Etalase Kata dan Kalimat Yang Meledakkan Kepalamu

Mereka terus mengomel. Botol-botol Aqua itu terus berbicara minta persen. Kapitalisme global di dalam kamarku dan di sela-sela pantatku. Gatel…! Hei, jangan menari-nari di atas kasurku. Api membakar rambutnya dan rambutku hingga gundul. Cepat kesini! Ingus anak itu adalah waktu yang meleleh. Bajingan kau! Teriaknya kepada negara yang tak mampu bayar angkot. Ada pelangi di bawah ketiakmu. Sepertinya hujan baru saja turun dari situ. Maafkan aku menghamilimu. Penyair itu menyesal sebab terlalu sering menusuk-nusuk kemaluan kertas dengan pena.

Aku titip bom atom di kepalamu. Belikan aku aspirin kepalaku pusing. Jangan lari! Di situ licin. Mereka yang botak terus bernyanyi. Mereka yang berkuasa terus korupsi. Ah, negara ini remuk. Menyerupai remah-remah roti. Hore! Ada omong kosong. Gedung-gedung tinggi terus didirikan. Langit terus mengeluh. Punggungnya kena luka cakar. Aduh! Kamu terus bernyanyi dengan merdu. Si kaya menyanyikan lagu ’Indonesia Raya’. Si miskin menyanyikan lagu ’Indonesia Binasa’. Ibu di rumah sedang menjahit lukaku. Aku di sini terus mendapat luka baru. Bapak memijat-mijat motorku yang mau di jual. Tahun ini, adik menunggu sekolah akan terbakar dan bersiap memadamkannya dengan bensin.

Kini kamu sampai pada sebuah tanya. Apakah hidup harus di sapa dengan sejuta caci maki? Tolol kau! Teriakmu kepadaku yang sedang asyik menggergaji tanganku sendiri. Api itu sekarang membakar kardus-kardus di tengah selangkanganku. Bicaralah dengan bahasa hewan sayang! Ketika kau tanyakan esensi pada sepatu bututku ini. Sudah…sudah…! Mendung hitam mulai menyelimuti celana dalam yang kau jemur. Siapa yang tahu? Sejak kapan Agama melarangku memakan jempol kakiku sendiri. Kamu anjing! Sebab baumu seperti pagar rumah yang berkarat. Si kurus kelaparan. Si gendut kekenyangan. Temanku adalah lelaki yang terkoyak. Aku adalah perempuan berpayudara kecil dan berpantat tepos.

Fikiran-fikiran terus berloncatan dan aku tepuk tangan ketika tulisan-tulisanku gagal. I love you…! Di kamar pacarku tak ada potongan tubuhku. Ibu…ibu…! Aku menangis dengan sepasang sedotan di kedua lubang hidungku. Lemparkan aku kedalam rahimmu lagi, bu. Fuck…!

Awas kepalamu meledak!

Awas kepalamu meledak!

Awas kepalamu meledak!

Siapa suruh membaca sajakku?

Siapa suruh dengarkan aku baca sajak?

Jetis, 1 April 2008

Tentang suluhpw

Suluh Pamuji W. lahir di Semarang, 9 Juni 1987. Aktif kuliah dan bergiat di FSB RéTORIKA (Filsafat UGM). Beberapa puisinya pernah dimuat Pontianak Post. Kemudian beberapa esai dan artikelnya lumayan sering menghiasi Buletin di kampusnya, seperti: Jahe, Hitam-Putih dan Ré-Med (RéTORIKA Media). Sementara ini berdomisili di Yogya.
Pos ini dipublikasikan di Bagasi Sajak. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s