Betty Friedan dan Gagasan Androgini: Polemik Tentang Arah Feminisme

Pendahuluan

Secara sederhana lahirnya gelombang feminisme dipicu oleh kegelisahan kaum perempuan akan adanya ketidakadilan sosial-gender, yang secara langsung atau tidak langsung menempatkan perempuan—tentu saja berikut haknya—dalam posisi yang marginal dan subordinan.

Posisi perempuan yang seperti itulah, yang kemudian, sering disebut sebagai biangkerok atau faktor utama penyebab lahirnya diskriminasi, kekerasan, penindasan, pelecehan dan tindakan-tindakan buruk lain terhadap kaum perempuan, yang mana masih saja terjadi sampai detik ini! Baik itu dilakukan oleh kaum laki-laki maupun oleh kaum perempuan itu sendiri.[1]

Di barat, kegelisahan kaum perempuan akan nasib buruk yang dialaminya sepanjang sejarah itu. Telah lama menjadi fokus pemikiran dan gerakan yang sistematis, yakni berkisar antara abad ke-18 dan abad ke-19. Dengan liberalisme sebagai tonggak dan feminisme liberal sebagai salah satu alat dan turunannya.

Mengkonteks pada perkembangan pemikiran feminis pada kurun abad yang lebih lanjut, yakni abad ke- 20 . Saya tertarik pada pemikiran seorang perempuan bernama Betty Friedan, yakni seorang tokoh feminis liberal yang ikut mendirikan dan kemudian diangkat sebagai presiden pertama National Organization for Woman (NOW, Organisasi Nasional untuk Perempuan)—pada tahun 1966.

Mungkin diperkuat juga dengan apa yang dikatakan Rosemarie Putnam tentang Friedan: “Adalah bermanfaat utuk melakukan refleksi terhadap karier Betty Friedan sebagai penulis, tidak saja karena identifikasinya dengan NOW, tetapi juga evolusinya sendiri sebagai seorang pemikir.”[2]

Evolusi pemikiran Friedan tentang feminisme itu, dapat kita lihat dari periodesasi pemikiran Friedan dari kurun 1960-1980-an, yang telah termanifestasikan dalam tiga karya besarnya: The Feminin Mystique (1963), The Second Stage (1981), The Fountain of Age (1993). Namun, dari tiga buku yang ditulis oleh Friedan. Dalam konteks waktu, The Fountain of Age-lah yang kiranya paling relevan untuk membaca arah kontemporer dalam feminisme liberal.[3]

Dalam The Fountain of Age, Friedan memperuncing kembali gagasannya tentang androgini,* yang mana gagasan itu sempat ia sampaikan dalam The Second Stage. Kemudian, saya menemukan sebuah pernyataan dari Rosemarie Putnam—yang menurut saya menarik—terkait dengan gagasan Friedan tentang androgini, yakni: “Semakin Friedan memfokuskan diri pada gagasan androgini, semakin tampak bahwa ia bergerak menuju humanisme dan menjauh dari feminisme.”[4]

Berangkat dari pernyataan itulah, yang kemudian sebuah pertanyaan ini muncul dari kepala saya. “Apakah yang dikatakan Rosemarie tentang androgini yang digagas Friedan secara mutlak benar, bahwa gagasan Friedan tentang androgini itu semakin mendekatkan dirinya pada humanisme dan menjauhkan dirinya dari feminisme?” Hipotesis saya, terhadap pertanyaan tersebut. Secara mutlak adalah tidak, karena berdasar atas asumsi saya tentang feminisme, kalau sejak awal kelahirannya itu sangat identik dengan humanisme. Jadi kata ‘menjauh’ saya rasa kurang tepat, bahkan menurut saya kata itu terlalu berlebihan.

Pada penjelasan yang lebih lanjut, sebelumnya saya akan paparkan dulu kepada pembaca, sebuah skema tulisan. Skema tulisan itu sebagai berikut: (1) Pendahuluan (gambaran ringkas tulisan ini); (2) Betty Friedan: Sosok, Karir dan Karya (sebagai upaya saya untuk memperkenalkan tokoh ini lebih lanjut); (3) Apa itu Androgini? (menjelaskan secara umum tentang androgini); (4) Betty Friedan dan Androgini (paparan singkat tentang teori androgini yang dirumuskan Friedan); (5) Androgini, Feminisme, Humanisme (membahas isi, berdasarkan atas relevansi tiga entitas tersebut); (6) Kesimpulan (sebagai penutup sekaligus ‘sari pati’ dari tulisan ini)

Betty Friedan: Sosok, Karier dan Karya[5]

Ia bernama lengkap Betty Naomi Friedan, lahir di Peoria, Illionis pada tanggal 4 Februari 1921. Ayahnya bernama Harry dan ibunya bernama Miriams Goldstein. Ayahnya itu adalah pemilik sebuah gerai perhiasan di Peoria, yang konon awal dari kepemelikan toko perhiasan itu, dimulai ayahnya sebagai penjual kancing baju di salah satu sudut jalan di Peoria. Kemudian, Miriam, ibunya, adalah adalah perempuan yang pernah menulis pada halaman masyarakat—sebuah surat kabar—ketika ayah Betty atau suaminya jatuh sakit. Disebabkan oleh keadaan atau peristiwa itulah yang memaksa Miriam keluar rumah untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Mungkin tindakan ibunya itulah yang memberikan include pada pemikiran Betty tentang ruang privat dan ruang publik perempuan.

Pada masa mudanya, Betty sudah aktif dalam lingkaran Marxist dan Yahudi. Pada saat itu ia juga menulis tentang bagaimana ia terisolasi dari masyarakat pada suatu saat. Rasa terisolasi pernah ia ungkapkan sebagai berikut, passion against injustice…originated from my feelings of the injustice of anti-Semitism[6] Kemudian ketika ia masuk dalam sekolah atas di Peoria. Ia juga kembali terlibat dalam surat kabar yang ada di sekolah atas tempat ia belajar itu, tetapi kemudian ia mengusulkan perubahan pada kolomnya, ia dan beberapa temannya kemudian menerbitkan sebuah majalah sastra yang diberi nama Tide.

Selanjutnya, ketika ia kuliah di Smith College pada tahun 1938. Ia termasuk salah satu perempuan, dari semua perempuan yang mendapatkan perhatian lebih, karena prestasi akademiknya. Terbukti dengan beasiswa yang ia dapatkan sejak tahun pertama ia kuliah. Ia lulus pada tahun 1942 dengan predikat summa cum laude pada bidang studi psikologi.

Di tahun 1943, ia menghabiskan waktunya di University of California, Berkeley dan di universitas itulah ia diterima bekerja di fakultas psikologi bersama teman laki-lakinya Erik Erikson. Kemudian di situlah ia juga mulai aktif dalam politik.

Di tahun 1960-an—atau mungkin lebih tepatnya di tahun 1966. Ia bersama beberapa feminis lain, berhasil mendirikan sebuah Organisasi National untuk Perempuan atau National Organization for Woman (NOW) dan organisasi inilah yang pertama kali—secara eksplisit—mendefinisi diri sebagai organisasi feminis di Amerika Serikat di abad ke-20, untuk menentang diskriminasi seks di segala bidang kehidupan: sosial, politik, ekonomi dan personal.[7]

Setelah maneuver di belakang layar, Friedan—yang pada saat itu dipandang sebagai figur yang sangat controversial, karena bukunya The Feminine Mytique yang terbit di tahun 1963—dipilih sebagai presiden NOW pertama pada tahun 1966 oleh 300 anggota pengurusnya, laki-laki dan perempuan.[8] Kemudian jabatannya itu berakhir pada tahun 1970.

Kemudian pada tanggal 4 Februari 2006—tepat pada ulang tahunnya yang ke-85—Friedan meninggal dunia, di Washington D.C., karena penyakit liver. Namun semasa hidupnya, ia telah meninggalkan beberapa karya penting tentang feminisme diantaranya; The Feminine Mystique (1963), It Changed My Life (1976), The Second Stage (1981), The Fountain of Age (1993), Beyond Gender (1997), Life So Far (2000).

Apa itu androgini?

Androgini adalah istilah yang digunakan untuk menunjukkan pembagian peran yang sama dalam karakter maskulin dan feminin pada saat yang bersamaan. Istilah ini berasal dari dua kata dalam bahasa Yunani yaitu ανήρ (anér, yang berarti laki-laki) dan γυνή (guné, yang berarti perempuan)[1] yang dapat merujuk kepada salah satu dari dua konsep terkait tentang gender. Artinya pencampuran dari ciri-ciri maskulin dan feminin, baik dalam pengertian fesyen, atau keseimbangan antara “anima dan animus” dalam teori psikoanalitis.[9]

Androgini berasal dari dua kata Yunani, namun kata ini muncul pertama kali sebagai sebuah kata majemuk dalam Yudaisme Rabinik (lih. mis. Kejadian Rabba 8.1; Imamat Rabba 14.1), kemungkinan sekali sebagai alternatif untuk penggunaan istilah hermafrodit yang berkaitan dengan budaya kafir-Yunani.[10] Namun data lain yang saya temukan dalam Online Etymology Dictionary , menyebutkan bahwa kata ini pertama kali muncul dalam bahasa Inggris pada 1552. Kemudian pada pemakainnya, kata ini terkadang sering disinonimkan dengan transeksual.

Seorang androgini dalam arti identitas gender, adalah orang yang tidak dapat sepenuhnya cocok dengan peranan gender maskulin dan feminin yang tipikal dalam masyarakatnya. Mereka juga sering menggunakan istilah ambigender untuk menggambarkan diri mereka. Banyak androgini yang menggambarkan dirinya secara mental “di antara” laki-laki dan perempuan, atau sama sekali tidak bergender. Mereka dapat menggolongkan diri mereka sebagai orang yang tidak bergender, a-gender, antar-gender, bigender, atau yang gendernya mengalir (genderfluid).[11]

Mungkin saya sebagai seorang laki-laki yang terkadang juga tidak diuntungkan oleh perbedaan gender yang disebabkan oleh perempuan. Perlu mengucapkan terimakasih kepada para feminis yang mengembangkan konsep androgini—yang pada konteks kontemporer—yang tidak hanya berlaku untuk perempuan saja, namun sejauh yang saya amati, pun juga mulai diadopsi oleh laki-laki. Berangkat dari sebuah contoh, misalnya: Ismed Natsir dan Agung (Kompas, 11 Februari 2002), dan lelaki metroseksual (gemar berolahraga maupun memperindah diri), misalnya David Beckham dan Marty Natalegawa (Image-Media Indonesia, Maret 2004).[12] Namun, sampai saat ini, kiranya perlu juga diakui, bahwa seorang laki-laki yang memiliki kecenderungan untuk memperindah diri. Dengan mudah atau sering dicurigai sebagai gay atau homoseksual.

Betty Friedan dan Androgini

Friedan dalam buku The Fountain of Age, mengingatkan kembali dukungannya untuk androgini. Ia mendorong laki-laki alfa yang mulai tua untuk mengembangkan kualitas feminine mereka yang pasif, penuh keinginan untuk merawat, dan kontemplatif, dan perempuan beta yang mulai tua untuk mengembangkan kualitas maskulin mereka yang tegas, asertif, bernada perintah, atau penuh petualangan.[13]

Seperti yang dicatat Friedan, “bahwa perempuan diatas lima puluh tahun yang kembali ke sekolah, atau bekerja, atau menjadi sangat aktif dalam dunia publik, melaporkan bahwa usia di atas lima puluh tahun merupakan tahun-tahun terbaik dalam kehidupan mereka. Demikian pula…laki-laki di atas lima puluh tahun yang mulai memfokuskan diriterhadap kualitas hubungan personal dan kehidupan interior mereka melaporkan kepuasan yang sama pada usia tuanya.”[14]

Berdasarkan uraian di atas, tujuan friedan sebenarnya adalah ingin melawan kecenderungan tradisional masyarakat yang hierakis dan bipolar dalam memandang dan menilai sifat maskulin dan feminin, yang bias gender itu.

Merujuk kepada pesan umum yang ditangkap oleh Rosemarie dari The Fountain of Age, “bahwa manusia yang akan sangat mungkin untuk tumbuh, berubah dan lebih menjadi dirinya sendiri ketika mereka bertambah tua, adalah mereka yang mampu bergerak di luar peran jenis kelamin yang terpolarisasi dan secara kreatif mengembangkan “sisi” dirinya yang diabaikan untuk dikembangkan ketika mereka masih muda. Singkatnya laki-laki dan perempuan senior yang paling bahagia dan paling hidup adalah orang-orang yang androgin.”[15]

Androgini, Feminisme dan Humanisme

Pada dasarnya feminisme itu bukanlah paham yang bertujuan untuk menggulingkan nilai-nilai patriaki. Namun sebuah paham yang memperjuangkan kebebasan dan kesetaraan hak-hak kaum perempuan dalam segala aspek kehidupan.

Dalam paradigma feminis liberal, perempuan dan laki-laki diciptakan sama dan mempunyai hak yang sama dan juga harus mempunyai kesempatan yang sama. Adapun perbedaanya itu sebenarnya hanya soal seks.

Sampai sini mungkin perlu saya jelaskan lebih dahulu, perbedaan antara seks dan gender. Seks adalah identifikasi yang didasarkan pada kategori biologis. Sedangkan gender adalah proses konstruksi dengan kategori sosial tertentu.

Kembali kepada soal kebebasan dan kesetaraan perempuan, pada tahun 1980-an Friedan pernah mengatakan, “adalah tugas dari feminis liberal bukan untuk menentukan kebebasan dan kesetaraan…apa bagi orang yang rasional dan abstrak, melainkan apa kebebasan dan kesetaraan…bagi laki-laki dan perempuan yang kongkret.”[16] Kemudian sebuah cara yang ditempuh Friedan untuk mewujudkan sebuah konsep kebebasan dan kesetaraan yang kongkret adalah upaya androgini.

Memang secara tidak langsung teori androgini yang diusung Friedan terkesan, bergerak ke arah yang berbeda. Jika ditinjau dengan arah gerak feminis liberal awal. Namun pada hakekatnya perjuangan feminisme untuk memperoleh kebebasan dan kesetaraan adalah salah satu bagian dari perjuangan manusia menuju keutuhan.

Hal itu secara implisit pernah dikatakan Friedan, “politik seksual feminis sebagai perjuangan yang tidak akan pernah dimenangkan oleh perempuan sebagai satu jenis kelamin…mendorong perempuan untuk bergabung dengan laki-laki dalam politik (manusia) yang baru yang harus muncul melebihi reaksi.”[17]

Dalam konteks ini, Friedan dengan teori androgininya itu, tidak menjauh dari feminisme untuk menuju humanisme. Tapi, Friedan justru lebih mendekatkan feminisme kepada humanisme. Atau dengan kata lain androgini hanyalah sebagai alat yang digunakan Friedan untuk mendorong feminisme ke wilayah perjuangan yang lebih luas.

Akhirnya, Friedan pun mengklaim, “bahwa ‘keutuhan manusia’ adalah ‘janji feminisme’, maka feminis harus bergerak di luar fokus isu perempuan (isu yang berhubungan dengan peran, hak dan tanggung jawab reproduksi dan seksual perempuan) untuk dapat bekerja sama dengan laki-laki dalam masalah yang kongkret dan praktis dari hidup, bekerja dan mencintai sebagai manusia setara.”[18]

Kesimpulan

Sepertinya halnya para feminis liberal sebelum Friedan, yang mana juga memiliki cara tersendiri dalam meraih kebebasan dan kesetaraan hak-hak kaum perempuan, yang mana pada dasarnya apa yang ingin diraih feminis liberal itu. Sebenarnya adalah ‘kemanusiaan kaum perempuan yang utuh’.

Penghayatan Friedan yang mendalam tentang masalah-masalah perempuan, yang pada satu titik telah mengantarkan ia pada gagasan androgini. Merupakan dialektika hidupannya sebagai seorang perempuan yang sadar akan eksistensi yang jauh lebih besar dari eksistensinya sebagai seorang perempuan. Eksistensi yang jauh lebih besar itu adalah eksistensi ia sebagai seorang manusia, yang semakin mengucur pada usia tuanya.***

Daftar Pustaka

  • Dr. mansour Fakih, Analisis Gender dan Transformasi Sosial (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2001).
  • Rosemarie Putnam Tong, Feminist Though: Pengantar Paling Komprehensif Kepada Arus Utama Pemikiran Feminis, Terj. Aquarini Priyatna Prabasmoro (Yogyakarta: Jalasutra).

Daftar Pustaka Internet


[1] ‘Kaum perempuan itu sendiri’ yang juga terlibat dalam kekerasan, pelecehan dan tindakan-tindakan buruk lain terhadap kaumnya sendiri, maksudnya adalah kelompok perempuan dengan posisi sosial lebih tinggi menindas kelompok perempuan dengan posisi sosial yang lebih rendah. Misalnya: Kisah malang Nirmala Bonat, TKW dari Indonesia yang punggungnya disetrika oleh majikan perempuannya, karena melakukan kesalahan sepele dalam pekerjaan.

[2] Rosemarie Putnam Tong, Feminist Though: Pengantar Paling Komprehensif Kepada Arus Utama Pemikiran Feminis, Terj. Aquarini Priyatna Prabasmoro (Yogyakarta: Jalasutra), hlm. 39.

[3] Memang setelah buku The Fountain of Age, Friedan juga menerbitkan dua buku lagi, yakni Beyond Gender (1997) dan Life So Far (2000). Namun, lepas dari data-data yang minim saya dapatkan tentang dua karya itu. Saya tetap berpendapat—dan diperkuat oleh beberapa data yang saya dapatkan—kalau pembahasan tentang arah kontemporer pemikiran feminis liberal banyak dipengaruhi oleh gagasan Friedan tentang androgini, yang mana tertuang dalam The Fountain of Age.

* Secara sederhana androgini bisa diartikan sebagai upaya kombinasi sifat, mental dan perilaku maskulin dan feminin

[4] Rosemarie Putnam Tong, Feminist Though: Pengantar Paling Komprehensif Kepada Arus Utama Pemikiran Feminis, Terj. Aquarini Priyatna Prabasmoro (Yogyakarta: Jalasutra), hlm. 47.

[5] Paparan berikut, saya sarikan atau kombinasikan dari berbagai macam data—baik data dengan bahasa inggris atau Indonesia—yang saya dapatkan dari buku dan internet.

[7] Rosemarie Putnam Tong, Feminist Though: Pengantar Paling Komprehensif Kepada Arus Utama Pemikiran Feminis, Terj. Aquarini Priyatna Prabasmoro (Yogyakarta: Jalasutra), hlm. 36.

[8] Ibid.

[9] http://id.wikipedia.org/wiki/Androgini [terakhir di update 09:14, 27 Mei 2008.], [di akses, 3 Mei 2008]

[10] Ibid.

[11] Ibid.

[12] Bambang Suwarno, Jender, Androgini dan Transeksual, Jangan Tercampur Aduk, [http://www.menegpp.go.id/menegpp.php?cat=detail&id=artikel&dat=73], [terakhir update, 13:57:34, 21 Maret 2005], [diakses, 3 Juni 2008]

[13] Betty Friedan, The Fountain of Age (New York: Simon & Schuster, 1993), hlm. 157. Dalam Rosemarie Putnam Tong, Feminist Though: Pengantar Paling Komprehensif Kepada Arus Utama Pemikiran Feminis, Terj. Aquarini Priyatna Prabasmoro (Yogyakarta: Jalasutra), hlm.46.

[14] Rosemarie Putnam Tong, Feminist Though: Pengantar Paling Komprehensif Kepada Arus Utama Pemikiran Feminis, Terj. Aquarini Priyatna Prabasmoro (Yogyakarta: Jalasutra), hlm. 46.

[15] Ibid., hlm. 47.

[16] Ibid., hlm. 45.

[17] Ibid., hlm 47

[18] Betty Friedan, The Second Stage (New York: Summit Books, 1981), hlm. 41. Dalam Rosemarie Putnam Tong, Feminist Though: Pengantar Paling Komprehensif Kepada Arus Utama Pemikiran Feminis, Terj. Aquarini Priyatna Prabasmoro (Yogyakarta: Jalasutra), hlm. 48.

Tentang suluhpw

Suluh Pamuji W. lahir di Semarang, 9 Juni 1987. Aktif kuliah dan bergiat di FSB RéTORIKA (Filsafat UGM). Beberapa puisinya pernah dimuat Pontianak Post. Kemudian beberapa esai dan artikelnya lumayan sering menghiasi Buletin di kampusnya, seperti: Jahe, Hitam-Putih dan Ré-Med (RéTORIKA Media). Sementara ini berdomisili di Yogya.
Pos ini dipublikasikan di Tulisan Ilmiah. Tandai permalink.

2 Balasan ke Betty Friedan dan Gagasan Androgini: Polemik Tentang Arah Feminisme

  1. najib berkata:

    mampir dulu…kapan-kapan mau kasih komentar ya

  2. Ping balik: Orang Tua Androgyny « GHIFFARY Al AYYOUBI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s