: menjelang subuh, sepi, masa lalu dan tangis perempuan
siapa yang melintang di atas garis bujur secara tiba-tiba?!
hingga hujan tak mau turun di atas kebun masa lalu.
dan tangis perempuan seperti melodi yang terbakar
PohRubuh, 16 Juni 2009
03.07 WIB
very eksotic.
tapi menurutku ada beberapa fragmen pemakaian majas yang tidak silogis dengan tema yang di usung mas suluh.
yang mana… ayo dik, uraikan lebih lanjut lagi. aku belum paham dengan kritikmu. hahahaha…
*dengan gaya sok kurator
perkenalkan mas suluh, saya sapardi djoko satryo..
antara “hujan yang tak mau turun” dan “tangis perempuan seperti melodi yang terbakar” dua kalimat tersebut seperti kurang ‘klik’ dan memberi jeda cukup panjang untuk menjadi sebuah reaksi atas kalimat sebelumnya yang berbunyi “siapa yang melintas bla bla bla…”
merujuk pada tema yang mas suluh usung (pembacaan saya) adalah ketidaksiapan akan sebuah peristiwa yang begitu cepat terjadi a.k.a ora terima (dalam bhs purwokerto)
thank you kurator Beni…
tapi bagaimana kalau kamu pakai logika gambar dan bukan logika semantik?