Teman-Teman Afrizal dari Atap Bahasa

Teman-Temanku dari Atap BahasaJudul Buku : Teman-Temanku dari Atap Bahasa

Penulis : Afrizal Malna

Penerbit : Lafadl Pustaka, Yogyakarta

Cetakan : I, Januari 2008

Tebal : xvi + 158 Halaman

Nama Afrizal Malna mulai melejit pada dekade 80-an, yakni sejak buku kumpulan puisi perdananya Abad Yang Berlari (1984) terbit. Kemudian beberapa buku kumpulan puisi yang terbit setelahnya—yang membuat namanya semakin kukuh dalam jagat sastra Indonesia—yakni, Yang Berdiam dalam Mikrofon (1990), Arsitektur Hujan (1995), Kalung dari Teman (1998), Dalam Rahim Ibuku Tak Ada Anjing (2002). Kemudian yang terbaru adalah Teman-Temanku dari Atap Bahasa (2008), yang isinya akan coba saya paparkan sebagai berikut.

Secara keseluruhan, jumlah puisi di dalam Teman-Temanku dari Atap Bahasa ada 68 judul, yang dibagi menjadi dua bagian. Bagian pertama adalah Perjalanan di Halaman Belakang (28 judul) dan bagian kedua adalah Pakaian Kotor di Dasar Jurang (40 judul). Secara spesifik, saya kurang tahu apa maksud Afrizal dengan membagi buku kumpulan puisinya menjadi dua bagian, dengan memakai judul ‘aneh’ tersebut.. Bagaimana tidak?!!

Coba, sekarang anda simak beberapa judul puisi dengan diksi dan idiom yang tak lazim sepanjang sejarah bahasa penulisan puisi modern kita selama ini. Misalnya: 50 tahun usia kuping (hlm. 3) atau Sumbu Kompor di Lubang Telinga (hlm. 19) atau Bangkai Sapi Dalam Telur Dadar (hlm. 152). Mungkin seperti halnya saya, anda pun—nyaris pasti—juga kebingungan, untuk mengerti makna di balik judul-judul tersebut di atas, sambil melakukan Ketukan-Ketukan Kecil di Atas Dengkul (hlm. 17).

M. Zamzam Fauzanafi, yakni orang yang menulis kata pengantar untuk buku ini. Sejak awal sudah memperingatkan kepada pembaca secara implisit: Berhadap-hadapan dengan kumpulan puisi ini membuat saya merasa tengah melihat potongan-potongan gambar tubuh dan benda-benda yang di jejerkan, bahkan di tubrukan… (hlm. v). Berdasarkan pengakuannya tersebut, kemudian ia membayangkan kalau: …mata Afrizal Malna sebagai sebuah kamera yang secara acak menerima pantulan cahaya dari tubuh dan benda-benda, yang kemudian diedit dan ditampilkan dalam potongan-potongan gambar atau dalam hal ini kata-kata, yang bersifat pre-logis; ketika kata-kata tidak dibebani makna, tetapi dikuyupi rasa. (ibid.).

Jika ingin memasuki ketidak laziman diksi dan idiom yang banyak menghiasi puisi-puisi Afrizal yang terkumpul dalam buku ini. Pembaca tidak cukup jika hanya mengandalkan fikiran dan pengertian. Namun pembaca harus mau mengerahkan semaksimal mungkin potensi tubuh beserta indera-inderanya, untuk masuk, melihat dan merasakan puisi-puisi Afrizal.

Dalam konteks ini, pembaca yang tidak mau mengerahkan potensi tubuh dan inderanya semaksimal mungkin, maka penggalan puisi berikut, semata hanya akan di nilai gelap dan absurd oleh pengertian atau pemaknaan yang diproduksi akal. Setelah selesai membaca penggalan puisi berikut: lihat deh, ada ambulan di atas bibirmu, acara tv, sabun yang tertinggal dalam kaos kakimu… (Hotline, hlm. 131). Atau penggalan puisi yang lain: tuan, apakah saya boleh menghapus lendir di hidungmu. kerena ada lubang di hidungmu. saya ingin menggadaikan mesin tik saya. saya membelinya tahun 1930. musim dingin terlalu lama ya di sini… (Mesin Tik Merah, hlm. 11).

Dari segi karakter, puisi-puisi Afrizal yang terkumpul dalam buku ini. Sebenarnya tidak jauh beda dengan puisi-puisinya yang telah terbit sebelumnya. ‘Alam benda’, khususnya ‘benda-benda urban’, misalnya: mikrofon, ambulan, sampai pembalut menstruasi. Seperti menjadi lingkungan semiotik yang tetap dan sensitif baginya. Saya jadi ingat bunyi kritik yang puitik untuk kecenderungan Afrizal tersebut, dari penyair Saut Situmorang. Saut mengatakan: Afrizal Malna tersesat dalam labirin kriya intelektualisme etalase tanda, binatang yang tercekik dalam mulut botol hibriditas ‘lingua franca’ vernakular. Tapi, walaupun demikian saya cukup salut terhadap capaian Afrizal dalam jagat perpuisian modern Indonesia.

Sedikit tambahan sekaligus sebagai penutup. Buku dengan sampul hardcover berlapis kain batik ini. Saya rasa cukup menyita perhatian para pengunjung toko buku, karena visualnya relatif unik dan berbeda, jika dibandingkan dengan visual buku-buku yang lain Tapi, masih adanya salah ketik pada beberapa kata di dalamnya, amat saya sayangkan. Mengingat ini adalah buku yang berisi kumpulan puisi, di mana elemen seperti diksi cukup menjadi pertimbangan serius bagi seorang penyair, ketika menulis sebuah puisi.***

Tentang suluhpw

Suluh Pamuji W. lahir di Semarang, 9 Juni 1987. Aktif kuliah dan bergiat di FSB RéTORIKA (Filsafat UGM). Beberapa puisinya pernah dimuat Pontianak Post. Kemudian beberapa esai dan artikelnya lumayan sering menghiasi Buletin di kampusnya, seperti: Jahe, Hitam-Putih dan Ré-Med (RéTORIKA Media). Sementara ini berdomisili di Yogya.
Pos ini dipublikasikan di Bagasi Resensi. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Teman-Teman Afrizal dari Atap Bahasa

  1. rifqiblog berkata:

    tulisanmu intim sekali.
    Suluh dan Afrizal.
    Bila keduanya bersatu pasti bisa mengalahkan supermen.

    Salam kuburan kecoa.
    rifqi_M, masih belum mau mandi pagi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s