Catatan Dusta dan Peta Luka Di Lorong Gelap Nasib Buruk

Aku menunggumu di lorong gelap ini. Bersama dua bungkus makanan yang belum basi di kedua tanganku. Datanglah kesini sayangku! Walau dengan lukamu yang masih basah, masih bernanah. Jangan sungkan! Sebab aku tak akan pernah merasa jijik. Ketika makan bersamamu. Lagi pula, aku pun juga punya luka seperti yang kau punya. Yang juga tak kalah basah dan bernanah.

Kau yang setia menemaniku terkoyak. Cepat, datanglah kesini! Sebab sudah enam jam aku terus menunggumu di lorong gelap ini. Bukan apa-apa. Aku hanya khawatir terhadap waktu yang akan membuat basi dua bungkus makanan di kedua tanganku. Dan aku tidak mau nasib buruk menertawakan kita seperti biasa. Sebab melihat kau dan aku kembali menggelar dua bungkus nasi basi di atas trotoar seperti biasa. Yang lalu kita puluk dengan tangan kotor kita seperti biasa. Memasukannya kemulut seperti biasa. Mengunyahnya seperti biasa. Menelannya seperti biasa. Turun ke dalam perut seperti biasa. Melalui proses cerna seperti biasa. Tapi juga mulas dan mual seperti biasa.

Aku masih menunggumu di lorong gelap ini. Lorong, tempat kita membentangkan peta luka di punggung waktu . Lorong, tempat kita diam mencatat semua dusta dari negara yang katanya melindungi orang seperti kita.

Hingga larut malam kau belum juga datang. Tapi, aku masih setia menuggumu di lorong gelap ini. Bersama perut yang terus berbunyi sejak siang tadi. Juga bersama dua bungkus makanan di kedua tanganku yang sepertinya sudah basi oleh waktu: “Aih…! Apakah nasib baik tak mau lama menunggu, sedang nasib buruk terlalu rajin menyerbu?”

Jetis, 3 April 2008

Tentang suluhpw

Suluh Pamuji W. lahir di Semarang, 9 Juni 1987. Aktif kuliah dan bergiat di FSB RéTORIKA (Filsafat UGM). Beberapa puisinya pernah dimuat Pontianak Post. Kemudian beberapa esai dan artikelnya lumayan sering menghiasi Buletin di kampusnya, seperti: Jahe, Hitam-Putih dan Ré-Med (RéTORIKA Media). Sementara ini berdomisili di Yogya.
Pos ini dipublikasikan di Bagasi Sajak. Tandai permalink.

2 Balasan ke Catatan Dusta dan Peta Luka Di Lorong Gelap Nasib Buruk

  1. sitamagfira berkata:

    sajak yang baik. padahal, menurutku, pilihan katamu di sajak ini biasa-biasa saja –kecuali untuk judulnya–. humm.. apa yah? sajakmu ini membangun emosiku. dan yah, sekali lagi, menyisakan pertanyaan di akhir.🙂

  2. suluhpw berkata:

    tidak perlu apa yah. yang penting kamu sudah membacanya sampai selesai. terimakasih, dik Sita.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s