SEPATU

FADE IN

CREDIT TITLE AWAL

1. EXT. JALAN SOLO – SORE

KERAMAIAN JALAN SOLO DI SORE HARI. MOBIL-MOBIL LALU LALANG.

KERAMAIAN DI SEPANJANG JALAN EMPERAN PLAZA. ORANG TERLIHAT LALU-LALANG. SALING BERPAPASAN TAPI TIDAK SALING MENYAPA. DARI KEJAUHAN TERLIHAT SEORANG BAPAK YANG SEDANG MEMAINKAN SERULINGNYA DAN ANAK PEREMPUANNYA YANG SEDANG DUDUK DI SAMPINGNYA. MEREKA SEDANG MENGAMEN DI DEPAN ETALASE KACA SEBUAH GERAI SEPATU ANAK-ANAK.

SI BAPAK MEMAINKAN SERULINGNYA DENGAN SYAHDU. DAN BEBERAPA ORANG YANG MELINTAS DI DEPANNYA, TERLIHAT MENJATUHKAN UANG RECEH.

TANGAN ORANG YANG MENARUH RECEH DI DALAM GELAS, YANG TERLETAK DI DEPAN BAPAK.

DI SAMPING SI BAPAK YANG SEDANG MENIUP SERULING, SI ANAK TERLIHAT SEDANG BERDIRI.

SI ANAK MENUJU KE ARAH ETALASE KACA TOKO SEPATU.

SI ANAK MENGHADAP KE ARAH ETALASE KACA. IA SEDANG ASYIK MEMANDANGI SEPATU-SEPATU YANG DIPAJANG DI DALAMNYA, KHUSUNYA SEPATU YANG MENCURI HATINYA.

SI BAPAK MASIH TETAP MENIUP SERULING, SEDANGKAN SI ANAK MENGHADAP KE ETALASE KACA.

ANAK

“Aku pengen sepatu kuwi Pak…”

(UCAP SI ANAK, SAMBIL MENOLEH KE ARAH SI BAPAK YANG SEDANG SIBUK BERMAIN SERULING)

SETELAH SI BAPAK MENDENGAR PERKATAAN SI ANAK. SUARA SERULING LAMBAT LAUN DIAM. SULING DILETAKKAN. KEMUDIAN BAPAK BERKATA PELAN:

BAPAK

“Sesuk yo nduk…”

SI ANAK KELIATAN JONGKOK.

ANAK

“Ket mbiyen koq sesok-sesok terus to pak…!??”

SI BAPAK HANYA DIAM, SAMBIL TERUS MEMANDANGI WAJAH DAN MATA SI ANAK YANG MASIH TERLALU POLOS ITU DALAM-DALAM. LALU SI BAPAK MENGELUS-ELUS KEPALA SI ANAKNYA.

BAPAK

“Sesok yo…”

(UCAPNYA LEMBUT DENGAN MIMIK MUKA MEYAKINKAN)

2. EXT. – JALAN SEMBARANG DI JOGJA – SORE

MATAHARI PERLAHAN TENGGELAM. JOGJA JADI MALAM.

3. EXT – SEPANJANG JALAN EMPERAN PLAZA JALAN SOLO – MALAM

JALANAN SUDAH TERLIHAT SEPI. HANYA SATU DUA ORANG SAJA YANG MASIH TERLIHAT LALU LALANG. DARI LUAR, LAMPU PADA BEBERAPA GERAI TERLIHAT PADAM SATU DEMI SATU — TANDA SUDAH WAKTUNYA TUTUP — KECUALI GERAI SEPATU TEMPAT SI BAPAK DAN SI ANAK ITU BERADA. DARI LUAR, GERAI SEPATU ANAK-ANAK ITU MASIH TERLIHAT TERANG. TAPI TIGA ORANG PRAMUNIAGA — YANG BEKERJA DI SITU. JUGA SUDAH TERLIHAT BERKEMAS.

SI BAPAK MASIH DUDUK PADA POSISINYA TADI, SEDANGKAN SI ANAK TERLIHAT SEDANG DUDUK DI BIBIR TROTOAR.

SI ANAK TERLIHAT SEDANG DUDUK DI BIBIR TROTOAR. IA TERLIHAT SEDANG MENGGAMBAR SESUATU DI ATAS TANAH.

SI BAPAK TERLIHAT DARI DUDUK, BERDIRI, KEMUDIAN MEMBALIKKAN BADAN MENGHADAP KE ETALASE KACA.

SI BAPAK MELIHAT KE ETALASE KACA SAMBIL MENGHITUNG UANG YANG DI DAPATNYA SEHARIAN –YANG JUMLAHNYA TAK SEBERAPA.

BAPAK

“Nduk! Sepatu sing mbok pengeni sing ndi to?”

(TANYA SI BAPAK PADA ANAKNYA YANG SEDANG ASYIK MENARI DAN BERLARI KESANA KEMARI)

LALU SI ANAK MENGHENTIKAN KEASYIKANNYA. DAN MENDEKATKAN BADANNYA KE ETALASE KACA UNTUK MENUNJUK SEPATU YANG LAMA DIIDAMKANNYA, KEPADA SI BAPAK.

ANAK

“Sing kuwi lho Pak…!”

(KATA SI ANAK TEGAS DAN TANPA BEBAN. KEMUDIAN KEMBALI MELANJUTKAN KEASYIKKANNYA. IA KEMBALI MENARI DAN BERLARI KESANA KEMARI SEPERTI TADI)

SI BAPAK MEMANDANGI SEPATU YANG BARU SAJA DITUNJUK OLEH SI ANAK. LALU DILIHATNYA BANDROL HARGA SEPATU ITU.

TAMPAK BANDROL HARGA SEPATU YANG DIIDAMKAN SI ANAK: Rp 120.000,00.

SI BAPAK TETAP TERLIHAT MEMANDANGI SEPATU TERSEBUT.

BAPAK

“Aduh… Jebul regane larang banget…! Duwit sak mono okehe, iso entuk soko endi aku!!?”

(LALU MATANYA TERTUJU KE ARAH SERULING YANG IA GENGGAM)

“Adol seruling iki yo gak mungkin. Payuo, yo paling piro…?!!”

(SEJENAK KEMUDIAN MATA SI BAPAK TERTUJU KE PADA SI ANAK)

SI ANAK TERLIHAT GIRANG BERMAIN.

PADA SAAT ITULAH MATA SI BAPAK MULAI TERLIHAT BERKACA. LALU DALAM HATI IA BERKATA:

BAPAK

“Sesok sing tak maksud, koyokke dudu sesok nduk…”

SI BAPAK MASIH MEMANDANGI SI ANAK. SI ANAK CUEK DAN TIDAK SADAR, KALAU DARI TADI ADA SESEORANG (BACA: SI BAPAK) YANG MEMPERHATIKANNYA DENGAN MATA YANG BERKACA.

SI ANAK TERUS MENARI DAN BERLARI KESANA KEMARI DI SEPANJANG JALAN EMPER PLAZA YANG LENGGANG DAN TERLIHAT SEPI OLEH PEJALAN KAKI. ENTAHLAH, MUNGKIN SAAT ITU SI ANAK SEPERTI MENEMUKAN KEBAHAGIAAN DAN KEBEBASAN YANG TERAMAT SEDERHANA.

SI BAPAK BERBALIK DAN MENGHADAP KE ARAH ETALASE KACA. SAAT ITU MATANYA SEMAKIN TERLIHAT BERKACA, TAPI AIR MATANYA SULIT UNTUK KELUAR. SAAT ITU PERASAAN SI BAPAK SEPERTI ORANG YANG SANGAT SEDIH, TAPI TAK MAMPU MEMBAHASAKAN KESEDIHAN DENGAN TANGIS.

SI ANAK YANG DARI TADI BERLARI DAN MENARI KESANA KEMARI, SEPERTINYA SUDAH MULAI LELAH. SI ANAK TERLIHAT DUDUK SELONJOR. SAMBIL TAK HENTI MENGGOYANGKAN KAKI KECILNYA YANG DEKIL, KHUSUSNYA KEDEKILAN PADA BAGIAN TELAPAKNYA.

SI ANAK TERLIHAT SEDANG BERJALAN MENDEKAT KEPADA SI BAPAK YANG SEDANG BERDIRI MEMATUNG, MEMANDANGI SEPATU IDAMAN SI ANAK. LALU SI ANAK IKUT MEMANDANGI SEPATU IDAMANNYA ITU. SI ANAK MEMANDANGI WARNA, BENTUK DAN LEKUK SEPATU ITU DALAM-DALAM. KEMUDIAN SI ANAK BERKATA KEPADA SI BAPAK YANG SEDANG BERDIRI DI SAMPINGNYA:

ANAK

“Ayo bali Pak! Wis wengi…! Aku wis kesel…!”

(UCAP SI ANAK, TANPA MELIHAT WAJAH SI BAPAK)

“Duite iku,…”

(SAMBIL MENUNJUK UANG YANG ADA DIGENGGAMMAN SI BAPAK)

“…dinggo tuku mangan waelah sing akeh. Soale… Sesok… Aku gak sido jaluk tukokke sepatu kuwi. Delokken neh wis Pak! Sepatu kuwi koyokke gak penak yo nek dienggo nari karo playon?!!”

SI BAPAK TIBA-TIBA TERSENYUM. RASA SEDIH YANG MELINGKUPI HATI DAN PIKIRANNYA SEOLAH LENYAP SEKETIKA. SETELAH MENDENGAR PERKATAAN SI ANAK BARUSAN.

ANAK

“Loh, motone Pakke koq abang ngopo? Pakke bar nangis po?!!”

BAPAK

“Ora..bapak ora bar nangis! Ming entes wae kliliben bleduk…”

(UCAP SI BAPAK SAMBIL MENGUSAP KEDUA KELOPAK MATANYA)

“Wis ayo bali…!”

(SAMBIL MERAIH SALAH SATU TANGAN SI ANAK. LALU SEJENAK KEMUDIAN SI BAPAK MELANJUTKAN)

“Bener omonganmu nduk! Sepatu jinjit koyo ngono kuwi pancen gak penak nek nggo nari karo playon.”

SEPATU MUNGIL DENGAN MODEL HIGH HEELS YANG TADINYA DIIDAMKAN SI ANAK, SEJAK LAMA.

LALU MEREKA BERDUA MELENGGANG PERGI. PADA LANGKAH KE EMPAT SI BAPAK KEMBALI MEMAINKAN SERULINGNYA LAGI. TAPI KALI INI SI BAPAK TIDAK MENIUP DAN MEMENCET NADA-NADA YANG TERDENGAR SYAHDU SEPERTI TADI. KALI INI, SI BAPAK MENIUP DAN MEMENCET NADA-NADA YANG TERDENGAR BAHAGIA.

LAMPU YANG MENERANGI GERAI SEPATU ANAK-ANAK ITU DIPADAMKAN, KETIKA SI BAPAK DAN SI ANAK TELAH PERGI MENINGGALKANNYA. SELANG BEBERAPA MENIT KEMUDIAN, TERLIHAT SALAH SATU PRAMUNIAGA SEDANG MENURUNKAN PINTU ROLLINGDOOR YANG MELINDUNGI GERAI TERSEBUT: GREEEEEEEEEKKKKKKKKKKK…

FADE OUT

CREDIT TITLE AKHIR

—SELESAI—

Tentang suluhpw

Suluh Pamuji W. lahir di Semarang, 9 Juni 1987. Aktif kuliah dan bergiat di FSB RéTORIKA (Filsafat UGM). Beberapa puisinya pernah dimuat Pontianak Post. Kemudian beberapa esai dan artikelnya lumayan sering menghiasi Buletin di kampusnya, seperti: Jahe, Hitam-Putih dan Ré-Med (RéTORIKA Media). Sementara ini berdomisili di Yogya.
Pos ini dipublikasikan di Bagasi Naskah Film dan Teater. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s