Politik Ingatan

Perjuangan seseorang melawan kekuasaan adalah perjuangan ingatan melawan lupa

-Milan Kundera-

Sebuah kutipan di atas adalah kalimat yang diucapkan oleh Mirek, seorang tokoh dalam Novel “Kitab Lupa dan Gelak Tawa” (terj.), karya seorang penulis berkebangsaan Ceko yang bernama Milan Kundera.

Ya, ‘ingatan’ dan ‘lupa’. Dua entitas ini, menurut saya sifatnya berada bersama dan tiada bersama. Keberadaan yang satu (ingatan) adalah keberadaan yang satu (lupa) dan ketiadaan yang satu (ingatan) adalah ketiadaan yang satu (lupa).

Dengan kata lain, keberadaan ‘ingatan’ tidak bisa lepas dari ‘lupa’. Di mana pun dan kapan pun ia (ingata) berdiri, pasti tak jauh dari situ ada ‘lupa’ yang rupanya selalu siap melakukan terror. Namun tak dapat dipungkiri bahwa manusia dalam saat-saat tertentu tak mau mengerahkan ‘ingatan’-nya untuk mengingat beberapa hal dan kejadian. Mungkin meminjam istilah yang pernah dipakai oleh Milan Kundera, yakni semacam kehendak-melupakan.

Milan Kundera pernah menulisnya sebagai berikut, kehendak-melupakan adalah sesuatu yang antropologis: seseorang selalu mempunyai keinginan untuk menulis biografinya sendiri, mengubah masa lalu, menghapus jejak dirinya mau pun orang lain.

Persis seperti keadaan yang sedang dialami oleh tokoh Mirek. Di mana oleh kundera ia diceritakan sedang berjuang dengan segala kemampuannya agar tidak lupa terhadap dirinya, kawan-kawannya serta pertarungan politik mereka. Namun, pada saat yang sama ia juga berusaha lupa pada ingatan yang lain, seperti mantan istrinya, yang membuatnya malu.

Dalam konteks politik, ‘ingatan’ dan ‘lupa’ rupanya juga tak bisa lolos dari hegemoni kekuasaan. Jika sudah demikian, maka tak lain dan tak bukan sejarah akan menjadi korban paling parah dengan tubuh yang terpotong atau tak utuh. Karena secara terus-menerus coba dibengkokkan, direduksi dan dilukai. Atau dengan kata lain, di situ sebuah rezim kekuasaan sudah melakukan campur tangan. Mereka melakukan pemilahan dan pemilihan tentang sejarah mana yang perlu diingat dan sejarah mana yang harus dilupakan, tentunya atas dasar kepentingan kekuasaan.

Mungkin sebagai contoh, seperti yang dilakukan oleh rezim yang berkuasa di Cekoslovakia pasca 1948 dan di Indonesia pasca 1965. Sebuah istilah ‘politik ingatan’ muncul, kemudian kerap digunakan untuk menyebut peristiwa yang identik dengan dua contoh peristiwa tersebut.

Taruhlah pada kasus Indonesia, ‘politik ingatan’ dengan sangat lihai dipraktikan oleh sebuah rezim dengan sangat sukses—sebab terbukti bisa melenggang dan melanggeng selama 32 tahun. Politik ingatan yang dipraktikan rezim ini, bahkan sudah tidak sekedar memilah dan memilih. Melainkan sudah sampai pada taraf dekonstruksi ingatan, yakni sebuah ingatan akan sesuatu dihancurkan, kemudian dibangung ingatan baru yang dianggap lebih memihak kepentingan rezim tersebut.

Praktik tersebut terus berlangsung pasca peristiwa 1965, yakni sosialisme dan komunisme yang dianggap mengganggu. Dengan sengaja dibangun atau diberi stigma buruk dalam mind-set masyarakat Indonesia—brutal, atheis, tidak manusiawi dll—yang pada akhirnya, sampai detik ini hanya membuahkan cara berfikir yang picik dan salah kaprah sejarah pada diri masyarakat Indonesia.***

* Tulisan ini pernah di muat pada Bulletin Re-Med, edisi 1, Desember 2007.

Tentang suluhpw

Suluh Pamuji W. lahir di Semarang, 9 Juni 1987. Aktif kuliah dan bergiat di FSB RéTORIKA (Filsafat UGM). Beberapa puisinya pernah dimuat Pontianak Post. Kemudian beberapa esai dan artikelnya lumayan sering menghiasi Buletin di kampusnya, seperti: Jahe, Hitam-Putih dan Ré-Med (RéTORIKA Media). Sementara ini berdomisili di Yogya.
Pos ini dipublikasikan di Bagasi Esai & Artikel. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s