Badai, Hujan dan Halilintar di Kepala Han

“Sudahlah, aku ini memang seorang lelaki yang sengaja mendatangkan badai dan hujan di kepalaku. Oh, iya, tentunya dengan sesekali kubunyikan gelegar halilintar di dalam situ. Sekarang, apakah kau masih nyaman untuk melanjutkan pembicaraan kita tentang hidup, Erika?”

Kemudian kulanjutkan, “Sungguh, ini pertanyaan yang teramat penting untuk kau jawab. Sebelum aku menambah dua topik lagi, yakni tentang penderitaan dan kematian. Tolong fikirkan lagi dengan serius pertanyaanku tadi, Erika. Sebab obrolan tentang ketiganya tak mungkin kita selesaikan hanya dalam satu malam, atau bahkan seribu satu malam.”

Erika hanya diam. Ia benar-benar berfikir. Sementara aku duduk disampingnya dengan sangat gelisah. Karena aku terus merasakan badai, hujan dan halilintar di kepalaku.

“Malam ini, akan kulayani kau semampuku. Karena aku tahu kau ini sangat kesepian.” Begitu kalimat yang terurai dari bibir tipisnya, yang kemudian sejuk mendarat di telingaku. Telinga seorang lelaki yang bau sepi.

Suasana hening sejenak, sebelum Erika melanjutkan kalimatnya tadi, yang sempat terpotong karena secangkir teh hangat, yang baru saja ia raih dan ia sruput.

“Kau ini sebenarnya orang baik, bahkan bagiku kau itu orang yang terlalu baik dan menyenangkan. Hanya saja…”

“Hanya saja apa?”

“Kau terlalu berbeda dengan orang-oarang pada umumnya. Kau ini terlalu sering memborbardir kepalamu dengan sejuta pertanyaan.”

Aku pun diam tercenung mendengar perkataan Erika. Sambil sesekali kubunyikan gelegar halilintar, di tengah kecamuk badai dan hujan yang sudah kudatangkan sebelumnya.

“Kau benar Erika,” kataku, “Mungkin aku terlalu sering memikirkan hal-hal yang seharusnya terjadi dan kau tahu kan kenyataan yang terjadi seringkali tidak seperti yang aku—mungkin juga kau—idealkan .”

“Mungkin itu jawaban kenapa kau menjadi demikian kesepian!” Begitu sergah Erika.

Ah, malam itu badai dan hujan terus kudatangkan di dalam kepalaku, gelegar halilintar juga semakin sering kubunyikan di dalam situ. Erika pun bisa merasakan dengan sangat tepat penderitaan yang di alami kepalaku.

Ah, pertanyaan-pertanyaan itu memang seringkali datang dengan sangat berisik, seperti kaleng rombeng yang tak henti di bunyikan anak-anak setiap pagi dan sore.

“Han, sepertinya aku harus menyarankanmu, untuk berhenti memikirkan semua pertanyaan-pertanyaanmu itu…” Begitu saran Erika yang bernada nasehat.

“Itu tidak mungkin Erika.”

“Kenapa tidak mungkin, Han?” tanyanya.

“Karena dengan terus memikirkannya, aku merasa menjadi manusia.”

***

“Sebaiknya aku pulang saja Erika…”

Malam itu aku pun segera pamit. Padahal pagi masih jauh. Tapi Erika sudah terlihat mengantuk. Aku harus mengerti rasa kantuk itu.

“Terimakasih atas waktunya dan selamat tidur,” begitulah akhirnya kuucapkan kalimat penutup untuknya. Sebuah kalimat yang sekilas tampak lumrah dan biasa, tapi bagiku itu luar biasa. Ya, jika saja benar-benar kuucapkan untuk diriku sendiri.

Ah…! Badai, hujan dan halilintar di kepalaku ini. Ah…! tiga tema pertanyaan—hidup, penderitaan dan kematian—ini. Dasar insomnia sialan…….!!!

***

“Erika, aku ingin sekali mengantuk sepertimu…”

-2008-

Tentang suluhpw

Suluh Pamuji W. lahir di Semarang, 9 Juni 1987. Aktif kuliah dan bergiat di FSB RéTORIKA (Filsafat UGM). Beberapa puisinya pernah dimuat Pontianak Post. Kemudian beberapa esai dan artikelnya lumayan sering menghiasi Buletin di kampusnya, seperti: Jahe, Hitam-Putih dan Ré-Med (RéTORIKA Media). Sementara ini berdomisili di Yogya.
Pos ini dipublikasikan di Bagasi Cerpen. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Badai, Hujan dan Halilintar di Kepala Han

  1. beujroh berkata:

    lumayan..

    hebat..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s