Keberadaan yang Berjalan Menuju Kematian

Memang sudah menjadi aksioma yang mutlak bagi kita yang sedang dan terus berjalan maju untuk memaknai dan merasakan nikmatnya denyut kehidupan. “Kematian adalah sebuah kepastian!” Demikian manusia mendapatkan sebuah kesimpulan tentang salah satu—atau bahkan satu-satunya—kepastian hidupnya. Ya, kematian dalam batas tertentu memang bisa kita kenali sebagai sesuatu yang pasti. Namun, secara bersamaan—dan dalam batas tertentu pula—kematian sebenarnya tidak bisa kita kenali sebagai sesuatu yang pasti; mungkin karena itu ia menyimpan misteri sampai sekarang. Taruh saja Jean Paul Sartre—seorang filsuf kenamaan asal Perancis—yang secara implisit sempat menanggapi paradoks tentang kematian dengan nada yang sedikit geram;

Kematian merupakan sesuatu yang tidak terpahami. Fenomena kematian adalah kenyataan yang menyergap secara tiba-tiba dan membabi buta, sehingga manusia tidak mampu mengontrolnya. Kedatangannya tidak bisa diperhitungkan dan sangat mengejutkan manusia yang sedang merencanakan hidupnya dan berusaha mewujudkannya.[1]

Komaruddin Hidayat turut menimpali pula dengan salah satu bukunya tentang psikologi kematian. Dengan bertolak pada sebuah ungkapan Arab yang menempel dibenaknya, “Segala sesuatu yang pasti terjadi, berarti dekat.” Komaruddin secara lugas melanjutkannya dengan kalimat yang sedikit satire, “Kematian adalah kepastian, maka mati adalah dekat, bahkan lebih dekat dari kemungkinan kamu jadi orang kaya ataupun jadi sarjana.”[2]

“Kematian adalah sebuah kepastian!” Aksioma tersebut dalam logika tertentu boleh jadi benar. Namun jika kita mau mencermatinya secara seksama atau mau menelisiknya lebih jauh lagi dengan pertanyaan berikut: “Sebenarnya kematian itu kepastian dengan model seperti apa? Apakah ia adalah model kepastian dengan corak ketidakpastian yang diam-diam melekat dan akan tampak jelas, ketika kita—dalam momen tertentu—tiba-tiba digelisahkan oleh tiga pertanyaan perihal kepastian waktu, tempat dan sebab: ‘Sebenarnya kapan, di mana dan bagaimana kita akan mati’?” Ya, dalam batas tertentu, tentunya kita tidak tahu bukan! Kecuali jika kita adalah orang frustasi yang berencana bunuh diri pada waktu, pada tempat dan dengan cara terentu.

Kembali pada aksioma tentang kematian adalah sebuah kepastian. Dalam konteks tersebut, kiranya kita patut menyimak pendapat Heidegger berikut: The fact that demise, as an event that occurs, is “only” empirically certain, in no way decides about the certainty of death.[3] Dengan mengamini pendapat Heidegger tersebut, maka sedikitnya kita bisa memantik kesimpulan, bahwa aksioma tersebut ternyata hanya berlaku secara empiris, tetapi tidak secara eksistensial. Dan ketidakpastian kematian secara eksistensial itulah, yang pada ‘momen tertentu’ sering membawa kita pada ketakutan atau lebih tepatnya—dengan merujuk identifikasi Heidegger—kecemasan (Angst).

“Kecemasan itu,” kata Heidegger, “adalah kecemasan akan kemungkinannya sendiri.”[4] Sampai titik ini, pertanyaan filosofis yang menonjol, kemudian menarik untuk kita raba adalah pertanyaan tentang, apa hakikat eksistensi kita dalam kematian? Namun sebelum melakukan perabaan secara lebih jauh lagi. Beberapa pertanyaan mendasar tentang kematian, yang harus kita lewati lebih dulu adalah sebagai berikut; kenapa kita berbicara tentang kematian—bahkan dalam konteks ini—dan hendak mewacanakannya secara filosofis? Apakah kita sanggup mewacanakannya sebelum mengalaminya? Atau dengan lain pertanyaan, apakah epistemologi kita memungkinkan untuk mengenali kematian secara hakiki? Misalnya epistemologi kita memungkinkan, lalu dengan cara apa kita dapat mengenalinya?

***

Sepertinya mustahil untuk mengenali kematian secara utuh. Hal itu dikarenakan—alih-alih mencicil jawaban untuk pertanyaan yang terkait dengan epistemologi yang memungkinkan—masih tercatatnya kita sebagai makhluk yang ‘mengada’ (baca: hidup). Secara langsung ataupun tidak langsung menjadi tembok penghalang untuk diri kita sendiri, khususnya dalam konteks, bekal epistemologi yang kita bawa mengembara menuju hakikat kematian.

Secara umum, bukankah sekarang ini kita masih tercatat sebagai makhluk yang “…‘mengada’; dan sedang dalam proses mengada dan meng-ada. Sementara ‘kematian’ adalah ‘meniada’, atau mungkin ketiadaan itu sendiri.”[5] Lantas sampai pada titik ini, pertanyaan kenapa kita tetap ngotot untuk mewcanakan kematian secara filosofis, jika dalam batas-batas tertentu tidaklah memungkinkan? Mungkin pertanyaan kenapa tersebut bisa di jawab dari dua segi: (1) dari segi wacana, (2) dari segi fenomena.

Dari segi wacana, secara mudah, kutipan berikut cukup representatif, Karena kematian adalah tema yang relatif jarang diangkat dan dikaji secara filosofis… ….Hal ini terungkap dari fakta bahwa tema kematian, walaupun sudah dikaji sejak ribuan abad lampau oleh Epicurus dan para pemikir Stoa, baru mendapat perhatian serius secara sistematis pada era Eksistensialisme modern (via Heidegger, Sartre, Jaspers dll).”[6]

Dari segi fenomena, khususnya dalam era modern-kontemporer. Kematian yang pada konteks tertentu seharusnya adalah peristiwa pamungkas yang menggetarkan bagi eksistensi manusia. Namun seiring dengan melajunya masa, kematian semakin kehilangan getarnya sebagai peristiwa. Hal itu mungkin dikarenakan oleh beberapa sebab berikut:

…kematian seringkali dimaknai secara dangkal.… ….Kematian bukan lagi sesuatu yang menggetarkan hati dan pikiran manusia. Karena pengaruh teknologi media mutakhir, kematian tercerabut dari konteksnya sebagai pengalaman manusiawi yang unik dan khas dan menjadi sekedar data. Pendek kata, kematian menjadi fakta; ia menjadi faktualitas, tetapi kehilangan maknanya sebagai faktisitas, pengalaman manusiawi yang human dan ‘riil’.[7]

Fenomena tersebut juga sempat disinggung oleh Ernest Becker dalam bukunya The Denial of Death. Dengan cara memperbandingkan dua sudut pandang yang berbeda; yakni antara sudut pandang primitif dan sudut pandang modern tentang kematian. Demikian Ernest Becker dalam analisisnya;

Berbeda dengan pandangan modern atas kematian, pandangan primitif terhadap kematian bukanlah tindakan yang kekanak-kanakan karena di dalamnya terkandung paham bahwa kematian merupakan jalan untuk masuk dalam fase yang lebih tinggi, sebagai jalan masuk ke dalam alam keabadian. Sedangkan pandangan manusia modern telah berubah, kematian menjadi sesuatu yang menakutkan.[8]

Kalau kita mau mengingat atau melihat kembali bagaimana euforia media masa Indonesia—bahkan dunia—baik itu cetak atau elektronik—vis a vis euforia kita, ketika gelombang Tsunami pada Desember 2004 lalu memporakporandakan Aceh dan sekitarnya. Bukankah pada waktu itu media secara membabi buta terus melakukan blow-up terhadap manusia yang resmi menjadi bangkai. Memang selain itu media juga tak lupa menampilkan data statistik—bahkan meng-up-date-nya tiap hari dalam kurun waktu yang cukup lama—tentang banyaknya mayat yang bergelimpangan. Sehingga kita bisa mengetahui berapa banyaknya korban dalam taragedi tersebut. Tapi sayangnya data statistik itu sepertinya hanya kita maknai sebagai data statisitik yang tidak lebih dari sekedar angka-angka dan bukan tragedi masal yang menggetarkan hati kita. Fenomena tersebut tampak seperti ”upaya manusia untuk menimbun tragedi atau kematian masal dengan angka-angka”.

Ada fakta lain lagi yang makin menimpali kebenaran atas pendangkalan manusia terhadap fenomena kematian. ”Bukan sekedar teknologi mutakhir yang mengubah faktisitas kematian menjadi faktualitas; ideologi yang inhuman juga berperan melakukan hal itu.”[9] Taruhlah Joseph Stalin yang konon pernah berkata demikian, “Kalau cuma seorang yang mati itu boleh jadi tragedi, tapi kematian sejuta orang adalah statistik.”[10] Bukankah kata-kata tersebut sangat ironis! Dalam arti yang teramat lucu juga sekaligus teramat kejam dan menyeramkan. Lebih-lebih jika kata-kata tersebut rupanya pernah dipekikkan Stalin berulangkali di atas timbunan mayat.

***

Menarik wacana kematian dan mencari hakikatnya dalam disiplin keilmuan yang ketat (obektif, metodologis, sistematis dan universal) mustahil untuk kita lakukan. Namun dalam konteks ini, filsafat setidaknya bisa kita jadikan alat pemecah kemustahilan tersebut dengan kemungkinan lain, yang bisa ia dapatkan dengan menggunakan metode-metode yang ia miliki.

Sejauh ini ada cukup banyak dan beragam metode filosofis yang telah lahir dan berkembang sepanjang sejarah pemikiran. Namun pertanyaan yang langsung terkait dengan konteks ini, adalah metode filosofis apa yang kiranya paling dekat dan mungkin untuk mewacanakan kematian? Mungkin untuk menjawab pertanyaan tersebut, sebelumnya kita harus memiliki dasar asumsi yang kuat terhadap objek yang sedang dihadapi, berarti dalam hal ini adalah kematian.

Secara a priori, kita meyakini bahwa kematian itu ada dan pasti terjadi. Namun secara ontologis sifat dan bentuknya belum bisa kita definisikan. Oleh karena sifat dan bentuknya terlalu misterius dan abstrak. Lalu secara a posteriori, kita bisa melihat bahwa peristiwa kematian itu memiliki relasi langsung terhadap kita (baca: subjek), bahkan tidak hanya memiliki relasi langsung melainkan juga melekat di dalam diri kita. Dengan kata lain bisa kita simpulkan, bahwa pada hakikatnya, kematian itu bukanlah objek yang berada di luar diri kita.

Dengan berangkat dari asumsi di atas, sebuah metode filosofis yang kita butuhkan adalah metoe filosofis yan tidak cenderung mengambil jarak terhadap objek. Melainkan sebuah metode filosofis yang cenderung terlibat dan menghayati objek secara langsung. Metode filosofis yang memiliki kecenderungan tersebut adalah “…metode ‘filsafat eksistensial’ (Existenzphilosophie, yang dalam beberapa literature disebut juga Lebenphilosophie, ‘filsafat hayat’, ‘filsafat kehidupan’)—yang berangkat dari ontologi.”[11]

Filsafat eksistensial, seperti kita ketahui muncul karena kegelisahan para filsuf melihat dominasi struktural ilmu-ilmu alam terhadap pengalaman manusia. Dominasi sains dan biologi dalam membicarakan persoalan-persoalan kematian sangatlah kuat mewarnai kehidupan modern secara umum. Oleh karena itu sebagai akibatnya pengalaman-pengalaman manusiawi yang terkait dengan ‘kehidupan’ sering kali menderita reduksi yang tidak sepatutnya akibat dominasi paradigma saintifik tersebut. Inilah yang oleh Husserl ditengarai sebagai ‘krisis pengetahuan’ dalam kesadaran modern.[12]

Krisis itu coba dipulihkan kembali atau direstorasi oleh filsafat eksistensial. Mode filosofis yang dikemukakan oleh filsafat eksistensial yakni, ingin melihat pengalaman-pengalaman hayati yang unik seperti ‘kehidupan’ dan ‘kematian’ sebagai pengalaman yang tidak cukup didekati dengan ilmu, tapi perlu melibatkan pengalaman. Kuncinya adalah pada ‘penghayatan’ atau ‘intensionalitas’ yang terlibat (engaged) dalam objek yang diteliti. Ini adalah mode filsafat yang terlibat dalam realitas, yang tidak berjarak secara hermeneutis dari apa yang dibacanya, tetapi menghanyutkan diri dalam realitas yang dia baca untuk mendapatkan intisari dari pengalaman-pengalaman manusiawi tersebut.[13]

Sang pelopor filsafat ini (filsafat eksistensial), Soren Kierkegaard. Secara tersirat telah menjelaskan semangat dan latar belakang filsafat yang diretasnya tersebut. Yang mana tidak lain dan tidak bukan adalah upaya kritiknya terhadap proyek megapolitan Hegel, yang ingin membangun “…sistem ilmu pengetahuan yang komprehensif dan mencakup segala macam pengetahuan serta kebenaran…”[14] di atas lahan filsafat. Simak kritik Kierkegaard dalam kalimat panjang nan puitik berikut:

Apa gunanya untuk saya kalau kebenaran berdiri di hadapan saya, dingin dan telanjang, tidak peduli apakah saya mengenalinya atau tidak dan malah membuat saya takut dan bukannya percaya? Tentu saja saya tidak menyangkal bahwa saya masih mengenali betapa mendesaknya pengertian (an imperative understanding) dan melaluinya orang dapat bekerja bagi umat manusia. Akan tetapi semua itu harus dalam pelukkan hidup saya dan itulah yang saya rasa paling penting bagi saya saat ini. Itulah kerinduan jiwa saya, seperti padang pasir Afrika merindukan air. Itulah yang tidak saya miliki dan itulah sebabnya saya berdiri tertegun, seperti orang yang menyewa rumah dan mengumpulkan segala macam perabot rumah tangga, tetapi belum menemukan kekasih yang dapat diajak bergembira dan menderita bersama.[15]

Filsafat eksistensial dalam wilayah ideologis baik itu eksitensialisme-ateis ataupun non-ateis. Dalam pengertian Sartre “…kedua-duanya sama-sama meyakini… eksistensi mendahului esensi—atau apabila berkenan kita akan mulai dari subjektivitas.”[16] Apa yang dimaksud Sartre dengan eksistensi mendahului esensi dan apa kaitannya dengan subjektivitas? Sartre menjawabnya demikian: “…bahwa pertama-tama manusia ada, berhadapan dengan dirinya sendiri, terjun ke dalam dunia—dan barulah setelah itu ia mendefinisikan dirinya… ….Manusia adalah bukan apa-apa selain apa yang ia buat dari dirinya sendiri… …dan itulah apa yang kita sebut ‘subjektivitas’.”[17]

Dalam konteks pewacanaan atas kematian, titik penting tujuan bukanlah perburuan terhadap jawaban atas pertanyaan-pertanyaan seputar kematian dengan tingkat kebenaran umum atau tertinggi atau objektif. Atau mungkin secara lugas, titik penting tujuan bukanlah terletak pada capaian atas kebenaran objektif dari pertanyaan, “apa itu kematian?” Melainkan lebih kepada, “bagaimana kita bisa memeluk sebuah kebenaran tertentu (baca: subjektif) tentang kematian dengan nyaman, yakin dan penuh makna?” Di sini kesimpulan sederhananya adalah filsafat eksistensial lebih menekankan relasi manusia terhadap sebuah kebenaran dan bukan hakikat dari kebenaran itu sendiri.

Masih dalam konteks metode untuk mendekati kematian dari sisinya yang mungkin. Sepertinya ada satu hal yang perlu dan belum dijelaskan, yakni kenapa ontologi dianggap penting untuk dijadikan awal keberangkatan? Hal itu dikarenakan untuk menghayati kematian dan mendapatkan sebuah kebenaran tentangnya. Pertama-tama kita perlu meletakkan penghayatan kepada realitas paling umum dan mungkin dari objek. Namun lagi-lagi saya harus bertanya, berarti dalam hal ini realitas paling umum dari kematian yang dalam batas-batas tertentu masih mungkin kita hayati itu apa? Jawaban yang sementara saya punya untuk pertanyaan tersebut adalah “keberadaan kita yang sedang dan terus berjalan menuju kematian”.

***

Dalam lanskap yang subjektif maupun objektif, kematian manusia maupun kematian itu sendiri, pada hakikatnya tidak dapat lepas dari beberapa konteks. Taruhlah dalam konteks kehidupan kita di dunia ini secara umum. Saya jadi ingat sebuah pertanyaan, atau lebih tepatnya potongan aforisme yang pernah dilontarkan oleh Confusius: “Bagaimana engkau mau mengerti mati jika tidak mau mengerti hidup?”[18] Dalam sistematika tertentu aforisme Confusius tersebut, patut kita jadikan pertimbangan serius, manakala kita akan terjun menghayati kematian. Salah satu permisalan adalah kehidupan di dunia ini. Kematian memang penting dan bermakna untuk kehidupan juga sebaliknya kehidupan penting dan bermakna untuk kematian. Berarti dalam konteks ini, merenungkan salah satunya tidak lain dan tidak bukan adalah merenungkan keduanya.

F. Budi hardiman dalam bukunya yang berjudul Heidegger dan Mistik Keseharian memaparkan keniscayaan kematian dan kelahiran (baca: kehidupan) sebagai berikut, “…kita ada di dunia ini bersifat niscaya. Kita tak pernah ditanya lebih dahulu mau atau tidak hidup di dunia ini, juga kita tidak diberitahu ke mana harus bergerak di dunia ini. Kita ‘ada begitu saja’, kita ‘di sana’, di dalam dunia.”[19] Dengan meminjam istilah dan terminologi Heidegger, kelahiran atau kehidupan disebut oleh F. Budi Hardiman sebagai sebuah peristiwa keterlemparan Da-sein[20] di dalam dunia. Hidup manusia, kata Martin Heidegger, adalah suatu kehadiran yang tertuju kearah kematian.[21]

Sedangkan mati, tukas F. Budi Hardiman, “…berarti tidak ada di dunia lagi. Bahasa Indonesia cukup bagus melukiskan itu, yaitu meninggal dunia.”[22] Dengan meminjam kembali istilah dan terminologi Heidegger. Kematian disebut F. Budi Hardiman sebagai momen paling otentik dan eksistensial bagi Da-sein. “Kematian adalah apa yang disebut Jemenigkeit (dalam segala hal milikku).”[23]

Dalam perenungan makna atas kematian tidak berarti lalu kita pasif. Namun sebaliknya, justru kita harus lebih serius menjalani hidup, karena mengingat fasilitas umur yang teramat pendek. Ibarat lomba lari, maka ia akan berpacu karena adanya batas waktu dan garis finish.[24] Memang sejauh ini kita mengenal kematian sebagai sebuah kepastian yang menakutkan, maka dari itu seringkali kita lebih memilih untuk tidak memikirkannya dan berusaha menghindarinya. Dengan alasan agar bisa merasakan kebahagiaan kita lalui setiap saat.[25]

Hal tersebut memang merupakan paradoks dan absurditas penalaran dan perasaan manusia, kematian adalah realitas yang tak terelakkan yang pasti datang dan akan mengakhiri drama kehidupan setiap individu.[26] Namun kenapa justru banyak orang yang memilih kabur dengan mencoba melupakan peristiwa pamungkas dalam hidupnya, juga perlahan menanggalkan “pakaian kemungkinannya yang paling mungkin” (baca: kematian).

Bagi kaum eksistensialis-ateis, kematian adalah suatu derita dan musuh bebuyutan manusia yang terlalu tangguh untuk dikalahkan.[27] Sebut saja Albert Camus—seorang eksistensialis-ateis berdarah Prancis-Aljazair dan mantan sahabat Jean Paul Sartre—yang lumayan kesal ketika menghadapi kenyataan, bahwa “kematian adalah satu-satunya kenyataan”. Secara lebih utuh, demikian Camus meledakkan kekesalannya dalam Mite Sisifus: “.…Kematian tampak sebagai satu-satunya kenyataan. Setelah kematian, acara selesai. Saya juga tidak bebas lagi untuk melestarikan hidup saya, saya adalah budak dan terutama budak tanpa harapan akan revolusi abadi, tanpa perlindungan dari rasa terhina…”[28]

Namun anggapan atau pemaknaan kematian oleh kaum eksistensialis-ateis secara negatif (via Camus). Sebenarnya tidak berlaku secara umum, bahkan bagi kaum eksistensialis-ateis itu sendiri. Misalnya Heidegger[29] yang mengagap kematian justru sebagai “…zenit totalitas Ada Da-sein.”[30] Walaupun secara bersamaan, di sisi lain kematian juga membawa titik nadir ontologis, “…karena Da-sein behenti sebagai Ada-di-dalam-dunia.”[31] Dalam hal ini Heidegger telah memaktubkan secara lengkap dan eksplisit pemikirannya tersebut dalam “sebuah kitabnya yang tak suci”[32] (Being and Time);

When Da-sein reaches its wholeness in death, it simultaneously loses the being of the there. The transition to no-longer-being-there lifts Da-sein right out of the possibility of experiencing this transition and of understanding it as something experienced. This kind of thing denied to actual Da-sein in relation to it self. The death of others, then, is all the more penetrating. In this way, an end of Da-sein becomes “objectively” accessible. Da-sein can gain an experience of death, all the more because it is essentially being-with with others. This “objective” givenness of death must then make possible an ontological analysis of the totality of Da-sein.[33]

Coba mengulik lebih dalam lagi pokok pembahasan di atas, khususnya tentang kelahiran dan kematian. Kelahiran dan kematian—jika boleh saya sebut—ibarat sepasang kekasih yang susah untuk kita pisahkan. Keduanya itu memiliki pola hubungan yang bersifat linear dan kausal. Linear yang saya maksud di sini, yakni kita lahir, hidup dan berada, namun ketiganya berada dalam satu garis keniscayaan yang lempang dan berelasi langsung dengan kematian. Kemudian arti kausal yang saya maksud di sini secara singkat, yakni kita bisa kenal mati dan suatu saat mengalami mati, hal itu sebenarnya hanya bisa disebabkan dan muncul ketika kita terlebih dahulu mengalami hidup. Maka dari itu mati menjadi syah untuk saya—atau kita—artikan sebagai salah satu dari apa yang diakibatkan oleh hidup.

Berangkat dari linieritas dan kausalitas juga uraian yang panjang lebar tentang kelahiran dan kematian. Sebuah jembatan pendekatan yang (mungkin) bisa kita bangun untuk (sedikit) menghubungkan paradoks yang menganga sangat lebar dalam pewacanaan kematian. Mungkin kita bisa mulai dengan cara membangun jembatan yang titik berangkatnya dari penghayatan dan pemaknaan atas kelahiran kita secara intens dan terlibat. Namun di sini saya masih perlu menggaris bawahi perihal kelahiran itu sendiri.

Kelahiran memang telah—bahkan bersifat niscaya untuk—kita alami, tetapi ‘ketelahan’ dan ‘keniscayaan’ tersebut tidak lantas membuat kita telah dan niscaya juga mengenal kelahiran secara an sich sadar, detail dan hakiki bukan? Nah, dalam konteks ini, kita pun lagi-lagi terbentur oleh situasi batas. Walaupun demikian sebuah penghayatan dan pemaknaan tetap masih mungkin untuk kita lakukan.

Penghayatan dan pemaknaan atas kelahiran yang paling mungkin kita lakukan, khususnya penghayatan dan pemaknaan yang secara tidak langsung—namun bisa jadi mengarah langsung—kepada penghayatan dan pemaknaan atas kematian; yakni dengan cara belajar menghayati keberadaan kita sendiri dan keberadaan orang lain (the others) di dunia ini. Terkhusus dalam konteks eksistensi kita yang sifatnya spasial dan temporal; “sekarang aku di sini” (im here right now).

Kematian mendesakkan sebuah pertanyaan dan kesadaran baru akan sebuah misteri agung eksistensi manusia. Ia ibarat lampu kecil di tengah malam yang pekat. Manusia bagaikan laron yang datang mendekati sebersit cahaya lampu di malam yang gelap tak bertepi. Begitu dekat tiba-tiba matanya silau. Lalu menggelepar-lepar. Ada yang lunglai mati kepanasan dan ada lagi yang menerobos gelapnya malam, entah kemana. Terlalu kecil cahaya lampu itu untuk menerangi akbarnya jagad raya ini. Terlalu kecil seekor laron di banding luasnya hamparan langit dan bumi dengan seluruh isinya. Semua orang lupa akan peristiwa kelahirannya. Tetapi setiap manusia sadar dan dibayangi ketakutan datangnya saat kematian.[34] Soren Kierkgaard dikatakan oleh G. Budi Subanar, SJ, memiliki pandangan tersendiri tentang seluk beluk keberadaan diri dan kematian;

Kermatian adalah pengalaman yang tidak terelakkan. Itulah saat ketiadaan. Saat ketika terjadi kegagalan estetis untuk menjadikan diri seseorang sebagaimana dicita-citakan, yakni menjadi dirinya yang paling mendasar untuk meraih kedirian sebagai suatu pribadi adalah ketika orang menjadi sadar akan dimensinya yang paling dalam atas eksistensinya yang mengontrol dan mengarahkannya, untuk hadir sebagai seseorang di dunia nyata. Kegagalan untuk menemukan hal yang permanen di dalam dirinya maupun di luar dirinya akan membawa kehancuran. Ketika orang hanya mengikatkan diri pada masa mudanya dan masa-masa sebelumnya, ia akan mencari berbagai variasi untuk keluar dari kebosanan. Ia berusaha menghindarinya. Padahal, pada kedalamannya manusia menginginkan yang abadi, yang bermakna. Ketika tidak bisa dimilikinya, semua menjadi hancur. Sehingga ketiadaan itu menjadi hal yang tidak terhindarkan.[35]

Mungkin memang sudah menjadi faktisitas ontologis, bahwa keduanya (kelahiran dan kematian) itu adalah dua peristiwa yang bersifat niscaya. Namun sering kita elakan dan lupakan, bukannya keniscayaan atas peristiwa tersebut kita jadikan renungan, sedikitnya dan setidaknya agar kita lebih mawas dan sadar dengan peristiwa yang kita alami begitu saja, melekat, bahkan mengatasi kita. Dengan nada pesimis dan melankolis, pada zaman kita hidup yang katanya modern dan canggih ini. Sepertinya memang lebih asyik mengejar uang dan jabatan, daripada merenungkan makna lahir dan mati, yang mungkin bisa membuat kita insomnia.***

Catatan Akhir:


[1] Didapat dari, static.scribd.com/docs/37se7ug52eyql.swf?INITIAL_VIEW=width -, [akses: 12 Juli 2008]

[2] Lih. Komaruddin Hidayat, Psikologi Kematian Mengubah Ketakutan Menjadi Optimisme, (Bandung: Hikmah, 2006), hlm. 13

[3] Lih. Martin Heidegger, Being and Time, trans. Joan Stambaugh, (New York: State University of New York Press, 1996), hlm. 238

[4] Lih. Martin Heidegger, Zein und Zeit, paragraf 50, hlm. 251, dalam F. Budi Hardiman, Heidegger dan Misitik Keseharian. Sebuah Pengantar Menuju Zein und Zeit, (Jakarta: KPG, 2003), hlm. 91

[5] Lih. Muhammad Al Fayyadl, Filsafat Kematian (Philosophy of Death): Sebuah Hantaran Metodologis Awal, (makalah tidak diterbitkan, 2008), hlm. 2 —Makalah ini pernah disampaikan penulisnya sebagai pengantar diskusi tentang kematian di selasar Fakultas Filsafat UGM Yogyakarta, 25 Mei 2008. Makalah ini mungkin bisa disimak dengan menelusuri: al-fayyadl.wordpress.com

[6] Ibid., hlm. 1 —Kiranya menarik untuk menyinggung bagaimana pemikiran filosofis tentang kematian pada ribuan abad lampau via Epicurus. Perlu kita tahu sebelumnya bahwa Epicurus adalah seorang materialis, namun bukan determinis. Ia mengikuti Demokritus dalam meyakini bahwa dunia terdiri dari atom-atom dan ruang hampa; namun tidak seperti Demokritus, ia tidak meyakini bahwa atom-atom senantiasa dikendalikan sepenuhnya oleh hukum alam. Berdasarkan atas pandangannya tersebut. Maka ia menganggap, bahwa sesudah mati, jiwa pun musnah, sedangkan atom-atomnya, yang tetap hidup tersebut, tidak dapat lagi merasakan sensasi, sebab atom-atom itu tidak lagi berhubungan dengan tubuh. “Kematian,” menurut Epicurus, “tidak menjadi masalah bagi kita; sebab sesuatu yang telah musnah tidak lagi memiliki sensasi dan sesuatu yang tidak memiliki sensasi tidak menjadi masalah bagi kita.” Penjelasan saya tentang pemikiran Epicurus tersebut bisa dilihat lebih lahjut, dalam Bertrand Russell, Sejarah Filsafat Barat. Kaitannya dengan Kondisi Sosio-Politik Zaman Kuno Hingga Sekarang, terj. Sigit Jatmiko, dkk, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004), hlm. 336-337)

[7] Ibid., hlm. 2

[8] Lih. Ernest Becker, The Denial of Death, (New York: The Free Press, 1973), hlm. ix. Melalui G. Budi Subanar, SJ, Kematian: Teror Sekaligus Harapan, dalam Jurnal Ilmu Humaniora Baru RETORIK, (Program Magister Ilmu Religi dan Budaya, Universitas Sanata Dharma, Volume I – No. 3 November 2002), hlm. 114

[9] Lih. Muhammad Al Fayyadl, Op.cit., hlm. 2

[10] Simak kata-kata Stalin tersebut, dalam kuratorial yang ditulis oleh Enin Supriyanto, Kollwitz, Kematian dan Kita, dalam katalog Trienal Seni Grafis Indonesia 2003 (Jakarta: Bentara Budaya, 2003), hlm. 69

[11] Lih. Muhammad Al Fayyadl, Loc.cit., hlm. 2-3

[12] Ibid., hlm. 3

[13] Ibid.

[14] Lih. Thomas Hidya Tjaya, Kierkegaard dan Pergulatan Menjadi Diri Sendiri, (Jakarta: KPG, 2004), hlm. 112

[15] Lih. The Journals of Kierkegaard, trans. Alexander Dru (London: Collins, 1958), hlm. 44, dalam Ibid.

[16] Lih. Jean Paul Sartre, Eksistensialisme dan Humanisme, terj. Yudhi Murtanto, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002), hlm. 41

[17] Ibid., hlm. 44-45

[18] Aforisme Confusius tersebut saya kenal via Muhammad Al-Fayyadl; yakni pada saat Al-Fayyadl mencupliknya di tengah jalannya diskusi pengantar tentang kematian di selasar Fakultas Filsafat UGM Yogyakarta, 25 Mei 2008

[19] Lih. F. Budi Hardiman, Heidegger dan Misitik Keseharian. Sebuah Pengantar Menuju Zein und Zeit, (Jakarta: KPG, 2003), hlm. 48

[20] Konon dalam bukunya Heidegger tak pernah menggunakan kata ‘manusia’ untuk menjelaskan konsep manusia. Karena istilah ‘manusia’ secara konvensional sering dimaknai sebagai keumuman suatu spesies. Kata Da-sein yang dalam bahasa Jerman berarti ‘ada-di sana’ dipilih Heidegger agar lebih eksplisit dan mengkonteks dalam wilayah ‘manusia yang ada-di sana’. Atau dalam hal ini, Da-sein juga boleh kita sebut sebagai nama baru untuk manusia.

[21] Lih. Komaruddin Hidayat, Op.cit., hlm. 78-79

[22] Lih. F. Budi Hardiman, Op.cit., hlm. 55

[23] Ibid., hlm. 89

[24] Lih. Komaruddin Hidayat, Loc.cit., hlm . 84

[25] Ibid., hlm. 140

[26] Ibid., hlm. 140-142

[27] Ibid., hlm. 116

[28] Albert Camus, Mite Sisifus Pergulatan dengan Absurditas, terj. Apsanti D., (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1999), hlm.71

[29] Sebenarnya kurang tepat menggolongkan Heidegger sebagai seorang eksistensialisme-ateisme karena selama ini masih menjadi pro-kontra. Karena Heidegger tidak pernah secara langsung dan lugas menyankal adanya Tuhan. Namun penggolongan yang saya lakukan tersebut berdasarkan dari gaya berfilsafatnya yang lebih bertolak pada kemampuan manusia itu sendiri atau cenderung antroposentris, khususnya dalam menghayati dan menyingkap sekelumit pertanyaan tentang Ada dan Waktu.

[30] Lih. Martin Heidegger, Op.cit., paragraph. 46, hlm. 236-237, dalam, F. Budi Hardiman, Op.cit., hlm. 88

[31] Ibid., dalam Ibid.

[32] Kata-kata tersebut saya pinjam dari sebuah judul buku kumpulan cerpennya Phutut E. A., Sebuah Kitab Yang Tak Suci, (Yogyakarta: sumbu, Desember 2001)

[33] Lih. Martin Heidegger, Op.cit., hlm. 221

[34] Lih. Komaruddin Hidayat, Op.cit., hlm. 143-14

[35] Lih. G. Budi Subanar, SJ, Op.cit., hlm. 116

Dipublikasi di Tulisan Ilmiah | Tinggalkan komentar

Memorabilia

seingatku

kamu

adalah

ingatanku.

Jetis, 4 Januari 2009

Dipublikasi di Bagasi Sajak | Tinggalkan komentar

Perempuan Perajut Halilintar

garismu yang terus meluncur tanpa putus.

seperti hujan Januari yang tak mau dipatahkan.

“tanda apa yang sebenarnya sedang kau kirimkan?” aku bertanya padamu,

yang dengan sangat angkuh menahan beberapa pesan pendek yang kukirim.

tapi kau hanya tersenyum.

kemudian diam

: untuk kembali merajut halilintar!

Jetis, 2 Januari 2009

Dipublikasi di Bagasi Sajak | 1 Komentar

Sesobek Catatan

: Kepala yang Terpenggal Kenangan

karena aku sudah tidak terlalu berani untuk menghadirkanmu di dalam kepalaku. maka izinkan aku untuk mengisi hidupku dengan ketersengalan gambar-gambar yang tak pernah bisa bicara padaku.

mengingatmu hanyalah kembali menyusun masa lalu dengan banyak dendam dan sedikit harapan. aku benci aku yang tak pandai membaca. aku benci aku yang tak pandai berkata-kata.

waktu itu… waktu itu… kesempatan hanya kuanggap debu. Dan keraguan adalah jejak tercetak tebal! tebal!

Yogya, 5 Nov 08’

00.31 WIB

Dipublikasi di Bagasi Sajak | Tinggalkan komentar

Pecinta Manja

lukaku yang dulu

sudah selesai dijahit ibu.

dan sekarang, aku sudah siap

untuk menerima luka baru.

Jetis, 24 Nov 08’

Dipublikasi di Bagasi Sajak | Tinggalkan komentar

n-a-m-a-m-u

: D

dingin.

menggigil.

aku.

di depanmu.

maaf…

ini karena aku sangat mencintaimu.

maka…

aku mengeja n-a-m-a-m-u dengan terbata-bata.

-Jogja, Nov 08’-

Dipublikasi di Bagasi Sajak | Tinggalkan komentar

Membaca “Kematian”

: Sebuah esai untuk editorial Jurnal KacaMata Vol. 1, 2008

Mungkin hanya dalam keadaan sunyi dan sendiri. Perenungan atas “kematian”, seringkali menyelinap masuk, secara diam-diam, ke dalam hati dan pikiran kita. Dalam keadaan tersebut kita akan tergetar, sebab dipaksa atau diacukan pada sebuah kenyataan yang secara mutlak tidak bisa kita hindari. Di dunia ini, secara empiris, keberadaan manusia pasti akan berakhir atau menemui akhir. Namun gerangan apa yang sering merasuki kedirian manusia, kemudian menyerabutnya dari perenungan eksistensial seperti kematian?

Jawabannya bisa jadi adalah pola pikir dominan manusia saat ini yang pragmatik dan positivistik. Secara tidak langsung, ternyata meredusir, bahkan—pada tingkat yang ekstrim—menggerus habis pergesekan manusia dengan hal-hal yang sifatnya metafisik. Taruhlah jawaban tersebut adalah jawaban yang mengandung kebenaran. Sehingga menjadi wajar, jika tidak sedikit dari kita yang tergagap ketika membaca narasi—apalagi metanarasi—dari kematian. Walaupun sejauh ini, kematian telah kita ketahui secara empiris sebagai sebuah peristiwa yang harus dijalani manusia begitu saja (taken for granted).

Dalam diskursus filsafat, secara luas, “kematian” mengandung dua makna yang berbeda, yakni (1) kematian yang berarti sebuah fakta, (2) kematian yang berarti sebuah kata. Untuk makna yang pertama, yakni kematian sebagai sebuah fakta, lebih mengacu kepada titik pijak antroposentris. Misalnya: anggapan bahwa kematian adalah sebuah titik nadir yang harus kita terima begitu saja. Sedangkan makna yang kedua, yakni kematian yang berarti sebuah kata, lebih mengacu kepada penggunaannya secara luas sebagai kata atau metafora dalam sebuah kesimpulan filsafat. Misalnya: salah satu ungkapan Nietzsche yang terkenal: “Tuhan telah mati!”, dalam salah satu periode pemikirannya.

Belakangan ini, diskursus filsafat mungkin lebih didominasi oleh riuhnya perbincangan seputar isu-isu post-modern, seperti globalisme dan kapitalisme. Sebenarnya kematian pun termasuk, namun dalam konteks tersebut, kematian lebih mengacu kepada maknanya yang kedua, yang berarti sebagai sebuah kata. Dan kematian yang mengacu kepada maknanya yang pertama, yakni sebagai sebuah fakta tersebut. Relatif sunyi dan marginal, jika tolak ukurnya adalah diskursus filsafat yang sedang riuh atau dominan.

Dalam edisi perdananya ini, Jurnal Filsafat “Kacamata” sengaja mengangkat tema “kematian”—dalam artinya yang luas atau dengan kata lain, dalam konteks dua makna berbeda yang dikandungnya—dan meletakannya dalam diskursus filsafat. Keinginan atau kegelisahan untuk meletakkan kematian dalam diskurusus filsafat, mungkin semata-mata hanyalah keinginan atau kegelisahan beberapa orang saja—taruhlah para penulis di dalam jurnal ini. Sehingga ketika keinginan semacam itu sudah benar-benar terwujud, kesan elitis dan sektoral dengan mudah akan muncul. Namun siapa tahu, bahwa diskursus semacam ini rupanya dinanti, karena diam-diam menjadi kegelisahan banyak orang. Dan secara tidak langsung, pun berarti memiliki sifat global dan universal.

Ada sembilan tulisan yang menghiasi jurnal. Yang masing-masing terhimpun dalam empat fragmen (Diskursus, Hukum, Tuhan dan Manusia, Refleksi). Empat tulisan yang berjudul Mencandra Kematian sebagai Pengalaman: Sebuah Upaya Mencari Pemaknaan Baru (Muhammad Tijany), Keberadaan yang Berjalan Menuju Kematian (Suluh Pamuji W.), Bayang-Bayang Kematian (Jantan Putra Bangsa), Raibnya Palung Kodratisme Kehancuran (Rifqi Muhammad). Terhimpun dalam fragmen “Diskursus”. Kemudian tulisan M. Nasrudin yang berjudul Hak Menghadirkan Kematian: Kritik Pidana Mati dalam Filsafat Hukum Islam, sendirian menghiasi fragmen “Hukum”. Pada fragmen berikutnya, yakni “Tuhan dan Manusia”, tulisan Qustan Abqary yang berjudul Pertentangan Diametral yang Tidak Memadai: Silang Kuasa antara Tuhan dan Manusia Mengenai Kematian dan tulisan M. Najib Yuliantoro yang berjudul Teologi Masyarakat Modern: Merangkai, Sekaligus “Mengasingkan” Tuhan? menghuni fragmen tersebut. Dan “Refleksi” sebagai fragmen terakhir, ditutup oleh tulisan Muhammad Baihaqi Lathif, Mati yang Terpatri dan Brigitta Isabella, Upacara Kematian dan Kematian Masyarakat Modern.

Tentunya pada edisi perdana Jurnal Filsafat “Kacamata”, Kehadirannya masih berlubang di sana-sini, baik dari segi bentuk maupun isi. Maka dari itu, sumbang saran dan kritik positif dari sidang pembaca sangat kami nanti. Sebagai penutup yang manis, kami mengucapkan: selamat membaca “kematian”…***

Dipublikasi di Bagasi Esai & Artikel | 1 Komentar