat cerita. Aku mencoba mendekatimu dengan perlahan. Aku harap derap sepatuku dan degup jantungku tidak memicu ketakutanmu. Karena aku ingin kau tetap nyaman. Sekarang aku sudah berada di sampingmu. Dan kau tampak menyadarinya. Lalu kau mencoba melemparkan senyum kepadaku. Walaupun kearah yang sedikit salah. Aku membalasnya.
Beberapa menit kemudian. Aku memberanikan diri mengajakmu berbincang dengan cara yang biasa. Dan tentu saja dahimu mengernyit. Bingung. Karena aku bisu. Begitupun sebaliknya, semisal kau juga mencoba mengajakku berbincang dengan cara yang biasa. Dahiku juga pasti akan mengernyit. Bingung. Karena aku tuli.
***
Istriku, apakah kau ingat kejadian pada sore dulu? Jika saat itu kau tidak berani memutuskan untuk menyentuh tangan orang asing di sebelahmu. Isyarat yang kususun dari sepuluh jemariku. Tidak akan pernah kau mengerti. Karena kita memang harus berbincang, tapi dengan cara yang sedikit lain. Satu lagi. Mungkin aku juga tak akan pernah jadi suamimu dan kau juga tak akan pernah jadi istriku.
Ditulis dalam Bagasi Cerpen | Leave a Comment »
: Dukamu Tidak Abadi
Hap!
Perempuan duka menenun kata,
merenda BH
Hap! Hap!
Mata-mata mengintai curiga
terhadap mata pisau dengan kilat berbeda
Hap! Hap! Hap!
Oh, kilat mata pisau
Menikam!
Menikam!
Hap! Hap! Hap! Hap!
Dukamu yang tidak abadi
-Babarsari, 8 Des 09-
Ditulis dalam Bagasi Sajak | Leave a Comment »
Apa yang melebihi damai:
Memandang wajah lelap kekasih imajiner!
Babarsari, 8 Des 09
Ditulis dalam Bagasi Sajak | Leave a Comment »
Suasana terlalu urakan.
Ketika tawa menjadi bahak yang meledak-ledak.
Kebenaran mengasap lesap.
Ketika kenyataan menjelma ritus
melarikan diri.
Yogya, Agustus 2009
Ditulis dalam Bagasi Sajak | Leave a Comment »
Dan kau harus tahu.
Detik pertama aku mencarinya.
Aku harus mendatangkan gempa
yang ditarik satu trilyun kuda pacu.
Hia…
Bayangkan gemuruhnya!
Benarkah lariku hanya akan menciptakan gerak
yang gagap?
Sebab gelisah terlanjur memenuhi jalan
yang tak lagi lenggang.
Berikan aku aba-aba,
ketika hendak memanah angin dan halilintar.
Karena aku adalah dzat
yang tak tahu kapan harus memulai sebuah kesia-siaan.
Tetapi kau tak perlu tahu tentang sebab,
kenapa aku memilih menjadi hujan
yang menghapus jejak sendiri.
Sembari mendendangkan sebuah pertanyaan
yang selalu mengigau ketika kemarau:
Kenapa ia tak juga kepakkan sayapnya. Terbang mencari rumbia. Dan membuat persinggahan yang teduh?
PohRubuh, 2009
Ditulis dalam Bagasi Sajak | Leave a Comment »
Dengan Iman kita mengetahui bahwa semesta alam ini sudah jadi oleh firman Allah, sehingga barang yang kelihatan bukannya dijadikan dari pada barang yang kelihatan.
(Ibrani 11: 3)
Secara tak terduga kegagapan mungkin akan kita alami, ketika kita coba menarik wacana kosmologi ke dalam lapangan agama. Walaupun kita sudah coba menyempitkannya pada masalah penciptaan dunia. Atau tantangan lain di luar itu, lebih-lebih jika kita berani untuk—sedikit nekat—memakai perspektif agama yang tidak kita peluk.
Tentunya hal tersebut bukanlah beban yang relatif lebih ringan. Lantaran dalam agama, penjelasan tentang penciptaan dunia sudah ada dan jelas tertulis dalam kitab suci, khususnya kitab suci dalam agama-agama semit. Dalam tulisan ini saya akan coba memaparkan pandangan—yang sangat mungkin untuk tidak utuh—Kristen tentang kosmologi.
Berbicara tentang Kosmologi, khususnya tentang penciptaan dunia. Katrin sebagai seorang Kristen yang taat, tapi tergolong awam dengan sains. Ketika kita tanya, bagaimana alam semesta ini bisa tercipta? Dan adakah yang menciptakannya? Katrin dengan berlandaskan imannya, mungkin akan menjawab singkat, “Aku percaya akan Allah Bapa, yang Mahakuasa, yang mencipta langit dan bumi.”
Misalnya kita seorang saintis. Satu hal perlu kita sadari, ketika tergerak untuk memikirkan isi ataupun makna kalimat “Aku percaya” yang diucapkan Katrin secara lebih jauh. Yakni, bahwa kita sedang memasuki suatu lapangan kehidupan yang sama sekali berlainan daripada lapangan sains.
“Aku percaya”, artinya: bersama-sama dengan orang-orang lain yang percaya, aku nyatakan keyakinanku, bahwa ada sesuatu kuperoleh dari Allah, suatu kepastian, suatu pengetahuan tentang hakekatNya dan pekerjaanNya. Suatu kepastian yang aku terima karena aku telah mendengar firmanNya, dan telah belajar menerimanya dalam kepercayaan sebagai kebenaran itu (Petri, 1965: 22).
Perbedaan azasi ini tampak juga kepada kita dengan cara yang lain dalam kata “Aku percaya”: “Aku percaya” artinya, di dalamnya aku terlibat secara pribadi, dengan seluruh keberadaanku. Kata itu mengungkapkan suatu kepastian eksistensial, bukan suatu pengetahuan umum yang dengan begitu saja dapat dimiliki setiap orang yang berusaha untuk memilikinya (Ibid.).
Seorang saintis yang coba menganalisa suatu gejala hidup tanpa kesadaran yang saya singgung di atas. Menjadikan fakta-fakta dan hukum-hukum yang tak dapat diganggu gugat secara semena-mena kita terapkan. Karena sebelum dan sesudahnya kita tidak memiliki kecenderungan untuk melihat kesatuan dan keindahan gejala-gejala yang bukan hanya semu saja. Melainkan yang merupakan realitas dalam terang Alkitab. Kesatuan dan keindahan itu menunjuk ke atas, kepada pangkal dan ujung segala hal, yang ada pada Allah.
***
Penciptaan terjadi sebagaimana dikemukakan dalam bab pertama kitab Kejadian, dan seperti diutarakan Agustinus untuk menyangkal kaum Manikhea, Penciptaan itu tentu telah terjadi sedini mungkin. Jadi ia menampilkan diri sebagai penyanggah yang tengah melakukan bantahan (Russell, 2004: 474).
Segi pertama yang harus disadari, jika jawabannya hendak dipahami, adalah bahwa penciptaan itu muncul dari ketiadaan, sebagaimana yang diajarkan dalam kitab Perjanjian Lama (juga Ibrani dalam perjanjian baru), merupakan sebuah gagasan yang sepenuhnya asing bagi filsafat Yunani. Ketika Plato berbicara tentang penciptaan, ia membayangkan adanya suatu materi purba yang lantas diberi forma oleh Tuhan; gagasan demikian itu berlaku pula pada Aristoteles. Tuhan mereka lebih menyerupai tukang atau arsitek daripada Pencipta. Substansi itu dibayangkan sebagai sesuatu yang kekal dan tak diciptakan; hanyalah forma saja yang berasal dari kehendak Tuhan.
Bertolak belakang dengan pandangan ini, Santo Agustinus menyatakan, sebagaimana yang tentu dinyatakan pula oleh semua pemeluk Kristen ortodoks, bahwa dunia tidak diciptakan dari materi tertentu, melainkan dari ketiadaan. Tuhan juga menciptakan materi, bukan hanya tertib dan susunannya (Ibid.).
Pertanyaan mengapa dunia tidak diciptakan lebih dini? Sebab tak ada “yang lebih dini” itu. Waktu diciptakan di saat dunia diciptakan. Allah bersifat kekal, dalam arti berada di luar waktu; pada Allah tak ada sebelum dan sesudah, kecuali hanya kekinian kekal. Kekekalan Allah itu terlepas dari hubungan dengan waktu; seluruh waktu sekaligus adalah kehadiran saat ini bagi Dia. Dia tidak mendahului penciptaanNya sendiri atas waktu, sementara ia berada secara kekal di luar arus waktu. Pandangan ini membawa Santo Agustinus menuju teori relativitas waktu yang sangat mengagumkan (Ibid, hlm. 475).
Menurutnya ada tiga waktu: “kehadiran sekarang dari segala hal yang silam, kehadiran sekarang dari segala hal saat ini, dan kehadiran sekarang dari segala hal mendatang.” “Kehadiran sekarang dari segala hal yang silam adalah ingatan, kehadiran sekarang dari segala hal saat ini adalah pemandangan, dan kehadiran sekarang dari segala hal mendatang adalah harapan (Agustinus dalam Russell, hlm. 476).
***
Mungkin hanya sangat sedikit saja orang-orang dalam zaman kita ini yang belum pernah mendengar pertanyaan atau sendiri menanyakan, apakah sebenarnya arti perbedaan antara cerita kejadian yang berbicara tentang penciptaan dunia dalam 6 hari dan buku-buku tentang geologi dan biologi, yang berbicara tentang suatu sejarah berjuta-juta tahun. Pertanyaan ini dapat diajukan hanya sekedar karena tertarik kepada persoalan itu, tetapi bagi banyak orang, ia dapat merupakan suatu pertanyaan yang disertai dengan rasa cemas: jika yang dikemukakan Alkitab itu ialah kebenaran, maka sekarang kita berhadapan dengan dua kebenaran, dan bagaimana ini dapat diterangkan? Selain dari itu datang pula kecaman-kecaman dari orang luar: cerita Alkitab itu sama sekali tidak sesuai dengan hasil-hasil ilmu, bagaimanakah kamu dapat lagi mempertahankan kebenarannya? (Petri, 1965: 29).
Jurang yang memisahkan sains dan agama memang demikian lebar dan curam. Hingga jembatan yang coba dibangun filsafat belum bisa dikatakan benar-benar selesai. Karena sejauh ini perdebatan antara para saintis dan para agamawan tentang banyak hal, yang bersumber pada perbedaan epistemologi dalam memperoleh kebenaran. Pun masih, bahkan semakin riuh terdengar.
Tetapi manusia secara diam-diam, ketika menghadapi seluruh kenyataan dalam hidupnya, ia kagum sekaligus ragu-ragu terhadap apa yang dilihatnya. Kagum karena dunia yang dilihatnya memang indah. Ragu karena pada satu titik ia curiga terhadap panca-inderanya yang mungkin menipunya. Saat itu kesadaran akan keterbatasan tersemat dalam hatinya. Nah, dalam situasi itu ilmu sudah tidak bisa menjawab. Dan agama menjadi tempat terakhir meletakkan harap:
“Manusia mengharapkan dari berbagai agama jawaban terhadap rahasia yang tersembunyi sekitar keadaan hidup manusia. Sama seperti dulu, sekarang pun rahasia tersebut menggelisahkan hati manusia secara mendalam: apa makna dan tujuan hidup kita, apa itu kebaikan apa itu dosa, apa asal mula dan apa tujuan derita, mana kiranya jalan untuk mencapai kebahagiaan sejati, apa itu kematian, apa pengadilan dan ganjaran sesudah maut, akhirnya apa itu misteri terakhir dan tak terungkapkan, yang menyelimuti keberadaan kita, darinya kita berasal dan kepadanya kita menuju?” — Zaman Kita (no.1), Deklarasi Konsili Vatikan II tentang Sikap Gereja Katolik terhadap Agama-agama bukan Kristen, 1965.***
Ditulis dalam Bagasi Esai & Artikel | 1 Komentar »
Sejauh ini telah banyak data dan fakta yang membuat kita harus menjawab “ya” terhadap pertanyaan: “apakah bumi kita sedang tidak baik-baik saja?”. Hutan-hutan semakin botak, sungai-sungai semakin keruh, udara nyaris tak layak hirup, hembusan angin tak lagi sepoi dan malah cenderung gerah, siang hari terasa lebih panas dari dulu, perubahan cuaca yang mengagetkan suhu tubuh kita, dll. Adalah contoh-contoh yang seharusnya cukup untuk mengugah kesadaran kita yang tidur terlalu lama. Data dan fakta di atas, secara diam-diam, pun tengah meniup sebuah peringatan khusus untuk manusia. “Jika bumi tidak sedang baik-baik saja, berarti manusia juga!”
Saat ini, beberapa manusia memang berusaha untuk lebih ramah lingkungan dan hemat energi. Namun, usaha tersebut bisa jadi absurd. Sebab tidak mengarah kepada perubahan lingkungan yang lebih baik. Tujuan dari usaha manusia untuk lebih ramah lingkungan dan hemat energi tersebut, hanya berpretensi untuk sedikit menunda.
Bukankah hal yang jauh lebih penting, yakni meletakkan sudut pandang pada eksploitasi alam secara besar-besaran oleh TNCS/MNCS (Trans National Corporations/Multi National Corporation) –khususnya TNCS/MNCS yang mengeksploitasi minyak bumi, gas alam, seperti Exxon Mobil, Total, British Petroleum. Juga TNCS yang mengeksploitasi tambang emas dan perak, seperti Freeport dan McMoran –yang secara konkrit memiliki sumbangsih besar terhadap kerusakan bumi.
Usaha manusia modern dalam melestarikan alam adalah usaha yang absurd. Karena di sedikit wilayah, mereka sebisa mungkin ramah terhadap lingkungan dan hemat energi. Namun, di banyak wilayah mereka terus melakukan eksploitasi alam secara besar-besaran.
Di Yogya, tepatnya di daerah gunung kidul, ada sebuah hutan bernama wonosadi yang masih lestari. Karena di hutan tersebut sebuah mitos masih bersuara nyaring. Pohon-pohon tidak boleh ditebang, karena dipercaya sebagai pohon keramat. Jika ada yang nekat menebang, maka akan terjadi bencana, khususnya untuk penduduk sekitar.
Mitos akan pohon tersebut masih lestari seiring dengan lestarinya hutan wonosadi; keduanya menjalin hubungan, keduanya ada yang menghubungkan. Pohon-pohon di hutan wonosadi yang keramat tersebut. Bukankah sebuah mitos tanpa rasionalisasi. Mereka adalah sumber dari resapan air dan sumber air untuk penduduk sekitar. Maka dari itu, penduduk setempat tidak berani menebang dan melarang keras penebangan.
Acara berjudul “Kenduri Bumi” ini adalah salah satu upaya untuk kembali merayakan tradisi. Sesuatu yang dianggap usang namun secara rasional-implisit memiliki fungsi ekologi. Perlu ditegaskan, ini bukan romantisme belaka, yang secara naïf menghimpun begitu saja kenangan indah dari masa lalu untuk sedikit menghibur kenyataan di masa kini. Melainkan, juga belajar dari “laku” secara umum dan secara khusus kearifan lokal orang-orang dahulu (baca: nenek moyang) dalam hubungannya dengan alam. Mari kita lahirkan bumi kembali…
Ditulis dalam Bagasi Esai & Artikel | Leave a Comment »
: menjelang subuh, sepi, masa lalu dan tangis perempuan
siapa yang melintang di atas garis bujur secara tiba-tiba?!
hingga hujan tak mau turun di atas kebun masa lalu.
dan tangis perempuan seperti melodi yang terbakar
PohRubuh, 16 Juni 2009
03.07 WIB
Ditulis dalam Bagasi Sajak | 4 Komentar »
: kitab mantan calon kekasih
menemukanmu adalah menemukan sesuatu yang tak jadi kutemukan
seperti kitab tua berdebu yang lama kucari-cari
dan akhirnya tak sengaja kutemukan di perpustakan paling tersembunyi
tapi dengan banyak halaman yang tanggal, huruf-huruf yang tak bisa dibaca semua,
dan bab-bab yang ternyata belum sampai ditulis
PohRubuh, 26 Mei 2009
12.13 WIB
Ditulis dalam Bagasi Sajak | Leave a Comment »