: esai pengantar untuk teman-teman Re-Med atau Forum Seni dan Budaya Retorika (Filsafat UGM)
Maksud dari tulisan ini, tidak lain untuk memperluas ruang terka terhadap makna jalanan dan memperjelas konteks, yakni meletakkan jalanan dalam diskursus kebudayaan dan kesenian. Jadi jelaslah, bahwa kita memiliki tiga kata kunci (jalanan, kesenian dan kebudayaan).
Dari tiga kata kunci tersebut. Ada beberapa pertanyaan elementer yang bisa kita susun dan kemudian harus kita jawab. Apa itu jalanan? Apa itu kebudayaan? Apa itu kesenian? Dan bagaimana relevansi antara ketiganya?
***
Memang ketika mendengar kata ‘jalanan’, gambaran yang mungkin akan langsung terbayang di dalam pikiran kita adalah jalanan beraspal yang menjulur dan membentang di kota, tempat kita tinggal. Misalnya, kalau di Kota Yogyakarta, Jl. Malioboro, Jl. Jendral Soedirman, Jl. Solo dll.
Gambaran tersebut tidak salah. Karena ya boleh-boleh saja bukan, mengartikan jalanan seperti itu. Namun, jalanan yang saya maksud, dalam konteks perbincangan ini, bukanlah dalam artinya yang pasif, yang sekedar nama. Namun jalanan dalam artinya yang aktif, yang bukan sekedar nama. Atau jalanan yang ikut berperan dalam membentuk perilaku (budaya) dan memicu kreativitas (seni) manusia.
Ketika memperbincangkan relevansi antara jalanan, kebudayaan dan kesenian saat ini (kontemporer). Sebutan street culture dan street art langung menjadi sistem identifikasi yang berputar di dalam pikiran kita. Dengan seni mural—berikut variannya—yang memang sempat booming beberapa tahun lalu itu, di Indonesia. Dan gaungnya juga masih terdengar sampai kini.
Padahal jika kita mau membuka pintu pikiran lebih lebar lagi. Dan memberanikan mata kita untuk melihat realitas lebih telanjang lagi. Relevansi antara jalanan, kebudayaan dan kesenian itu lebih dari sekedar seni mural yang sekarang—bisa jadi—relative basi dan sudah terlalu sering diangkat. Kecuali kalau kita bisa memberikan rasa dan aroma yang sama sekali lain, ketika hendak mengangkatnya lagi.
Penjelasan lebih lanjut, bahwa indikasi dari apa yang saya maksud dengan telah sampai kepada pemandangan dan pemaknaan yang sama sekali lain. Salah satunya adalah gelagat untuk meletakkan sejenak kecenderungan kita untuk meletakkan seni mural yang hadir di tembok-tembok kota, seperti Jakarta, Yogyakarta, Bandung dll itu, sebagai topik yang melulu atau identik dengan diskursus tentang jalanan, kebudayaan dan kesenian.
Sebab secara lebih luas dan umum—uraian berikut adalah semacam tawaran terminologi. Jalanan; pada hakikatnya adalah sebuah ruang publik, yang otomatis untuk dan milik publik. Dan hendaknya kita juga meletakkan titik pandang dan pemaknaan di atas terminologi tersebut.
Kemudian, kebudayaan dan kesenian adalah makhluk yang lahir dan terbentuk dari dinamika dan dialektika manusia (subjek) dengan jalanan atau—sebut saja—ruang publiknya (objek). Dalam konteks ini, seni mural hanyalah salah satu hasil dari dinamika dan dialektika subjek dengan objek tersebut.
***
Kalau kita mau mencermati. Bukankah ada banyak fenomena menarik dan problema yang pelik, yang ada dan lahir di jalanan. Selain fenomena seni mural berikut variannya. Misalnya: fenomena dan masalah pemasangan atribut politik di ruang publik yang ngawur dan menyepatkan mata kita, masalah trotoar dan pedagang kaki lima, fenomena kehidupan seniman jalanan dan gelandangan, atau masalah aksesibilitas difabel terhadap ruang publik, yang sampai kini belum memadai dan malah semakin diskriminatif dan juga masih banyak lagi.
Dalam konteks jalanan, fenomena dan problema tersebut bisa kita letakkan sebagai objek material. Kemudian filsafat yang telah kita tahu dan pelajari, bisa kita pakai sebagai objek formal—perspektif, kacamata atau pisau analisis objek material tersebut.
Memang di satu sisi menggunakan filsafat sebagai objek formal, sangat berpotensi untuk menawarkan corak dan warna lain dalam sebuah pembacaan—dalam konteks ini, jalanan. Namun di sisi lain, konsekuensi atau beban penggunaannya itu cukup berat. Karena secara langsung atau tidak langsung, pertanyaan tentang hakikat dan makna akan membebani kita.
Tapi lupakan dulu soal beban tersebut. Dan anggap saja sebagai visi yang berada jauh di atas kepala kita. Dengan demikian, hal yang terpenting untuk sekarang ini adalah gelagat (baca: misi) untuk menaiki tangga demi tangga yang menuju kepada visi tersebut. Lebih jelasnya lagi, kita tak usah terlalu mbentoyong (memikul berbagai/banyak hal). Pakai saja semangat keindahan dan jangan pakai semangat memikul berbagai beban.
Jadi, dalam proses penerbitan Buletin Re-Med kali ini—dengan jalanan sebagai tema dan beberapa rubrik yang akan kita tawarkan (Liputan, Esai, Cerpen, Puisi, Resensi, Galeri). Perlu kita garis bawahi, bahwa yang terpenting adalah proses, bukan hasil. Sebab hasil hanyalah salah satu efek dari proses.***
senang bersahabat dengan pengarang berbakat sepertimu: si gondrong sholeh…
eh aku punya satu tulisan ttg jalanan. dibaca ya. judlnya fenomena stiker skj. cek di http://www.ultramicroscopic.wordpress.com
peace
hmmm…jangan lupa diterjemahin Gitt…haha
wah wah… kawan suluh.. saluut =)
jajal wordpress kancane mandan diwacani sih ngapa, wis angel2 nggawe, sing maca gur awake dewek tok..
..
bagaimana menurutmu kalo bikin tulisan “jalanan” ,apakah itu bisa dimasukin dalam tema jalanan yang diusung ReMed kali ini ?
kalo nggak bisa
mending kamu tak selesaikan secara jalanan, piye ??
)