Apa Itu Paradigma?

Paradigma dalam bahasa Inggris disebut paradigm dan dalam bahasa Perancis disebut paradigme, istilah tersebut berasal dari bahasa Latin, yakni para dan deigma. Secara etimologis, para berarti (di samping, di sebelah) dan deigma berarti (memperlihatkan, yang berarti, model, contoh, arketipe, ideal). Sedangkan deigma dalam bentuk kata kerja deiknynai berarti menunjukkan atau mempertunjukkan sesuatu. Berdasarkan uraian tersebut, secara epistemologis paradigma berarti di sisi model, di samping pola atau di sisi contoh. Paradigma juga bisa berarti, sesuatu yang menampakkan pola, model atau contoh (Lorens Bagus, 2005: 779). Selanjutnya, secara sinonim, arti paradigma bisa disejajarkan dengan guiding principle, basic point of view atau dasar perspektif ilmu atau gugusan pikir, terkadang juga ada pula yang menyejajarkannya dengan konteks (Zumri, 2003: 28).

Lorens Bagus (2005: 779) dalam Kamus Filsafat memaparkan beberapa pengertian tentang paradigma secara lebih sistematis. Paradigma dalam beberapa pengertian adalah sebagai berikut: 1) Cara memandang sesuatu, 2) Dalam ilmu pengetahuan artinya menjadi model, pola, ideal. Dari model-model ini fenomenon yang dipandang dijelaskan, 3) Totalitas premis-premis teoritis dan metodologis yang menentukan atau mendefinisikan suatu studi ilmiah konkret. Dan ini melekat di dalam praktek ilmiah pada tahap tertentu, 4) Dasar untuk menyeleksi problem-problem dan pola untuk memecahkan problem-problem riset.

Istilah paradigma ini semakin penting sejak ilmuwan Amerika, Thomas S. Kuhn menjadikannya konsep yang krusial dalam bukunya yang berjudul The Structure of Scientific Revolution yang terbit tahun 1962. Apalagi ketika Thomas S. Kuhn (2005: 171) memberi penegasan di bagian akhir bukunya. Secara mendasar, Kuhn menemukan, bahwa selama ini istilah paradigma digunakan dalam dua arti yang berbeda. Di satu pihak, ia berarti keseluruhan konstelasi kepercayaan, nilai, teknik dan sebagainya yang dimiliki bersama oleh anggota-anggota masyarakat tertentu—dalam konteks ini, masyarakat tertentu yang dimaksud adalah masyarakat ilmiah. Kemudian di lain pihak, ia menunjukkan sejenis unsur dalam konstelasi itu, yakni sebuah pemecahan kongkret tentang teka-teki yang jika digunakan sebagai model atau contoh dapat menggantikan kaidah-kaidah eksplisit sebagai dasar bagi pemecahan teka-teki sains normal yang masih tertinggal. Dalam bukunya tersebut, secara tegas dinyatakan oleh Thomas S. Kuhn bahwa “…seorang ilmuwan selalu bekerja dengan paradigma tertentu. Paradigma itu memungkinkan sang ilmuwan untuk memecahkan kesulitan yang muncul dalam rangka ilmunya, sampai muncul begitu banyak anomali yang tak dapat dimasukkan dalam kerangka ilmunya dan menuntut revolusi paradigmatik terhadap ilmu tersebut.”

Informasi lebih lanjut, Lorens Bagus (2005: 779-780) juga mencoba memaparkan rangkumannya tentang pandangan beberapa filsuf mengenai paradigma. 1) Plato memakai istilah ini dalam kaitan dengan idea atau forma untuk menunjukkan peranannya di dunia, 2) Dalam filsafat kontemporer, pusat analisis dan kritik sering merupakan kasus paradigm yang disajikan sebagai contoh isu-isu yang dibicarakan. Dengan demikian kasus paradigma cenderung dianggap mirip dengan pemecahan argumen. Misalnya ketika G.E. Moore mengacungkan tangannya seraya berkata, “Ini tanganku yang satu dan ini yang satu lagi.” Apa yang dicontohkan G.E. Moore tersebut adalah satu kasus paradigma. Masalahnya apakah prinsip-prinsip skeptisisme yang memiliki anggapan bahwa kita tidak punya kepastian untuk dapat meremehkan penyajian itu, 3) Thomas S. Kuhn beranggapan bahwa teori-teori ilmiah dibangun sekitar paradigma-paradigma besar, misalnya, model tata surya untuk atom dan perubahan-perubahan dalam teori ilmiah menuntut paradigma-paradigma baru.

Dengan mengamini Kuhn, apa yang dimaksud dengan paradigma, secara terminologis adalah konstruksi atas realitas sosial oleh mode of though atau mode of inquiry tertentu yang pada tahap tertentu akan menghasilkan mode of knowing yang tertentu pula. Misalnya Immanuel Kant yang menganggap “cara mengetahui” sebagai “skema konseptual”; Sedangkan Karl Marx menyebutnya “ideologi” dan Wittgenstein melihatnya sebagai “cagar bahasa” (Kuntowijoyo, 1991: 327). Sampai sini perlu penulis tambahkan, bahwa secara definitif, selain paradigma itu bisa diartikan sebagai konstruksi atas realitas oleh cara berpikir atau cara pandang. Paradigma juga bisa berarti sebagai jalinan ide dasar beserta asumsi dan variabel-variabel idenya (Zumri, 2003: 28).

Jika kita mau beranjak lebih jauh dengan memakai dua definisi tentang paradigma tersebut untuk mendefinisikan—misalnya—apa itu “Paradigma Pancasila”? Maka Paradigma Pancasila secara definitif—kurang lebih—adalah sebagai berikut: 1) Paradigma Pancasila adalah suatu konstruksi pengetahuan yang memungkinkan kita memahami realitas sebagaimana Pancasila memahaminya. 2) Paradigma Pancasila adalah jalinan ide dasar beserta asumsi dan variabel-variabel ide yang dimiliki Pancasila untuk mengembangkan dan mengoperasikan secara kongkret potensi-potensi Pancasila sebagai sebuah cara pandang.***

Daftar Pustaka

Bagus, Lorens, 2005, Kamus Filsafat, Gramedia: Jakarta.

Kuhn, Thomas S., 2002, The Structure of Scientific Revolution, terj. Tjun

Surjaman, Rosda: Bandung.

Kuntowijoyo, 1991, Paradigma Islam: Reintrepretasi untuk Aksi, Mizan:

Bandung.

Sjamsuar, Zumri Bestado, 2003, Paradigma Manusia Surya, Yayasan

Insan Cinta Kalimantan: Pontianak.

Tentang suluhpw

Suluh Pamuji W. lahir di Semarang, 9 Juni 1987. Aktif kuliah dan bergiat di FSB RéTORIKA (Filsafat UGM). Beberapa puisinya pernah dimuat Pontianak Post. Kemudian beberapa esai dan artikelnya lumayan sering menghiasi Buletin di kampusnya, seperti: Jahe, Hitam-Putih dan Ré-Med (RéTORIKA Media). Sementara ini berdomisili di Yogya.
Entri ini ditulis dalam Bagasi Esai & Artikel. Buat penanda ke permalink.

6 Respon untuk Apa Itu Paradigma?

  1. sita berkata:

    update tulisan, bung? produktif anda! ngeri! :)

  2. chodri berkata:

    aku suka!!

  3. Ping-balik: Membangun Visi, Harapan dan Imajinasi « "Penyux Si Petualang"

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s