Ssssttt…

(Randal, Ifa dan Tanya terlihat bercakap-cakap dengan geram dan sebal di tengah panggung. Mereka bertiga sedang mempercakapkan Pak Otman, guru kelas mereka, yang kemarin baru saja menghukum mereka dengan alasan yang sulit diterima oleh akal)

Ifa:

Pak Otman curang, curang, curang… Kemarin kan aku benar-benar tidak bisa menggambar langit seperti yang ia contohkan di depan papan tulis. Bukannya diajari, tapi aku malah langsung disuruh maju dan berdiri di depan kelas dengan satu kaki dan dua tangan memegangi telinga.

Randal:

Kalau aku kemarin sih bisa menggambar langit, persis seperti yang Pak Otman contohkan di depan papan tulis.

Ifa:

Terus kenapa kamu dihukum sepertiku?

Randal: Itu karena aku memulaskan warna merah dan kuning pada langit yang aku gambar, bukannya biru dan putih seperti langit yang Pak Otman contohkan di depan papan tulis.

Tanya:

Kemarin aku juga langsung disuruh maju dan berdiri menemani kalian didepan kelas. Padahal aku cuma bertanya pada Pak Otman. “Pak, kenapa langit bisa disebut langit Pak?” begitu tanyaku. Eee… Bukannya jawaban yang aku dapatkan dari Pak Otman. Tapi aku malah disebutnya sebagai anak yang rewel, cerewet dan suka bertanya. Huh…

(Kemudian ketiganya yang tadinya merapat ketika bercakap. Secara bersamaan berdiri saling membelakangi dan berjalan menjauh sembari mengekspresikan kekesalannya pada Pak Otman dengan bahasa tubuh yang beragam: Randal terlihat diam dengan wajah yang geram, Ifa terlihat cemberut dan Tanya terlihat menggeleng-gelengkan kepala. Selang beberapa menit kemudian mereka bertiga kembali merapat dan kembali bercakap)

Randal:

Tan, berapa pasang sepatu hitam yang kamu punya? Jika ada dua pasang, boleh aku pinjam sepasang, untuk upacara pada Senin besok?

Tanya:

Wah, maaf Randal aku cuma punya sepasang sepatu hitam…

Randal:

Kalau kau Ifa, berapa pasang sepatu hitam yang kamu punya?

Ifa:

Aku juga cuma punya sepasang Randal, maaf…

Tanya:

Hmm, memang kenapa dengan sepatu hitam yang sedang kamu kenakan itu Randal? (sambil menunjuk sepatu hitam yang sedang dikenakan Randal)

Randal:

Lihatlah… (Kata Randal sambil mengangkat kaki kanannya untuk menunjukkan sepatu yang sedang dikenakan) warna sepatu ini tidak benar-benar hitam kan?

Ifa:

Iya, ada sedikit warna putih pada bagian bawahnya…

Randal:

(Mengangguk) Kata Pak Otman, sepatu hitam dengan sedikit warna putih yang sedang kukenakan ini tidak boleh dipakai ketika upacara…

Tanya:

Kenapa tidak boleh?

Randal:

Karena kata Pak Otman (Naik ke atas kursi untuk menirukan gaya dan suara Pak Otman, ketika berbicara) Sepatumu itu bisa membuatmu terlihat kurang seragam dengan yang lain. Selain itu Pak Otman juga mengatakan (Menirukan gaya dan suara Pak Otman lagi) Karena itu sudah menjadi peraturan, maka tugasmu setelah itu tidak lain dan tidak bukan hanyalah patuh terhadap peraturan tersebut. Titik.

Tanya dan Ifa:

Hahahahhaha… (Keduanya tertawa terpingkal-pingkal mendengar dan menyaksikan Randal bersuara dan bergaya seperti Pak Otman)

Fade Out—

(Seseorang membacakan puisi dengan diiringi lesung dan bunyi-bunyian yang lain)

Fade In—

kata-kata yang tertelan bisa berubah menjadi racun

ketika dicerna oleh fikiran yang tidak merdeka

seperti yang terjadi pada sebuah cara pandang

yang sempit dan semakin disempitkan oleh cara pandang itu sendiri

doktrin-doktrin yang telah tertanam

tidak boleh tumbuh dan meninggi sendirian sebagai kepastian

karena kemungkinan-kemungkinan juga ingin tumbuh

di atas pori-pori kehidupan

kata-kata yang tertelan bisa berubah menjadi racun

ketika dicerna oleh fikiran yang tidak merdeka

seperti yang terjadi pada sepasang mata manusia

yang buruk dan telah diperburuk oleh sepasang mata manusia itu sendiri

nasehat-nasehat yang telah terurai

tidak harus langsung mencair menjadi kebijaksanaan

karena kebijaksanaan pada mulanya adalah endapan perasaan

di sepanjang perjalanan fikiran dan pertanyaan-pertanyaan

Fade Out—

Fade In—

(Randal, Ifa dan Tanya mereka bertiga masing-masing berdiri pada salah satu titik dari tiga titik, yang apabila ditarik garis akan membentuk segitiga. Kemudian Pak Otman—guru SD mereka—berdiri di tengah panggung, tepatnya berdiri di tengah segitiga tersebut, yang ketiga titiknya masing-masing ditempati oleh Randal, Ifa dan Tanya).

Randal, Ifa dan Tanya:

(diam menunduk mendengarkan Pak Otman yang sedang Monolog)

Pak Otman:

(Diucapkan dengan gaya dan suara yang khas) Jadi yang terpenting bagi kalian yang masih bersekolah adalah rajin belajar dan menuntut ilmu setinggi-tingginya karena kelak pasti akan berguna bagi…. Ah, saya lupa bagi siapa. Tapi selain itu, kalian juga harus senantiasa patuh terhadap peraturan yang berlaku. Patuh! Ya, itu kata kuncinya. Patuh di sini mengandung arti tidak perlu banyak cakap dan bertanya macam-macam tetapi langsung kerjakan. Ingat! Peraturan adalah peraturan. Dan jika sesuatu sudah menjadi peraturan, maka tugas kalian tidak lain dan tidak hanyalah patuh terhadap peraturan tersebut. Titik. Sekali lagi saya ulangi. Peraturan adalah peraturan, maka dari itu lebih baik ia dipatuhi dan dikerjakan, bukan dipertanyakan apalagi dilawan! Walaupun peraturan tersebut tidak… Ah, sudahlah itu kan demi…

Randal, Ifa dan Tanya:

(Bertanya serempak) Pak tapi kalau peraturan membuat kita… (Langsung dipotong oleh Pak Otman)

Pak Otman:

Sssssstttttttt… (desisnya sambil menempelkan jari telunjuk di atas bibir)

—Fade Out—

(Seseorang membacakan puisi dengan diiringi lesung dan bunyi-bunyian yang lain)

Fade In—

kepatuhan terhadap sesuatu bisa menjelma batas

bagi hati yang bebas merasa dan fikiran yang tak henti mengalir

jika tidak berada di dalam bingkai pertanyaan

aporia…

aporia…

aporia…

ya aporia…

sejak dini manusia terus terbentur aporia

karena itulah manusia

bertanya dan perlu bertanaya dan terus bertanya

tentang segala hal, tentang dirinya, tentang keberadaannya,

tentang kemungkinannya dan juga tentang kemerdekaannya

manusia di satu sisi merasakan bahwa

—dirinya itu telah dikutuk untuk merdeka

tapi di sisi lain, manusia juga merasakan bahwa

—kutukkan tersebut ternyata tidak mungkin terjadi kepada dirinya

selama ada nilai-nilai dan norma-norma yang bergentayangan di luar diri manusia

dan hal itulah yang menyebabkan manusia tidak benar-benar

telah dikutuk untuk merdeka

walaupun demikian

manusia tetap harus bertanggung jawab

terhadap segala hal yang terkait dengan dirinya dalam aporia tersebut

pun tak terkecuali ketika seorang manusia lebih merasa

kalau dirinya telah dikutuk untuk merdeka

Fade Out—

—SELESAI—

Tentang suluhpw

Suluh Pamuji W. lahir di Semarang, 9 Juni 1987. Aktif kuliah dan bergiat di FSB RéTORIKA (Filsafat UGM). Beberapa puisinya pernah dimuat Pontianak Post. Kemudian beberapa esai dan artikelnya lumayan sering menghiasi Buletin di kampusnya, seperti: Jahe, Hitam-Putih dan Ré-Med (RéTORIKA Media). Sementara ini berdomisili di Yogya.
Pos ini dipublikasikan di Bagasi Naskah Film dan Teater. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s