Sajak-Sajakku Yang Pernah di Muat “Pontianak Post”

di DASAR, di DALAM-DALAM

kabut tipispun turun perlahan
menembus hingga ke dasar,
kedalam-dalam
dan berhenti pada sebuah palung hati paling dalam
kabut tipispun turun perlahan ke dasar,
kedalam-dalam
ia melingkar-lingkar,
mengendap-mempekatkan tempat pemberhentiannya
yang terdalam
kabut tipispun turun perlahan ke dasar,
kedalam-dalam
sejukkan tempat pemberhentian terdalam,
yang tadinya begitu panas dan suram
kabut tipispun turun perlahan ke dasar,
kedalam-dalam
kepuli palung hati terdalam,
tempat semua kerinduan mendasar-mendalam bersemayam

Terban, 9 Feb 07

*Di muat Pontianak Post (Minggu, 27 Mei 2007).

Manusia

Ketika ia di kirimi hujan,
ia mengeluh karena hujan dianggapnya
sebagai sumber dari segala petaka
yang menyebabkan jemurannya menjadi
tidak kering-kering.

Tetapi ketika di gelarkan kemarau,
ia juga kembali mengeluh terhadap
panas yang menyengat dari kemarau itu,
yang lagi-lagi dianggapnya
sebagai biang kerok dari segala petaka
yang membuat badannya terasa gerah.
Dan ia tetap saja mengeluh
walau sudah diberikannya harga pas
terhadap apa yang ia sebut kesejukan.

Ia memang pengeluh, maka dari itu,
Tuhan menganggapnya lemah…

Terban, 25 Februari 2007

*Di muat Pontianak Post (Minggu, 7 Oktober 2007).

Kita Gandeng Takdir

Apakah kalian pernah menggelandang bersama takdir?

Belumkah?

Mari menggelandang bersamaku, bersama takdirku,

bersamamu, bersama takdirmu

Biar terhempas erang sunyi
Di tengah malam yang menyalak galak

Teruslah berjalan beriringan denganku
Tak perlu takut, tak perlu takut
Pada malam yang menyalak itu

Kau gandeng Takdirmu
Aku gandeng Takdirku

Kita dekap, kita dekap takdir kita masing-masing

Tetapi awas jangan sampai tertukar!!!

Terban, 30 Nov 06

*Di muat Pontianak Post (Minggu, 23 Desember 2007).

TUNGGU!!!

Tunggu apa lagi?!!

Racun sudah terlanjur kureguk
Hanya tinggal tunggu kematian yang datang menyeruduk

Tetapi tunggu…

Sepertinya aku masih bisa berlari
dengan dua kaki yang telah patah
Dan dengan tanganku,
aku telah berhasil menyambar sebuah pena

Coba kalian lihat pemandangan ABSURD ini!!!

Pena di jariku tengah menari,
menikmati gelisah hati
Sambil memakiku, menggiringku,
kemudian memaksaku bersetubuh dengan sepi
Dan kutuliskan sajak ini

Tunggu, ini belum saatnya layangkan nyawaku…
Tunggu saja aku,
aku belum sampai pada satu titik kepuasan
Untuk menertawakan dunia,
bersama manusia ringkih yang dahaga makna

Baru setelah sampai…

Silahkan maut!

Sepertinya dahimu mengerut
Lelah menunggu

Yogyakarta, 2 Nov 2006

*Di muat Pontianak Post (Minggu, 20 Jauari 2008).

Tentang suluhpw

Suluh Pamuji W. lahir di Semarang, 9 Juni 1987. Aktif kuliah dan bergiat di FSB RéTORIKA (Filsafat UGM). Beberapa puisinya pernah dimuat Pontianak Post. Kemudian beberapa esai dan artikelnya lumayan sering menghiasi Buletin di kampusnya, seperti: Jahe, Hitam-Putih dan Ré-Med (RéTORIKA Media). Sementara ini berdomisili di Yogya.
Pos ini dipublikasikan di Bagasi Sajak. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s