9 Juni 2008 dan (Waktu!)

Hari ini saya terus mengajukan sebuah pertanyaan pada seluruh anggota tubuh saya. “Sebenarnya sudah berapa lama kalian menjadi bagian dari diri saya?” Tapi, telinga tak menjawab. Tapi tangan tak menjawab. Tapi hidung tak menjawab. Tapi mata tak menjawab. Tapi pantat tak menjawab. Tapi penis tak menjawab. Tapi punggung tak menjawab. Tapi bahu tak menjawab. Tapi jantung tak menjawab. Tapi paru-paru tak menjawab. Tapi hati tak menjawab. Tapi usus dua belas jari tak menjawab. Semua tak menjawab. Juga tak terkecuali mulut, yang juga tak menjawab.

Pada hari ini, saya memang membutuhkan jawaban dari mereka. Hanya untuk satu hal, yakni memastikan Waktu! Berapa lama diri saya menjadi bagian dari dunia ini? Tapi, seperti yang terjadi barusan. Mereka semua tak ada yang menjawab! Ah, seandainya ada satu saja yang mau menjawab. Mungkin saya juga bisa menjawab dengan sangat tepat, berapa lama usia diri saya di dunia ini. Dengan berdasar pada sebuah asumsi, bahwa usia diri saya sama dengan usia telinga saya. Usia diri saya sama dengan usia tangan saya. Usia diri saya sama dengan usia hidung saya. Usia diri saya sama dengan usia mata saya dan lain-lain. Atau secara umum, usia diri saya sama dengan usia seluruh anggota tubuh saya.

Tapi saya juga masih ragu dengan asumsi saya di atas, yakni asumsi saya itu biasa berlaku menurut ukuran Waktu! atau waktu atau kedua-duanya? Sungguh! Saya belum benar-benar tahu untuk saat ini…

Tunggu sebentar! Tadi di atas saya menulis: Waktu!—ya benar—Waktu! Yang pada dasarnya, bukanlah jam dinding atau jam tangan yang bisa diputar maju atau pun diputar mundur jarumnya dan hanya sanggup menunjukkan waktunya sendiri. Bukan juga kalender kertas atau kalender apalah yang bisa dicoret-coret, disobek-sobek, dibalik-balik, halamannya sesuka kita untuk melihat waktu (hari, bulan dan tahun) dulu, kini dan nanti dan juga hanya bisa menunjukan waktunya sendiri itu. Dengan kata lain, jam dinding, jam tangan atau pun kalender itu adalah waktu dengan “w” kecil. Atau bisa diartikan dengan waktu yang relative; semisal: waktu di Indonesia bagian barat berbeda dengan waktu Indonesia bagian Timur.

Namun, Waktu! yakni dengan “W” besar—itu berbeda dengan waktu dengan “w” kecil—dan sebuah tanda seru dibelakang huruf “u” sebagai penegas. Itu adalah waktu yang sebenarnya, yang sifatnya metafisik, tidak relative dan universal.

Nah, pada tulisan ini, sebenarnya saya ingin mencoba meraba-raba Waktu! dengan “W” besar dan sebuah tanda seru dibelakang huruf “u” sebagai penegas itu, dengan beberapa pertanyaan: “Waktu!” Sebenarnya apa? Di mana keber-ada-annya? Dan bagaimana model geraknya?

Sampai sini, mungkin pembaca bingung untuk menangkap maksud dari tulisan saya ini, tapi biarlah, karena saya percaya kepada potensi pembaca. Untuk membuat jembatan sendiri, yang berfungsi sebagai penghubung kata dan bahasa dirinya dengan kata dan bahasa diri penulis.

Hal atau masalah lain lagi, sebenarnya saya—selaku penulis—pun yakin, jika kata dan bahasa yang saya gunakan adalah kata dan bahasa yang telah mengalami banyak reduksi makna. Reduksi makna yang mungkin disebabkan oleh konsensus sosial. Entah itu keluarga, suku, bangsa ataupun masyarakat secara umum. Jadi saya menyarankan kepada pembaca, supaya membuka lebar-lebar ruang tafsir dalam proses pemaknaan terhadap sebuah kata dalam bahasa tertentu.

Kemudian, kembali lagi soal usia diri saya, yang saya asumsikan sama dengan usia seluruh anggota tubuh saya. Pendek kata, mungkin saya ini adalah orang yang sudah tidak percaya atau mengabaikan begitu saja jam dan kalender sebagai ukuran Waktu! Yang itu lazim digunakan manusia modern sebagai ukuran: Berapa lama ia hidup? Berapa jam ia bekerja? Atau Berapa hari ia tidak mandi? Sebenarnya bagi saya, penggunaan jam dan kalender sebagai ukuran itu salah.

Tapi kalau jam dan kalender itu sebagai penunjuk waktu, itu masih benar. Dan saya terpaksa percaya dan menyepakati waktu yang terkonstruk pada jam dan kalender. Hal itu dikarenakan, jika saya tidak terpaksa percaya dan menyepakati waktu-waktu itu (baca: waktu jam dan waktu kalender). Hidup saya hampir bisa dipastikan berantakan!

Bagaimana tidak, lha wong kampus saya—yang judulnya Fakultas Filsafat saja—berikut jadwal kuliahnya benar-benar mempercayainya, pokoknya segala sesuatu yang mekanis benar-benar dipercayainya. Dan saya rasa aneh saja, jika kampus dengan judul Fakultas Filsafat UGM itu. Sepertinya tunduk dan patuh dengan hal-hal yang mekanis. Hal itu sebenarnya tidak ada masalah jika tidak berimbas pada saya. Tapi, pada kenyataannya, hal itu juga berimbas kepada saya, lewat pemaksaan yang halus: lambat-laun saya terpaksa dan terbiasa untuk tunduk dan patuh terhadap hal-hal mekanis, yang dianut kenyataan diluar diri saya. Dalam konteks ini, ya kampus saya tadi. Sial!

Hal tersebut itu kongkrit, karena secara jelas termanifestasi dalam sistem penamaan. Misalnya, jadwal kuliah yang didalamnya tak luput dari jam, hari, tanggal, bulan dan tahun. Oh…iya jadwal kuliah juga menyebut tempat atau ruang kuliah. Juga ada satu lagi, yakni nama dosen yang mengampu. Sebenarnya sampai sini, ada sebuah pertanyaan lagi, yakni apakah persepsi tentang Waktu! atau waktu, itu selalu terkait atau dikaitkan dengan ruang? Sejauh ini, jawabnya adalah: Ya. Harus atau selalu terkait dan dikaitkan dengan ruang. Kemudian keterkaitannya dengan ruang itu. Pada akhirnya berimplikasi pada campur-bawurnya peran waktu sebagai ukuran dan peran waktu sebagai penunjuk, seperti yang kerap dilakukan manusia pada saat ini. Uh…saya sangat keberatan jika demikian! Karena hal itulah yang mempersulit saya untuk menemukan—bahkan meraba—waktu yang tidak relative dan universal itu (baca: Waktu!).

Menurut kalender, hari ini, yakni Senin, 9 Juni 2008 adalah hari ulang tahun saya ke-21. Dan hari ulang tahun saya ini. Bagi saya adalah sebuah penanda sederhana di mana saya semakin dekat dengan kematian, yang itu juga berarti semakin dekatnya saya dengan dunia lain yang katanya tidak kenal jam dan kalender.

Pada keheningan yang absolute. Saya kerap membayangkan, kalau dunia lain yang mungkin tidak kenal jam dan kalender itulah tempat keber-ada-an Waktu! Yang model geraknya semakin kongkrit dan bisa diamati manusia. Juga berikut perannya sebagai penunjuk dan ukuran yang tidak campur-bawur. Atau dengan kata lain: lebih jelas, tepat dan universal. Ya, itulah Waktu! Dengan “W” besar dan sebuah tanda seru di belakang huruf “u” sebagai penegas.

Hidungku, tanganku, kakiku, mulutku, jantungku, hatiku, paru-paruku, ususku, ginjalku, penisku, pantatku, mataku dan anggota tubuhku yang lain. Jawablah! Sebenarnya berapa usia kalian? Apakah sekarang kalian sudah tahu waktu dengan “W” besar dan sebuah tanda seru di belakang huruf “u” sebagai penegas. Itu sebenarnya apa? Di mana letaknya? Dan bagaimana model geraknya? Aih, kenapa kalian tetap diam dan tak mau menjawab. Apakah aku salah mengajak kalian berbicara? Apakah aku salah bertanya kepada kalian? Apakah aku salah menganggap kalian berkesadaran? Apakah aku salah mengasumsikan kalian sebagai kunci untuk membuka pintu jawab, yang linier dengan pertanyaan berapa usia diri saya?

Tuhan! Tuhan! Tuhan! Saya tidak boleh gila, hanya karena dua pertanyaan ini, “Apakah sekarang usia diri saya benar-benar dua puluh satu tahun? Jika benar, berapa sisa Waktu! saya di dunia ini?

Tentang suluhpw

Suluh Pamuji W. lahir di Semarang, 9 Juni 1987. Aktif kuliah dan bergiat di FSB RéTORIKA (Filsafat UGM). Beberapa puisinya pernah dimuat Pontianak Post. Kemudian beberapa esai dan artikelnya lumayan sering menghiasi Buletin di kampusnya, seperti: Jahe, Hitam-Putih dan Ré-Med (RéTORIKA Media). Sementara ini berdomisili di Yogya.
Pos ini dipublikasikan di Bagasi Esai & Artikel. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s