Tunggu! (2)

Tunggu apalagi?

Ketika racun sudah terlanjur kureguk.

Dan hanya tinggal tunggu kematian

yang datang menyeruduk:

Tetapi tunggu dulu!

Sesuatu itu berteriak

dan menggema dalam diriku:

Berlarilah dengan dua kaki yang telah patah.

Karena dengan kedua tanganmu,

kamu masih bisa menyambar sebuah pena.

Ya, coba kalian lihat pemandangan absurd ini:

Pena telah berhasil kusambar

dan sekarang malah asyik menari

bersama jemari tangan.

Sembari meningkahi gelisah hati

dan mencoret-coret kertas sepi.

Dan akhirnya menjelmalah sajak ini:

Tunggu!

Ini memang belum saatnya sebrangkan nyawaku.

Tunggu saja disitu!

Sebab aku belum sampai pada satu titik paling klimaks.

Untuk metertawakan dunia,

bersama manusia-manusia ringkih

yang dahaga oleh makna.

………

Sementara di seberang maut ngelangut.

Menanti nyawaku!

Yogyakarta-Semarang, November 2006- Oktober 2007

Tentang suluhpw

Suluh Pamuji W. lahir di Semarang, 9 Juni 1987. Aktif kuliah dan bergiat di FSB RéTORIKA (Filsafat UGM). Beberapa puisinya pernah dimuat Pontianak Post. Kemudian beberapa esai dan artikelnya lumayan sering menghiasi Buletin di kampusnya, seperti: Jahe, Hitam-Putih dan Ré-Med (RéTORIKA Media). Sementara ini berdomisili di Yogya.
Pos ini dipublikasikan di Bagasi Sajak. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s