Menuju Diskusi Sistematis Tentang Estetika Marxis

Apa Itu Estetika?

Secara etimologis, kata “estetika” mengakar pada kata Yunani, yakni aesthetikos yang mengandung arti ‘mengamati dengan indera’ (aisthanomai). Pada rumpun bahasa yang lain, kata estetika juga terkait dengan kata aesthesis, yang artinya sepadan dengan ‘pencerapan’ (perception). Sebuah irisan semantik yang bisa kita dapatkan dari akar kata “estetika”: aesthetikos dan aisthanomai.[2] Terletak pada titik tekannya terhadap indera. Atau uraian lebih jelasnya, yakni sebuah pengamatan yang terkait erat dengan pengalaman inderawi dan perasaan-perasaan yang kemudian menyusul atau timbul. Namun dalam perkembangannya, definisi tentang estetika berkembang sedemikian rupa, seiring dengan semangat zaman, filsafat dan ilmu yang melingkupinya.

Estetika merupakan cabang filsafat yang relatif lebih muda daripada cabang-cabang filsafat yang lain. [3] Hal tersebut bisa kita toleh dalam skema umum disiplin filsafat. Estetika merupakan salah satu cabang dari axiologi (filsafat nilai)—cabang yang satunya adalah etika. Kemudian pokok kajian estetika adalah tentang keindahan secara keseluruhan. Dalam konteks ini, keseleruhan itu meliputi hakikat keindahan, prinsip-prinsip keindahan, fungsi keindahan dan relasi keindahan terhadap entitas lain yang melekat secara eksternal.

Namun secara khusus, estetika dibedakan dari filsafat seni. Dalam objektivitas tertentu, kita memang perlu menyepakati perlunya estetika dan filsafat seni dipisah sebagai disiplin filsafat yang berbeda. Namun secara keseluruhan, implikasi atas pemisahan keduanya merupakan kesusahan tersendiri bagi kita untuk mencari pemahaman yang utuh mengenai estetika. Oleh karena, filsafat seni tetaplah entitas yang terlingkupi oleh estetika. Sehingga penempatan keduanya sebagai kajian yang dari segi formal dan materialnya benar-benar terpisah. Hanya akan menjadi dua disiplin parsial yang berpotensi untuk tidak bisa disambung lagi atau dicari relasinya. Maka dari itu, pengertian estetika di sini, adalah estetika yang melingkupi dan filsafat seni.

Selanjutnya, berkenaan dengan ruang lingkup Estetika. Secara umum,  kurang lebih ada tiga ranah yang melingkupi. [4] Pertama, ranah filosofis: mengkaji tentang corak dasar seni, norma dan nilai seni. Kedua, ranah psikologis: mengkaji mengenai pengamatan, tanggapan dan aktivitas penciptaan seni. Ketiga, bidang sosiologis: mengkaji tentang hubungan antara sarana, lingkungan, masyarakat dan seni.

***

Bagaimana Pemikiran Karl Marx? Dan apa itu Marxisme?

Materialisme merupakan corak yang sangat kental dalam pemikiran Karl Marx. Namun materialisme Marx tidak sama dengan materialisme abad ke-18. Khususnya materialisme yang dibawa oleh Ludwig Feurbach. Dalam German Ideology, Marx membubuhkan kritiknya perihal kecenderungan materialisme abad ke-18. Menurut Marx, materialisme abad ke-18 adalah materialisme tradisional yang masih menganggap pengindraan adalah pasif dan cenderung menekankan tentang adanya relasi yang kuat antara aktivitas dan objek. Marx menganggap pandangan semacam itu hanya membuahkan kontemplasi yang pasif dan abstraksi yang tidak nyata. Sebagai gantinya, menurut Marx, benda-benda merupakan bagian dari proses tindakan subjek yang aktif.[5] Sehingga implikasinya terhadap kontemplasi menjadi semakin aktif dan terhadap abstraksi menjadi semakin nyata.

Namun materi itu sendiri tidak dimengerti Marx secara atomistik. Yang pengertiannya merujuk pada sesuatu yang dehuman. Akan tetapi, materi justru dimengerti Marx sebagai entitas yang bersifat human. Yang pengertiannya merujuk langsung pada hubungan manusia dengan cara produksinya yang spesifik. Atau dalam pengertian yang lugas dan terbatas, adalah cara manusia mencari nafkah.[6] Walaupun demikian, pemikiran Marx tidak lantas bisa kita artikan secara gegabah sebagai resep-resep untuk mencari nafkah dengan baik. Sebab relasi antara manusia dengan cara produksinya dijelaskan dari abstraksi yang kompleks. Dan pada kapitalisme tahap lanjut, relasi antara manusia dan cara produksinya juga semakin kompleks dan butuh analisis lebih lanjut. Hal itu tentu saja belum mungkin untuk saya lakukan saat ini, di sini.

Selain materi, konstruksi pemikiran Marx sering pula dianggap sebagai bangunan terakhir dari sistem besar filsafat Hegel. Anggapan tersebut tidak salah juga. Sebab Marx memang merekonstruksi sistem dialektika Hegel secara reversional. Namun, reversi tersebut pada tataran yang lebih dalam. Menjadikan dialektika Marx sangat berbeda dengan Hegel. Perbedaan dialektika keduanya, secara krusial, terletak pada kekuatan penggerak awalnya. Dialektika Hegel bergerak dari idea/roh dan berpuncak pada idea absolut/roh absolut. Sedangkan dialektika Marx bergerak dari materi dan berpuncak pada terhapusnya kelas-kelas dalam masyarakat.[7] Mengenai perbedaan dialektikanya dengan dialektika Hegel tersebut. Secara jelas diplokamirkan Marx dalam kata pengantar susulan untuk edisi kedua Kapital jilid I. Marx menulis sebagai berikut:

Metode dialektika saya, pada dasarnya, tidak hanya berbeda dari metode Hegelian, melainkan ia secara langsung berlawanan dengan metode Hegel. Bagi Hegel, proses berfikir, yang bahkan ditransformasinya menjadi suatu subjek independen, dengan nama Ide, adalah pencipta dari dunia nyata, dan dunia nyata hanyalah penampilan eksternal dari Ide itu. Bagi saya sebaliknya, yang ideal itu tidak lain dan tidak bukan hanya dunia material yang dicerminkan oleh pikiran manusia, dan diterjemahkan ke dalam bentuk-bentuk pikiran. […] Dengannya (baca: dialektika Hegel) berdiri di atas kepalanya. Kita harus membaliknya, agar kembali ke atas kakinya, agar dapat menemukan inti rasional yang terbalut oleh kulitnya yang mistikal.[8]

Pembalikan tumpuan gerak dialektika dari kepala (idea) kepada kaki (materi). Berimplikasi pada alih-orientasi-gerak dialektika pada ranah yang vertikal ke ranah yang horizontal. Dengan kata lain, Marx secara krusial telah membawa dialektika keluar dari lingkup filsafat idealistik yang transenden menuju filsafat materialistik yang imanen. Maka dari itu, kemudian Engels mengenalkan dialektika Marx sebagai dialektika materialisme.

Selanjutnya, materi memang entitas yang seolah menjadi sentrum dalam pemikiran Marx. Sebab Marx sendiri tidak hanya meneguhkan kekuatan materi sebagai penggerak dialektikanya. Namun juga menempatkan materi sebagai kerangka sentral dalam membaca gerak sejarah secara spesifik. Pembacaan sejarah dengan pendekatan semacam itu, jamak dikenal dengan pendekatan historis materialisme.

Menurut F. Budi Hardiman, Istilah “sejarah”—atau historis—didapatkan Marx dari asumsi-asumsi Hegel tentang sejarah sebagai proses diaektis. Hanya saja, istilah sejarah dalam filsafat Marx kemudian mengandung pengertian lain. Oleh karena—ingat dialektika materialisme—sejarah bukan lagi perwujudan dari ide/roh, melainkan perjuangan kelas-kelas yang tertindas.[9]

Sebelumnya, jika dengan dialektika material, Marx bisa mengkritisi kontradiksi-kontradiksi dialektik yang menurutnya tidak terjadi dalam pikiran (baca: dialektika ide/roh), tapi dalam kehidupan nyata atau kehidupan material. Di sini, dengan historis materialisme, Marx kemudian juga bisa mengkritisi kontradiksi masa depan kapitalisme dalam garis sejarah yang pernah dan sedang diretas oleh kapitasme itu sendiri.

Menurut Marx, dalam sistem kapitalis, kontradiksi antara kapitalis yang mengeksploitasi dengan buruh yang dieksploitasi bersifat selalu ada. Hal ini akan menggiring pada terjadinya suatu perubahan yang revolusioner. Namun perubahan tersebut tidak terjadi begitu saja dan berhasil begitu saja. Sebab Marx sendiri tidak percaya kalau pemberontakan buruh tersebut bisa efektif, sebab sebuah pemberontakan yang berhasil haruslah menghendaki perubahan dalam kekuatan-kekuatan produksi.[10]

Klaim umum yang mendasari historis materialisme Marx adalah bahwa cara orang menyediakan kebutuhan material, mendeterminasi atau mengkondisikan relasi antara yang satu dan yang lain dalam praktik dan ikatan sosial keseluruhan.[11] Berdasar atas hal tersebut, dalam konteks yang lebih lanjut, Marx kemudian memperkenalkan bangunan teorinya yang lazim kita kenal dengan basis dan suprastuktur.

Secara sederhana basis bisa kita artikan sebagai bangunan bawah[12] yang berisi relasi-relasi ekonomi secara keseluruhan. Misalnya saja, relasi buruh dan majikan, relasi alat produksi dan modal, relasi tenaga kerja dan upah, dan masih banyak lagi. Yang jelas,masing-masing relasi saling berkait satu sama lain. Bahkan, relasi antara buruh dan buruh atau pemodal dengan pemodal sangat memungkinkan untuk terjadi di dalam basis. Selanjutnya, jika basis kita artikan sebagai bangunan bawah. Suprastruktur bisa kita artikan sebagai bangunan atas[13] yang berisi relasi-relasi yang bersifat non-ekonomi, seperti institusi sosial, ideologi, politik, hukum, filsafat, kebudayaan dst.

Dalam kerangka pembacaan F. Budi hardiman yang mengidentikkan materi dengan basis dan mengidentikkan kesadaran dengan suprastruktur. Kemudian merujuk pada asumsi Marx: “bahwa materilah yang mendeterminasi kesadaran”.[14] Maka dalam konteks basis dan suprastruktur, kesimpulannya menjadi sebangun dengan asumsi marx tentang materi dan kesadaran. Dengan demikian, basislah yang mendeterminasi suprastruktur.

Sampai sini, saya telah mengurai secara ringkas tiga konseps kunci—(materialisme, dialektika, sejarah)—dalam pemikiran Marx yang berbeda namun bertatutan secara internal. Kemudian jawaban atas pertanyaan tentang apa itu Marxisme? Kurang lebih seperti yang diterangkan Njoto dalam bukunya Marxisme: Ilmu dan Amalnya. Demikian tulisnya: “Materialisme adalah konsepsi filsafat Marxis, sedang dialektika adalah metode-nya”, sedangkan, “materialisme historis adalah penerapan atau pengenaan mate­rialisme dialektik ke alam sejarah manu­sia”.[15] Selanjutnya, menjadi perlu untuk menempatkan dialektika, materialisme dan sejarah sebagai kerangka atau pendekatan utama dalam memahami pemikiran Marx tentang estetika dan perkembangan estetika Marxis secara keseluruhan.

***

Apa itu estetika Marxis?

Perlu digaris bawahi! Karl Marx tidak pernah mengeksplorasi pemikirannya dalam medan estetika secara spesifik. Kalaupun kemudian kita mengenal estetika Marxis sebagai fenomena diskursus yang berkembang sedemikian rupa. Hal tersebut bisa kita maknai sebagai upaya lanjut dari para Marxis untuk mengafirmasi pemikiran Marx di wilayah estetika. Marxis yang melakukan upaya itu sering disebut “Marxis estetis”.

Tentu saja, upaya para Marxis estetis tersebut, mungkin belum pernah dibayangkan oleh Marx sendiri. Sebab pemikiran Marx tentang estetika hanyalah berupa kepingan-kepingan yang tersebar dalam beberapa karya tulisnya yang tema besarnya bukanlah estetika. Sehingga apa yang dilakukan oleh para Marxis estetik secara khusus adalah sistematisasi, formulasi dan rekonstruksi atas kepingan-kepingan pemikiran Marx tentang estetika.[16] Dengan demikian, jawaban atas apa itu estetika Marxis, kurang lebih identik pada upaya tersebut.

Sekedar menyebut beberapa nama yang penting dan menonjol diantara sekian banyak para Marxis estetis. Tentu saja kita tidak boleh melupakan nama-nama seperti; Georg Lukacs, Bertold Brecht, Tiga pentolan Mazhab Frankfurt (Walter Benjamin, Theodor W. Adorno, Herbert Marcuse), juga beberapa Marxis Estetik di Rusia sebelum dan sesudah abad ke-20 (V. G. Bellinsky, N.G. Chernyshevsky sampai Leon Trotsky). Namun pembicaraan atas pemikiran Marxis estetis tersebut kita tunda dulu. Sebab secara umum, beberapa nama yang saya sebut di atas. Antara yang satu dan yang lain menggunakan sudut pandang atau tafsir Marxis yang plural secara internal maupun eksternal. Sehingga perdebatan yang satu dan yang lain, melingkar-lingkar dalam dimensi dan konsentrasi permasalahan yang—memang dan atau menjadi—kompleks.

Bahkan lebih jauh dari itu, beberapa Marxis estetis ada yang mengembangkan—di sisi lain mungkin mencemari atau mereduksi—pemikiran Marx tentang estetika. Dengan cara mengafirmasi unsur-unsur pemikiran yang secara jelas ditolak Marx. Misalnya, unsur Hegeleianisme yang bercokol dalam estetika Marxisnya Georg Lukacs. Atau unsur mesianistik dalam estetika Marxisnya Walter Benjamin. Nah, fenomena semacam itu harus kita lihat dalam konteks tertentu dan kerangka yang memadai. Singkatnya, kita butuh mencari latarnya sebelum sampai pada halaman belakangnya (baca: hoistorisitas).

Maka dari itu, yang pertama-tama kita lakukan bukanlah langsung masuk ke dalam rimba perdebatan para Marxis estetis. Melainkan pertama-tama, kita perlu mengupayakan sebuah pemahaman langsung yang sifatnya fondasional. Dengan kata lain, kita harus meninjau langsung kepingan-kepingan pemikiran estetika yang ditinggalkan Marx. Oleh karena, bagaimanapun juga kepingan-kepingan tersebut setidaknya masih mungkin untuk kita lacak. Dan dalam konteks yang terbatas, bisa kita layakkan sebagai fondasi yang sangat awal untuk memasuki rimba perdebatan para Marxis estetis yang berkembang sampai sekarang.

Hanya saja pertanyaannya kemudian, karena pemikiran Marx tentang estetika dan seni berupa kepingan-kepingan. Lalu kepingan pemikiran yang manakah yang paling layak untuk kita tempatkan sebagai fondasi yang sangat awal? Atau pertanyaan yang lebih praktis, kepingan pemikiran Marx dalam karyanya yang manakah yang paling memadai untuk kita tinjau dan pahami lebih dulu?

***

Menurut Henri Arvon dalam bukunya yang berjudul Estetika Marxis. Konon, Marx tetap sempat meninggalkan dua karya tulis tentang estetika yang relatif spesifik. Yakni, pertama; The Holy Family—ditulis bersama Engels—yang berisi tentang kritik Marx terhadap komentar yang ditulis oleh seorang pengikut Hegel yang bernama Szeliga tentang Mysteries of Paris karya Eugène Sue. Kemudian yang kedua adalah dokumen korespondensi antara Karl Marx dan Ferdinand Lassale—yang bernuansa kritis dan terkenal pada masanya—tentang drama yang ditulis Lassale: Franz von Sickingen.[17] Alih-alih menempatkan buku ini sebagai saran untuk mengawali upaya pembangunan fondasi awal. Informasi dari Henri Arvon tersebut penting untuk direspon lebih lanjut. Sebab dalam konteks tertentu, merupakan jawaban praktis dari pertanyaan yang saya ajukan di atas. Maka, secara lebih lanjut, kiranya perlu saya rangkumkan uraian Arvon tentang dua karya tersebut.

Dalam The Holy Family, Arvon menganggap kritik sastra Marx lebih bersifat sosial. Marx menuduh Eugène Sue telah melancarkan serangan yang bersifat mengecoh ketidakadilan sosial, karena Sue sebenarnya tidak menyerang masryarakat kapitalis itu sendiri. Namun, kritiknya pada Sue, di pihak lain tidak terbatas pada eksterioritas Mysteries of Paris. Dengan demikian, mungkin saja kita menganggap sikap Marx ambivalen—yang berbeda dengan kontradiktif—terhadap karya Sue tersebut.

Anggapan tersebut wajar saja. Sebab menurut Arvon, pertama-tama Marx tidaklah terlepas dari cara hidup borjuis—ayahnya seorang pengacara—bahkan ditengah-tengah kemiskinan yang ekstrem. Kemudian dalam masa pubernya, Marx melakukan bunuh diri kelas dengan cara mengadopsi cara berpikir anti-borjuis sampai akhir hayatnya. Hal tersebut terlihat jelas dalam karya-karya sastra, tak terkecuali karya Eugène Sue. Namun sikap anti-borjuis yang dianut Marx tidak membuatnya seperti pendekar mabuk yang menebas semua karya sastra dari kalangan borjuis. Sebab di sisi lain, Marx sangat menghargai gaya para penulis dari tradisi agung (the great tradition) seperti Aeschylus, Goethe, Shakespeare, Scott dan Balzac. Walaupun di pihak lain, Marx juga tetap menilai karya sastra dari sikap politik penulisnya. Hal tersebut kemudian membuat Marx mendukung para penyair seperti Freiligrath dan Georg Herwegh yang tidak istimewa, tapi syair-syairnya berisi perjuangan terhadap kebebasan.[18]

Sedangkan, Menurut Arvon, kritik Marx yang tertuang dalam korespondensinya dengan Lassale tentang dramanya Franz von Sickingen lebih bersifat sastrawi. Kritik Marx—dan juga Engels secara bersamaan—terhadap drama Lassale tersebut. Membuat Marx berurusan dengan konsep tokoh utama dan kebutuhan-kebutuhan estetik yang merujuk pada pemenuhan kepentingan historis pada masa itu.[19] Kemudian dalam drama karya Lassale tersebut, dinilai Marx sebagai drama yang tidak berpusat kepada takdir personal tokoh utama, tetapi pada takdir yang terberi dari semangat objektif, yakni oleh perjuangan kelas yang menjebaknya pada keterpaksaan yang mau tidak mau membuatnya berpihak pada perjuangan ideologi tertentu. Lassale menanggapi komentar Marx atas dramanya tersebut secara klarifikatif. Demikian ujar Lassale, “Franz von Sickingen memang bukan merupakan peristiwa sejarah yang terisolasi. Melainkan sebuah indikasi, antisipasi dan penjelasan atas kegagalan Revolusi 1848.”[20]

Kemudian Marx—sekaligus Engels—menyanggah lagi pernyataan Lassale tersebut. Menurut Marx, drama Lassale tersebut bukanlah contoh dari tragedi revolusi dan hasil kerja dari semangat objektif yang hebat. Sebab, Franz von Sickingen secara internal sudah mengandung cacat subjektif yang elemennya coba dihilangkan oleh Lassale dibalik kelimun yang kaku dan artifisial. Menurut Marx, subjek sebenarnya dalam drama Lassale adalah tindakan seorang individu yang berusaha untuk cerdas dalam menanggapi peristiwa-peristiwa besar dengan sebuah kepercayaan bahwa seorang individu tersebut dapat membentuk sejarah hanya lewat kebijakan realitisnya yang sinis.[21] Dalam konteks tersebut, Franz von Sickingen, tanpa mempertimbangkan fakta-fakta apapun tentang sejarah objektif. Merupakan tokoh yang begitu menginginkan mahkota kerajaan dengan cara mengkhianati bangsanya, teman-temannya juga pada akhirnya adalah dirinya sendiri secara diam-diam. Dengan demikian, Franz von Sickingen sebagai drama yang oleh Lassale disebut sebagai sebuah indikasi, antisipasi dan penjelasan atas kegagalan revolusi 1848. Akhirnya dipandang Marx, sebagai drama yang isinya tidak lebih dari sekedar masalah psikologis dan moral yang sederhana.[22] Singkatnya, drama Franz von Sickingen gagal merepresentasikan kerangka dan tujuan yang digadang-gadang oleh Lassale sendiri.

Selain itu, menurut Marx, terdapat faktor lain yang tak terelakkan yang membuat drama Lassale tersebut gagal. Meskipun Lassale telah mengadopsi penafsiran etis terhadap sejarah. Lassale telah gagal untuk memunculkan rekonsiliasi diantara hal yang subjektif dan objektif. Mirip seperti yang tersirat dalam idealisme Schiller dan Hegel. Dalam konteks tersebut, Lassale cenderung melakukan penggeseran terhadap dialektika tragis ke arah sejarah itu sendiri pada satu pihak, dan di lain pihak, melakukan penggeseran ke arah tindakan individual tokoh bernama Sickingen. Implikasi akhir dari penggeseran dialektika tragis tersebut adalah kebuntuan yang dinaungi nihilitas harapan. Dengan lain perkataan yang lebih terang, drama Lassale tersebut membuat kita percaya bahwa kekalahan suatu gerakan sosial adalah niscaya. Oleh karena Lassale sudah menganggap revolusi itu sendiri memiliki cacat yang fatal secara internal. Jadi manifestasi drama Franz von Sickingen dalam konteks apapun, tidak bisa benar-benar dianggap drama yang tragis. Sebab peristiwa yang dialami Sickingen merupakan peristiwa yang dikehendaki oleh sejarah dan diterima Sickingen dengan pasrah.[23]

Maka dari itu, Marx—sekaligus Engels—menolak untuk menyebut Sickingen sebagai tokoh utama.  Kerangka penilaian Marx tentang ketokohan Sickingen yang menurut Marx tidak utama tersebut. Secara langsung merujuk pada teorinya—yang disusun bersama Engels—tentang tokoh utama sejati. Menurut Marx—sekaligus Engels—tokoh utama sejati bukanlah individu yang ketinggalan langkah dengan masanya sendiri. Ia juga bukan individu yang cenderung merepotkan diri sendiri dalam pertempuran-pertempuran kecil yang tanpa hasil; ia melampaui masanya dengan cara mempercepat sejarah dan bukan dengan menahan lajunya ke depan. Tokoh utama tersebut harus dicari diantara tokoh-tokoh revolusioner masa lalu, diantara para plonco dalam pemberontakan atau para petani Thomas Münzer. Dalam diri tokoh-tokoh tersebut juga berlangsung kekalahan. Namun kekalahan itu tidak pernah final. Sebab impian heroik yang memacunya hanya merupakan penglihatan sekilas yang redup terhadap masa depan yang akan muncul cepat atau lambat.[24]

Sampai sini, dengan berpegang pada kesimpulan Arvon. Kita pun belum bisa memastikan sendiri. Perihal aspek manakah yang paling penting dari pandangan Marx—sekaligus Engels—tentang seni dan kesustraan. Namun dalam konteks yang terbatas oleh dua karya tersebut, yakni The Holy Family dan Dokumen Korespondensi dengan Ferdinand Lassale. Setidaknya bisa kita tangkap kecenderungan Marx yang tersirat dalam mengulas Mysteries of Paris dan Franz von Sickingen. Pertama, kadang-kadang Marx menganggap seni tergantung pada situasi sosial (kecenderungan kritiknya terhadap Mysteries of Paris dan Franz von Sickingen). Kedua, kadang-kadang menganggap seni sebagai sesuatu yang benar-benar otonom (kekagumannya terhadap gaya penulis dalam tradisi agung). Ketiga, kadang-kadang Marx menganggap seni sebagai instrumen tindakan politik (dukungan Marx terhadap syair-syair yang tidak istimewa dari segi artistik, tapi para penyairnya punya sikap politik yang jelas untuk memperjuangkan kebebasan).[25]

Tiga kecenderungan sikap pembacaan Marx terhadap karya seni yang tersirat dalam dua karyanya tersebut. Pada akhirnya memang menjadi kesalahpahaman diantara kaum Marxis secara umum dan Marxis estetik secara khusus. Namun setidaknya, sampai sini kita telah tahu. Bahwa kecenderungan Marx dalam menempatkan seni sebagai instrumen politik hanyalah salah satu dari tiga kecenderungannya yang lain. Maka dari itu, pelabelan non-Marxis dan penafsiran para Marxis yang semata “politis” terhadap kerangka internal estetika Marxis perlu kita tolak secara sistematis, konstruktif dan elaboratif. Yang wujudnya bisa berupa karya akademis-teoritik (skripsi, tesis, bahkan disertasi) maupun praktik kesenian yang progresif (karya seni). Dengan demikian, secara tidak langsung saya telah menjawab alasan dan tujuan dari perlunya diskusi sistematis tentang estetika Marxis… ***

 

Catatan Akhir:


[1] Esai untuk pertemuan pertama. Ditulis oleh Suluh Pamuji sebagai pengantar menuju diskusi bulanan tentang Estetika Marxis secara sistematis.

[2] Susan L. Feagin and Patrick Maynard (eds.), Aesthetic, Oxford Readers, hal. 3, dalam Ibid., hal. 1.

[3] Matius Ali, Estetika Pengantar Filsafat Seni, (Jakarta: Sanggar Luxor), 2011, hal. v

[4] Ibid., hal. 2-3.

[5] Donny Gahral Adian, Setelah Marxisme: Sejumlah Teori Ideologi Kontemporer, (Depok: Penerbit Koekoesan), 2011 hal. 11.

[6] Ibid, op.cit., hal. 12.

[7] Ibid., hal. 11-12.

[8] Karl Marx, Kapital: Sebuah Kritik Ekonomi Politik (jilid I), terj. Oey Hay Djoen dan teman-teman di Eropa, (Jakarta: Hasta Mitra), 2004, hal. xxxix.

[9] F. Budi Hardiman, Pemikiran-Pemikiran yang Membentuk Dunia Modern (dari Machiavelli sampai Nietzsche), (Jakarta: Erlangga), 2011, hal. 208.

[10] George Ritzer dan Douglas J. Goodman, Teori Marxis dan Berbagai Ragam Teori Neo-Marxis, terj. Nurhadi, (Yogyakarta: Teori Wacana), 2011, hal. 70.

[11] Ibid., hal. 65.

[12] F. Budi Hardiman, op.cit., hal. 208.

[13] Ibid.

[14] Ibid.

[15] Njoto, Marxisme: Ilmu dan Amalnya (Jakarta: Penerbit Harian Rajat), 1962, hlm. 18 & 27, dalam Martin Suryajaya, Alain Badiou dan Masa Depan Marxisme, (Yogyakarta: Resist Book), 2011, hal. 55.

[16] Greg Soetomo, Krisis Seni Krisis Kesadaran, (Yogyakarta: Kanisius), 2003, hal. 30.

[17] Henri Arvon, Estetika Marxis, terj. Ikramullah, (Yogyakarta: Resist Book), 2010, hal. 4. Namun Arvon mereduksi peran Engels ketika menyebut dua karya tersebut. Arvon tidak menyertakan nama Engels secara konsisten, sebagai informasi ataupun sebagai rujukan teori.

[18] Ibid., hal. 4-5.

[19] Ibid., hal. 10.

[20] Ibid., hal. 10-11.

[21] Ibid., hal. 11.

[22] Ibid.

[23] Ibid., hal. 11-12.

[24] Ibid., hal. 12-13.

[25] Ibid., hal. 13.

Posted in Bagasi Esai & Artikel | Tinggalkan komentar

Soliloqui Sampit

di sini,

sepuluh tahun yang lalu

mungkin malam tak begini

: begitu tenang

dan mengalun seperti caravansary

kemudian hari-hari tidak seperti gerigi

dan sungai mentaya kembali menjadi dirinya sendiri

seiring dengan kapal dan perahu

yang kembali membawa para pedagang

dan orang-orang yang hanya ingin datang dan ingin pergi

di sini,

sepuluh tahun yang lalu

walet-walet mungkin enggan berkicau seperti pagi tadi

sebab rumah singgahannya sudah habis dilalap api

di tengah mandau dan celurit yang sedang beradu

di sini,

ya,

di sini,

sepuluh tahun yang lalu

rupa dan peristiwa pernah sangat resah dan berdarah

hingga museum kota tidak mau menyimpannya

sebagai benda peninggalan sejarah

Sampit, Mei 2011

Posted in Bagasi Sajak | Tinggalkan komentar

sebuah sore di utara gedung pusat

–Sita Magfira–

aku ingin mengingat sebuah sore yang agak lain
sebuah sore yang membuat bayangan kita lebih padat dari biasanya
aku duduk di gazebo bersama pena dan block note
(sepasang alat pemerangkap kata)
ketika itu aku setengah penyair karena sedikit amnesia dengan metafora
dan kau gadis lucu yang ingin jadi puisi
lalu, kau memutuskan untuk memotret setelah berdiri meninggalkanku
dan berjalan menerabas capung-capung yang melayang-layang
seperti helikopter yang enggan untuk mendarat
lalu, tiba-tiba kau berhenti di hadapan objek yang menarik mata kameramu
aku melihatmu berhenti di depan kotak hydrant warna merah
(sebuah kotak penyimpan selang pemadam dan penanggulangan)
ketika itu kau gadis lucu setengah fotografer, karena baru belajar melukis dengan cahaya
dan aku lelaki celaka yang tergagap untuk melukismu dengan kata
aku sangat ingat bahwa sore itu memang agak lain
sore itu seperti telegram –sebuah mesin pengantar pesan yang memaksa
kesingkatan, kejelasan dan kepadatan– bagi tetumbuhan
kemudian pada sore itu
aku menjadi lelaki penerima kabar dari rumput taman yang tak boleh diinjak
katanya, “cepat tulis, sepoi angin hampir habis!”

2010

Posted in Bagasi Sajak | 2 Komentar

UNDANGAN MENULIS DI JURNAL KACAMATA

AYO MENULIS!!!

Tema
Lingkungan

Sub Tema
1. Kemungkinan dan Relevansi Ekologi dalam Disiplin Filsafat
2. Polemik antara Kemajuan Teknologi dan Etika Lingkungan
3. Ekologi Sosial dan Kemandirian Masyarakat Untuk Melestarikan Alam
4. Genealogi Kajian Tentang Ilmu Lingkungan (Ekologi)
5. Dinamika Wacana Ekologi di Indonesia

Syarat dan Prosedur Penulisan:

1. Penulis adalah Mahasiswa D3 atau S1 segala disiplin ilmu

2. Gagasan tulisan hasil telaah pribadi dan belum pernah dipublikasikan

3. Memakai gaya bahasa yang renyah, tanpa lepas dari EYD

4. Menggunakan penulisan ilmiah, acuan dan keterangan tambahan memakai endnote (lengkap)

5. Panjang tulisan 14–17 halaman kertas A4 spasi 1.5, semua marjin 3 cm, dan font Times New Roman (12)

6. Menyertakan identitas lengkap meliputi : nama, jurusan dan asal PT, alamat, nomor telp/hp dan e-mail, foto close up, dan data diri yang ditulis secara naratif

7. Dikirim melalui email ke: kacamata@filsafat.ugm.ac.id.

8. Batas waktu pengiriman naskah tanggal 10 April 2010

9. Tim editor Jurnal Kacamata berhak menyunting tanpa mengubah gagasan

10. Segala plagiarisme menyebabkan diskualifikasi

11. TOR ttg Sub Tema bisa didapat dengan mengirimkan e-mail pribadi pada alamat kami

Keterangan lebih lanjut :
Jantan (085643661831)
Najib (08562924786)

Posted in Pengumuman & Sayembara | 3 Komentar

Apa Itu Paradigma?

Paradigma dalam bahasa Inggris disebut paradigm dan dalam bahasa Perancis disebut paradigme, istilah tersebut berasal dari bahasa Latin, yakni para dan deigma. Secara etimologis, para berarti (di samping, di sebelah) dan deigma berarti (memperlihatkan, yang berarti, model, contoh, arketipe, ideal). Sedangkan deigma dalam bentuk kata kerja deiknynai berarti menunjukkan atau mempertunjukkan sesuatu. Berdasarkan uraian tersebut, secara epistemologis paradigma berarti di sisi model, di samping pola atau di sisi contoh. Paradigma juga bisa berarti, sesuatu yang menampakkan pola, model atau contoh (Lorens Bagus, 2005: 779). Selanjutnya, secara sinonim, arti paradigma bisa disejajarkan dengan guiding principle, basic point of view atau dasar perspektif ilmu atau gugusan pikir, terkadang juga ada pula yang menyejajarkannya dengan konteks (Zumri, 2003: 28).

Lorens Bagus (2005: 779) dalam Kamus Filsafat memaparkan beberapa pengertian tentang paradigma secara lebih sistematis. Paradigma dalam beberapa pengertian adalah sebagai berikut: 1) Cara memandang sesuatu, 2) Dalam ilmu pengetahuan artinya menjadi model, pola, ideal. Dari model-model ini fenomenon yang dipandang dijelaskan, 3) Totalitas premis-premis teoritis dan metodologis yang menentukan atau mendefinisikan suatu studi ilmiah konkret. Dan ini melekat di dalam praktek ilmiah pada tahap tertentu, 4) Dasar untuk menyeleksi problem-problem dan pola untuk memecahkan problem-problem riset.

Istilah paradigma ini semakin penting sejak ilmuwan Amerika, Thomas S. Kuhn menjadikannya konsep yang krusial dalam bukunya yang berjudul The Structure of Scientific Revolution yang terbit tahun 1962. Apalagi ketika Thomas S. Kuhn (2005: 171) memberi penegasan di bagian akhir bukunya. Secara mendasar, Kuhn menemukan, bahwa selama ini istilah paradigma digunakan dalam dua arti yang berbeda. Di satu pihak, ia berarti keseluruhan konstelasi kepercayaan, nilai, teknik dan sebagainya yang dimiliki bersama oleh anggota-anggota masyarakat tertentu—dalam konteks ini, masyarakat tertentu yang dimaksud adalah masyarakat ilmiah. Kemudian di lain pihak, ia menunjukkan sejenis unsur dalam konstelasi itu, yakni sebuah pemecahan kongkret tentang teka-teki yang jika digunakan sebagai model atau contoh dapat menggantikan kaidah-kaidah eksplisit sebagai dasar bagi pemecahan teka-teki sains normal yang masih tertinggal. Dalam bukunya tersebut, secara tegas dinyatakan oleh Thomas S. Kuhn bahwa “…seorang ilmuwan selalu bekerja dengan paradigma tertentu. Paradigma itu memungkinkan sang ilmuwan untuk memecahkan kesulitan yang muncul dalam rangka ilmunya, sampai muncul begitu banyak anomali yang tak dapat dimasukkan dalam kerangka ilmunya dan menuntut revolusi paradigmatik terhadap ilmu tersebut.”

Informasi lebih lanjut, Lorens Bagus (2005: 779-780) juga mencoba memaparkan rangkumannya tentang pandangan beberapa filsuf mengenai paradigma. 1) Plato memakai istilah ini dalam kaitan dengan idea atau forma untuk menunjukkan peranannya di dunia, 2) Dalam filsafat kontemporer, pusat analisis dan kritik sering merupakan kasus paradigm yang disajikan sebagai contoh isu-isu yang dibicarakan. Dengan demikian kasus paradigma cenderung dianggap mirip dengan pemecahan argumen. Misalnya ketika G.E. Moore mengacungkan tangannya seraya berkata, “Ini tanganku yang satu dan ini yang satu lagi.” Apa yang dicontohkan G.E. Moore tersebut adalah satu kasus paradigma. Masalahnya apakah prinsip-prinsip skeptisisme yang memiliki anggapan bahwa kita tidak punya kepastian untuk dapat meremehkan penyajian itu, 3) Thomas S. Kuhn beranggapan bahwa teori-teori ilmiah dibangun sekitar paradigma-paradigma besar, misalnya, model tata surya untuk atom dan perubahan-perubahan dalam teori ilmiah menuntut paradigma-paradigma baru.

Dengan mengamini Kuhn, apa yang dimaksud dengan paradigma, secara terminologis adalah konstruksi atas realitas sosial oleh mode of though atau mode of inquiry tertentu yang pada tahap tertentu akan menghasilkan mode of knowing yang tertentu pula. Misalnya Immanuel Kant yang menganggap “cara mengetahui” sebagai “skema konseptual”; Sedangkan Karl Marx menyebutnya “ideologi” dan Wittgenstein melihatnya sebagai “cagar bahasa” (Kuntowijoyo, 1991: 327). Sampai sini perlu penulis tambahkan, bahwa secara definitif, selain paradigma itu bisa diartikan sebagai konstruksi atas realitas oleh cara berpikir atau cara pandang. Paradigma juga bisa berarti sebagai jalinan ide dasar beserta asumsi dan variabel-variabel idenya (Zumri, 2003: 28).

Jika kita mau beranjak lebih jauh dengan memakai dua definisi tentang paradigma tersebut untuk mendefinisikan—misalnya—apa itu “Paradigma Pancasila”? Maka Paradigma Pancasila secara definitif—kurang lebih—adalah sebagai berikut: 1) Paradigma Pancasila adalah suatu konstruksi pengetahuan yang memungkinkan kita memahami realitas sebagaimana Pancasila memahaminya. 2) Paradigma Pancasila adalah jalinan ide dasar beserta asumsi dan variabel-variabel ide yang dimiliki Pancasila untuk mengembangkan dan mengoperasikan secara kongkret potensi-potensi Pancasila sebagai sebuah cara pandang.***

Daftar Pustaka

Bagus, Lorens, 2005, Kamus Filsafat, Gramedia: Jakarta.

Kuhn, Thomas S., 2002, The Structure of Scientific Revolution, terj. Tjun

Surjaman, Rosda: Bandung.

Kuntowijoyo, 1991, Paradigma Islam: Reintrepretasi untuk Aksi, Mizan:

Bandung.

Sjamsuar, Zumri Bestado, 2003, Paradigma Manusia Surya, Yayasan

Insan Cinta Kalimantan: Pontianak.

Posted in Bagasi Esai & Artikel | 6 Komentar

Potongan Dialog Tentang Realitas Yang Terpotong

Kereta pengasingan, katamu.

Tanyaku: untuk apa?
Jawabmu: untuk melihat rumah-rumah yang terbuat dari kardus bekas.

Aku tertarik untuk jadi salah satu penumpang, kataku.

Katamu: silahkan naik, semoga tidak hujan.

Condongcatur, Des 2009 – Jan 2010

Posted in Bagasi Sajak | 1 Komentar

Kisah Tanpa Inisial

Aku dan kau, siapa yang bagaimana? Okey. Biar aku jawab. Siapa? Aku sebagai aku. Dan kau sebagai kau. Lalu. Aku dan kau yang bagaimana? Aku si jelek yang bisu tuli. Sedangkan kau si cantik yang tuna netra. Cukup? Kalau sudah cukup kisah ini akan kumulai.
Kau tahu? Kenyataan yang membentuk siapa dan bagaimana kita itu. Ternyata membuatku tidak memilih untuk menempuh jalan tercepat menuju dirimu. Karena jalan memutar untuk mengenal dirimu secara lebih perlahan. Menurutku lebih menarik. Karena dengan begitu aku jadi bisa melihatmu dari banyak sudut. Walaupun rasa penasaran akan sebuah hasil akhir menjadi lebih panjang dan tak tertahankan: apakah suatu saat aku bisa mengajakmu berbincang, tapi dengan cara yang sedikit lain?

***

Baiklah. Begini saja. Aku ingin jujur padamu. Kalau aku tak pernah tahu apa nama kisah yang saat ini sedang berlangsung. Kecuali keterposanaan yang datang mendadak di sore hari. Waktu itu langit berwarna jingga-sephia. Dan kita berada di sebuah tempat yang sama. Kau duduk sambil memangku rahasia. Dan aku berdiri menerawang. Membelakangimu. Waktu itu aku ingin mengajakmu berbincang dengan cara yang sedikit lain. Tapi keberanianku mendadak disapu habis oleh angin.
Lalu pada sore yang lain. Aku melihatmu berjalan ke depan sambil membaca buku tentang masa lalumu. Sebuah masa lalu yang mungkin membuatmu sesak nafas. Aku ingin sekali menolongmu. Tapi aku tak ingin bergerak langsung menuju dirimu. Aku ingin menempuh jalan memutar lebih dulu. Agar aku bisa melihat dirimu dari banyak sudut. Semoga kau tidak buru-buru pergi meninggalkan tempat dudukmu. Seperti penglihatan yang buru-buru pergi meninggalkan matamu.
Alur dari kisah ini selanjutnya mungkin lebih tersengal. Seperti seseorang yang ragu untuk meneteskan air mata ketika dadanya padat oleh kesedihan. Sebaiknya aku tidak mengirim banyak isyarat kepadamu. Karena aku takut untuk melukaimu dengan cara komunikasi yang melahirkan batas dan jarak itu. Ah! Siapa yang memahat kisah ini lebih dingin dari sebelumnya. Hingga membuatku sangat menggigil untuk meneruskannya.

***

Semoga kau baik-baik saja dengan cahaya yang tak bisa direspon oleh matamu. Dan aku juga baik-baik saja dengan keterbatasan berbicara dan keheningan pada telingaku. Tapi perlu kau tahu. Aku pernah beberapa kali diremas kesadaran. Bahwa diriku ini tidak sedang baik-baik saja. Apalagi ketika aku terdiam di dalam ruang tunggu tanpa seorang pun di situ. Sendiri. Sepi. Atau ketika aku berada di tengah kerumunan orang “normal”. Aku merasa menjadi sangat berbeda dari mereka. Karena kerumunan sering membuat kesepakatan yang berasal dari dominasi dan hieraki.
Dari kenyataan itu, aku jadi lebih tahu hubungan antara lelah dan air mata. Hubungan itu kutemukan ketika aku tak henti membuat gerak. Maksudku gerak untuk menjadi sama. Tapi kemudian aku malah melahirkan sesuatu bernama kesia-siaan. Kemudian kesia-siaan meninggal, tepat ketika aku menemukanmu. Aku seperti menemukan tuju baru.
Tapi setelah itu. Tahukah kau?! Beberapa kisah tanpa inisial semakin banyak menjejali diriku. Aku tidak tahu bagaimana itu bisa terjadi. Mungkin penyebabnya adalah masalah tersembunyi yang sedang kuhadapi. Masalah tersebut bisa jadi adalah masalah komunikasi antara kau dan aku. Tahukah kau? Jiwaku berombak ketika memikirkan itu. Bahwa kita adalah dua manusia dengan indera yang tak lengkap. Yang sialnya bermukim di dalam dunia yang janggal dan diskriminatif.
Ah! Seandainya saja kau bisa melihat dan menangkap isyarat yang kususun. Maka aku tidak akan kelimpungan untuk mengatakan: aku jatuh cinta padamu, sungguh, aku jatuh cinta padamu. Tapi aku harus buru-buru sadar. Kalau saat itu. Aku hanyalah seseorang yang masih tahu sedikit tentang dirimu: kau adalah perempuan yang mungkin tidak sedang menunggu apapun. Entahlah sesuatu apa yang membuatku berfikir demikian. Tapi jika pikiranku benar. Aku akan berusaha untuk menjadi sesuatu yang kau tunggu.
Pada sore yang lain lagi. Tepat ketika angin timur berkemas menuju barat. Aku memutuskan untuk berani mendekatimu. Dengan jarak yang lebih dekat lagi tentunya. Padahal jantungku selalu berdegup lebih kencang. Tiap kali aku berada satu meter lebih dekat dari tempatmu duduk. Tapi, ah… Aku tak peduli. Aku harus berani.
Singkat cerita. Aku mencoba mendekatimu dengan perlahan. Aku harap derap sepatuku dan degup jantungku tidak memicu ketakutanmu. Karena aku ingin kau tetap nyaman. Sekarang aku sudah berada di sampingmu. Dan kau tampak menyadarinya. Lalu kau mencoba melemparkan senyum kepadaku. Walaupun kearah yang sedikit salah. Aku membalasnya.
Beberapa menit kemudian. Aku memberanikan diri mengajakmu berbincang dengan cara yang biasa. Dan tentu saja dahimu mengernyit. Bingung. Karena aku bisu. Begitupun sebaliknya, semisal kau juga mencoba mengajakku berbincang dengan cara yang biasa. Dahiku juga pasti akan mengernyit. Bingung. Karena aku tuli.

***

Istriku, apakah kau ingat kejadian pada sore dulu? Jika saat itu kau tidak berani memutuskan untuk menyentuh tangan orang asing di sebelahmu. Isyarat yang kususun dari sepuluh jemariku. Tidak akan pernah kau mengerti. Karena kita memang harus berbincang, tapi dengan cara yang sedikit lain. Satu lagi. Mungkin aku juga tak akan pernah jadi suamimu dan kau juga tak akan pernah jadi istriku.

Posted in Bagasi Cerpen | Tinggalkan komentar

Kepada Penyair Sapardi Djoko “Satryo”

: Dukamu Tidak Abadi

Hap!

Perempuan duka menenun kata,
merenda BH

Hap! Hap!

Mata-mata mengintai curiga
terhadap mata pisau dengan kilat berbeda

Hap! Hap! Hap!

Oh, kilat mata pisau
Menikam!
Menikam!

Hap! Hap! Hap! Hap!

Dukamu yang tidak abadi

-Babarsari, 8 Des 09-

Posted in Bagasi Sajak | Tinggalkan komentar

Nunu Numan

Apa yang melebihi damai:
Memandang wajah lelap kekasih imajiner!

Babarsari, 8 Des 09

Posted in Bagasi Sajak | Tinggalkan komentar

Lirik Pendek

Suasana terlalu urakan.
Ketika tawa menjadi bahak yang meledak-ledak.
Kebenaran mengasap lesap.
Ketika kenyataan menjelma ritus
melarikan diri.

Yogya, Agustus 2009

Posted in Bagasi Sajak | Tinggalkan komentar