Global Warming dan Kesadaran Manusia

Salah satu ‘biangkerok’ pendorong pemanasan global adalah ketergantungan manusia terhadap minyak. Hal ini diperkuat oleh hasil penelitian terakhir para ahli klimatologi dari Amerika Serikat yang berhasil membuktikan bahwa pemanasan global terjadi karena bumi menyerap lebih banyak energi matahari dari pada energi matahari yang dilepaskan kembali ke ruang angkasa. Kecurigaan utama dari fenomena tersebut adalah keberadaan “rumah kaca” dan pencemaran asap-asap pabrik. Yang mana banyak menyumbang ekses negatif terhadap kestabilan alam.

Namun, namanya juga manusia! Jelas-jelas ketidakstabilan alam merupakan masalah mendasar bagi kehidupan semua makhluk hidup. Dalam konteks ini, faktanya tetap saja ironis. Sebab di sisi lain masih banyak saja manusia yang bersikap oportunis. Semisal, ada yang melihat perisitiwa melelehnya es di kawasan kutub sebagai kesempatan bagus untuk melakukan eksplorasi minyak. Sebab diperkirakan sekitar 25% sisa cadangan minyak di seluruh jagat raya ini berada di dasar laut artik. Selain itu melelehnya gunung-gunung es juga dianggap membuka jalur perkapalan baru, yang diyakini akan memperbaiki perekonomian kawasan.

Hal itu juga sempat diungkapkan oleh Dr. David Vaughan, dari Badan Penelitian Antartika Inggris: Salah satu yang sangat menggoda adalah jalur pelayaran laut utara. Oleh karena akan membawa kapal dari Eropa ke Jepang. Kalau itu terjadi maka akan menghemat uang dan waktu. Memang selama ini kapal-kapal dari Eropa yang menuju sebagian kawasan Asia harus memutar dulu melewati Terusan Suez. Vaughan pun mengakui: Memang ada sisi positif dari pemanasan global ini. Namun sisi negatifnya jelas tak kalah besarnya.

Seperti perubahan musim yang tak tentu, yang mana baru-baru ini terjadi di Indonesia. Beberapa daerah mengalami kekeringan. Masalah itu berimbas langsung pada rakyat kecil, khususnya para petani tradisional. Mereka terpaksa panen dini. Sebab sawah mereka mengering sebelum waktunya. Tindakan tersebut terpaksa mereka lakukan juga untuk menghindari kerugian yang lebih besar. Contoh lain lagi, namun dengan cakupan wilayah yang lebih luas, yakni hujan deras yang menggenangi sejumlah wilayah di Asia Selatan—India, Nepal, Bangladesh—dalam tiga pecan. Memang pada saat ini, air sudah semakin surut. Namun ratusan ribu orang—yang mayoritas adalah rakyat kecil—terancam sakit dan kelaparan. Nah, dua contoh tersebut, bukankah secara implisit membuktikan, bahwa lagi-lagi pihak yang paling dirugikan dalam fenomena pemanasan global ini adalah rakyat kecil.

Mungkin paragraf ini sedikit meloncat. Mengacu pada sebuah artkel elektronik dari BBC. Secara sederhana tindakan represif yang bisa kita lakukan untuk mengurangi pemanasan global adalah:

  • Pengembangan etika hemat energi dan ramah lingkungan. Budaya penghematan energi yang dimaksud adalah budaya penghematan energi terutama yang bersumber dari fosil atau BBM.
  • Subtitusi penggunaan gas alam dalam aktivitas rumah tangga mau pun industri. Ternyata berperan cukup nyata dalam mengurangi emisi gas “rumah kaca”.
  • Pelestarian hutan dan reboisasi keberadaan hutan. Berfungsi luar biasa dalam menyerap gas Co2. karena dapat memperlambat penimbunan gas-gas “rumah kaca”.

Dengan segenap kesadaran dan kepedulian kita kepada alam yang sudah kelewat tua dan rapuh ini. Rasanya tidak sulit untuk pro-aktif merealisasikan tiga solusi sederhana yang saya uraika di atas. Hanya saja, sebuah pertanyaan yang kemudian muncul adalah: Kau mau apa tidak manusia, untuk sadar, peduli kemudian turut serta menjaga bumi tempatmu hidup?***

*Ini artikel pertamaku yang diterbitkan. Bulletin Hitam-Putih yang terbit perdana pada pertengahan 2007, memuatnya.

Tentang suluhpw

Suluh Pamuji W. lahir di Semarang, 9 Juni 1987. Aktif kuliah dan bergiat di FSB RéTORIKA (Filsafat UGM). Beberapa puisinya pernah dimuat Pontianak Post. Kemudian beberapa esai dan artikelnya lumayan sering menghiasi Buletin di kampusnya, seperti: Jahe, Hitam-Putih dan Ré-Med (RéTORIKA Media). Sementara ini berdomisili di Yogya.
Pos ini dipublikasikan di Bagasi Esai & Artikel. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s