Revolusi Gaya Hidup: Sangat Mungkin Kita Lakukan Bukan?

Isu global warming dengan dampak perubahan iklimnya yang ekstrim, mungkin bukan barang baru lagi. Sebab isu ini sudah mulai serius diperbincangkan sejak tahun 1970-an. Hingga sampai sekarang isu ini seolah selalu hangat untuk menjadi bahan perbincangan. Hal itu dapat kita lihat bahwa pada Desember 2007 nanti, Indonesia kebetulan akan menjadi tuan rumah konfrensi para pihak ke-13 Kerangka Kerja Perserikatan Bangsa-Bangsa mengenai perubahan iklim. Konfrensi tersebut, tepatnya akan diadakan di Bali. Titik berat pembahasan isu pada Desember mendatang antara lain: Pengurangan emisi karbon, penebangan hutan di negara berkembang dan soal pendanaan adaptasi (adaptation founding).

Dalam konteks—tiga isu yang akan dibahas—tersebut. Di sini negara berkembang memposisikan diri sebagai pihak yang menuntut dana dari negara dengan industri maju macam AS, Jepang, Cina dan Uni-Eropa. Karena negara-negara tersebut dituding sebagai negara yang banyak menyumbang emisi gas dan negara yang juga banyak melakukan eksploitasi alam untuk kepentingan ekonomi.

Hal yang perlu kita cermati di sini adalah soal siapa yang memimpin proses negosiasi nanti vis a vis “budaya linglung” pemerintah kita dalam menentukan sikap dan posisi tawar secara tegas. Karena kerap kali kita selalu didikte dan digiring oleh negara yang lebih adidaya—dari segi ekonomi—untuk mengikuti irama mereka, kemudian kita pemerintah kita mau dan ujung-ujungnya: kerugian selalu di tangan kita!

Sebut saja AS—negara sombong dan licik—yang sampai saat ini terus melakukan upaya eksploitasi alam dan upaya pelanggengan dominasi atas negara-negara berkembang dengan alam yang cukup potensial, misalnya: alam yang dimiliki Indonesia. Sejarah bahkan sudah mencatat bahwa AS adalah satu-satunya negara yang menolak untuk menandatangani Protokol Kyoto—yakni, sebuah protokol yang disusun, sebagai wujud atau upaya pencegahan terhadap kerusakan lingkungan—yang diadakan di Jepang. Sikap AS yang menolak itu, rupanya hanya berdasarkan alasan ekonomi semata. Sebab, semisal Protokol Kyoto itu ditandatangani oleh AS. Kelangsungan industri yang selama ini berperan sebagai penopang utama ekonomi negara itu, akan sangat terganggu.

Kembali lagi pada konfrensi lingkungan, yang rencananya akan diadakan di Bali. Jika kita mau berbicara mengenai capaian ideal dari hasil negosiasi nanti. Menurut saya, jikalau negara maju tidak semata mau memberikan suntikan dana kepada negara berkembang—khususnya negara berkembang dengan wilayah hutan tropis yang sangat luas dan cukup potensial untuk menjaga kestabilan alam. Contohnya: Negara Indonesia dan Brazil—untuk memperbaharui alamnya yang (di)rusak. Namun, di sisi lain mereka enggan dan bersikukuh tidak mau menurunkan emisi gas yang berasal dari produktivitas industrinya yang kelewat pesat itu. Juga sembari terus mencari dan melakukan eksploitasi alam di wilayah lain yang belum tersentuh.

Konfrensi Internasional tentang kerusakan lingkungan hidup dan perubahan iklim yang akan berlangsung di Bali nanti. Mungkin akan percuma dan terkesan seperti jamuan atau temu-kangen para penggede lingkungan yang tersebar dari berbagai negara. Jika nanti, sewaktu konfrensi itu berlangsung. Para mentri dan duta lingkungan hidup yang terlibat, tidak mampu membawa isu sampai kepada wilayah yang substansial dan fundamental: Sebenarnya apa yang menyebabkan kerusakan lingkungan, berikut perubahan iklim yang merupakan dampak lanjutnya? Jawaban saya lebih kepada kesadaran dan logika kaum industri–yang secara langsung atau pun tidak—ternyata membawanya kepada ketidakpedulian terhadap dampak ekologi. Kemudian, hal itu malah dan juga mereka perpanjang melalui konstruksi gaya hidup manusia modern yang terus mereka desakkan melalui media apa pun: Manusia modern adalah manusia yang konsumtif dengan selalu menjunjung tinggi nilai ‘ prestige’ terhadap kepemilikan sebuah benda.

Mungkin membuat sadar dan mengubah logika kaum kapitalis-industri secara umum dan menyeluruh adalah upaya yang teramat berat, bahkan bisa dikatakan nyaris mustahil. Namun jika kita (baca: manusia) mau bersama-sama mendesakkan sebuah revolusi gaya hidup manusia hidup modern—yang mana selama ini terlalu konsumtif dan terlalu menjunjung tinggi nilai prestige terhadap kepemilikan sebuah benda—sangat mungkin kita lakukan. Jiwa konsumtif dan jiwa prestige kita tidak lain adalah konstruksi atau rancangan para kaum kapitalis-industri yang ditujukan untuk menguasai diri kita. Maka dari itu kita harus melawannya dengan mengalahkan jiwa konsumtif dan jiwa prestige pada diri kita. Jika kita sebagai diri memenangkan peperangan itu. Saya sangat yakin, skema besar yang telah lama dirancang para kaum kapitalis-industri perlahan dapat kita kacaukan dan kita rubah menjadi lebih baik.

Sekarang coba kita sama-sama jawab dengan jujur pertanyaan berikut: Apakah kita akan mati jika pada sekujur tubuh kita tidak melekat satu pun perhiasan semacam berlian, emas atau pun perak? Atau pertanyaan lain yang sejenis: Apakah hidup kita akan hancur, ketika sebuah sepeda motor atau mobil tidak kita miliki?***

* Tulisan ini pernah di muat pada Bulletin Jahe, edisi November 2007.

Tentang suluhpw

Suluh Pamuji W. lahir di Semarang, 9 Juni 1987. Aktif kuliah dan bergiat di FSB RéTORIKA (Filsafat UGM). Beberapa puisinya pernah dimuat Pontianak Post. Kemudian beberapa esai dan artikelnya lumayan sering menghiasi Buletin di kampusnya, seperti: Jahe, Hitam-Putih dan Ré-Med (RéTORIKA Media). Sementara ini berdomisili di Yogya.
Pos ini dipublikasikan di Bagasi Esai & Artikel. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s