Catatan Kejadian, 24 April 2008

Saya sebenarnya lelah, bahkan sangat lelah. Dengan kehidupan yang sedang saya jalani. Dengan keputusan-keputusan hidup yang terlanjur saya pilih. Entahlah kenapa!?? Yang jelas ketika saya terlalu lama dan akrab bergumul dengan organisasi-organisasi yang saya masuki atau secara umum di tengah masyarakat. Saya kerapkali merasa asing dengan realitas-realitas yang terbangun; seperti mekanisme dan sistem yang berjalan di dalamnya. Saya juga sering tiba-tiba merasa ‘hilang’ di tengah situ, khususnya sebagai seorang (‘Aku’ individual) di tengah pergumulan itu. Saya pun lama-lama juga merasa kedinginan dan kesepian justru di dalam keramaian seperti rapat organisasi dan aktivitas masyarakat. Dari situ saya jadi sering bertanya-tanya: “Sebenarnya apa yang sedang terjadi dengan diri saya? Apa yang sedang terjadi dengan ‘Aku’ individual saya?”

Pertanyaan itu telah mengantarkan saya, kepada sebuah kecurigaan: “Apakah yang sekarang sedang saya rasakan ini adalah sebuah bentuk krisis eksistensial?” Dan sampai saat ini, saya pun hanya bisa menjawab: Mungkin iya! Bahwa sekarang ini saya memang sedang mengalami krisis eksistensial. Di mana saya sebagai individu merasa kehilangan pilihan-pilihan bebas yang seharusnya saya dapatkan. “Aku” sebagai subject seperti tidak mendapat tempat dalam kehidupan sosial. “The Death of Subject,” begitu ungkapan si botak Focault yang setiap malam menteror saya.

Saya fikir tidak berlebihan, jika saya akhirnya sampai pada sebuah asumsi, bahwa individualitas saya sebagai makhluk seperti dilalap habis oleh sosialitas saya yang juga sebagai makhluk. Dan hal itu tentunya tidak lepas dari fakta, bahwa saya sering terpojok dan meronta terhadap kenyataan-kenyataan sosial yang sering saya lihat, yang kerapkali sangat tidak menarik. Seperti kemiskinan, kekerasan, ketidakadilan, kebusukan politik, korupsi, sistem relasi yang tidak sehat, konstruksi nilai, dekandensi moral dll. Nah, ketika saya sering melihat, mengetahui dan menghayati semuanya itu. Saya pun jadi sering bergumam atau ngomel-ngomel sendiri, bahkan kalau sudah tidak tahan saya suka berteriak-teriak sendiri: “Seharusnya kenyataan yang terjadi tidak demikian!” Tapi, selama ini saya belum menemukan satu pun orang yang mau dengar dan mengerti esensi dari gumam dan teriakkan saya sebagai individu yang kecewa. Siapa yang mau mendengar suara saya yang sebenarnya selalu meninggalkan dengung dan gema, ketika menabrak tembok beton dan aspal-aspal jalan itu. Bahkan, selama ini juga belum ada satu pun orang yang bertanya: sebenarnya ada sebab apa, di balik gumam, teriak dan perilaku ganjil saya lainnya?

Mungkin benar pernyataan Jean Paul Sartre, seorang eksistensialis dari Perancis: “Orang lain itu adalah neraka bagi diri kita!” Sebab karena merekalah kebebasan kita—yang berarti juga di dalamnya idealisme, pilihan-pilihan bebas dll—sebagai individu bakal mengalami perbenturan dan pergesekan, yang terkadang itu sangat keras dan kasar. Tapi ironisnya, saya sering—entahlah—(me)nempat(kan) atau (di)tempat(kan) sebagai pihak yang harus mau mengalah. Mengalah dalam arti, mau kompromi dan negosiasi dengan kenyataan-kenyataan di luar diri saya sendiri (konkritnya adalah organisasi dan masyarakat yang memaksa saya terlibat di dalamnya). Kemudian itu berdampak pada retaknya idealisme yang selama ini terus saya bangun, menjadi terganggu dan tidak bisa saya tunjukkan secara benar-benar ‘gagah’ dan ‘kokoh’ nantinya, karena—baik saya sadari ataupun tidak—proses kompromi dan negosiasi itu, secara perlahan dan diam-diam ternyata terus membuat retakkan-retakkan kecil pada bangunan idealisme yang selama ini sedang dan terus saya bangun dalam diri saya.

Belum selesai proses kontemplasi saya dalam merumuskan jawaban dari krisis eksistensial yang sepertinya sedang saya alami ini. Juga secara perlahan dan diam-diam dirasuki oleh beberapa kekhawatiran dan ketakutan yang tiba-tiba datang seperti tamu tak diundang. Saya takut! Jangan-jangan masalah kedirian saya ini bersumber dari rasa asing saya terhadap diri saya sendiri. Sehingga itu membuat saya sebagai individu sering berfikir a priori atau malah cenderung berburuk sangka dengan menuduh sosialitas atau kehidupan saya dalam masyarakat adalah ‘biangkeroknya’, mungkin sekaligus pencuri, yakni pencuri “Aku” di dalam diriku.

Sampai sini saya hanya ingin menegaskan, bahwa individualitas seseorang itu tak kalah penting dan berharga jika dibanding dengan sosialitasnya, bahkan menurut saya, sosialitas seseorang itu sangat bergantung kepada individualitasnya. Masalahnya hanya ketika seseorang sudah sampai kepada sebuah kepentingan, yakni kepentingan yang mana yang harus didahulukan dalam keadaan tertentu: individu atau sosial?

Jujur saja selama saya hidup, sebagai seorang individu saya ini sering gelisah dan terkoyak oleh kenyataan-kenyataan yang sering saya lihat dan rasakan. Mungkin hal itu ada relevansinya, ketika di hubungkan oleh keterasingan, kedinginan dan kesepian yang sudah saya sampaikan di atas, yakni rasa asing, dingin dan sepi yang justru yang saya rasakan ketika kedirian saya berbenturan dengan realitas sosial yang ada.

Sebenarnya sekarang saya ingin sekali sedikit mengurangi aktivitas saya di dalam organisasi dan masyarakat, saya ingin mengurangi aktivitas sosial saya. Tujuannya supaya saya bisa lebih intens menikmati dunia kecil saya. Supaya saya bisa lebih intens menikmati surga kecil di dalam kamar kos saya.

Saya ingin aktivitas saya di situ mendapat durasi yang lebih. Ketika saya benar-benar mendapatkan itu, tentunya saya tidak ingin ada orang yang mengganggu, ketika saya sedang mabuk membaca. Saya juga tidak ingin ada orang yang mengganggu saya, ketika saya sedang asyik menulis atau mengetik banyak hal. Saya juga tidak ingin ada orang yang mengganggu, ketika saya sedang berdialog dengan Tuhan dan diri saya sendiri, yang akhir-akhir ini kurang saya ajak dialog. Pokoknya saya tidak ingin ada orang yang mengganggu aktivitas saya—baik yang sepele ataupun tidak—di dalam dunia kecil saya, di dalam surga kecil saya, yakni kamar kos saya. Kemudian pada akhirnya saya hanya bisa mengatakan: “Terserah orang lain mau menilai saya orang yang seperti apa, bahkan saya tidak keberatan, ketika ada orang yang menyebut saya sebagai autis, cacat mental atau sebutan-sebutan jelek lainnya. Yang jelas saya bukan seorang egois yang fatalis atau yang anti-sosialis.

Saya hanya seorang borju. Ya, ‘borju’! Tapi bukan borju yang menindas kaum proletar. Borju dalam konteks ini memiliki arti yang lain, yang bagi saya sangat mulia. Sebuah sebutan (baca: Borju) yang juga pernah diakui dan dimuliakan oleh penyair botak yang saya kagumi—Afrizal Malna—dengan kalimat yang menurut saya sangat puitik: “Saya adalah seorang borju yang terus mencoba menyelamatkan sekuntum mawar di dalam diri saya sendiri!” Begitu katanya. Dan ‘sekuntum mawar dalam diri’ itu saya terjemahkan sebagai kebahagiaan kecil yang sebenarnya selalu singgah dan dimiliki seseorang sebelum atau setelah dilahirkan. Masalahnya hanya, seseorang itu mempunyai cara yang simultan atau tidak untuk menyelamatkan sekuntum mawar dalam dirinya, ketika terancam layu.***

Tentang suluhpw

Suluh Pamuji W. lahir di Semarang, 9 Juni 1987. Aktif kuliah dan bergiat di FSB RéTORIKA (Filsafat UGM). Beberapa puisinya pernah dimuat Pontianak Post. Kemudian beberapa esai dan artikelnya lumayan sering menghiasi Buletin di kampusnya, seperti: Jahe, Hitam-Putih dan Ré-Med (RéTORIKA Media). Sementara ini berdomisili di Yogya.
Pos ini dipublikasikan di Bagasi Esai & Artikel. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Catatan Kejadian, 24 April 2008

  1. denty berkata:

    mas suluh.. ho ho.. aku mau ngomong apa ya? salut ats pemikiran2 mas suluh, tp jngn jd mati krn-nya, jngn hancur krn-nya.. nantinya malah jd sia2 kan sayang..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s