yang Terbelah, yang Terjatuh

I

“kapan kau akan beranjak dari kursi malas itu?”

“dunia berani mengejarku, hanya sampai luar pintu kamarku…”

“ada mayat!”

“apa?”

“tubuhmu telah mati!”

“kenapa?”

“karena ruh telah bosan menempati ruang…”

“siapa yang tidak mau jadi suci kembali, bung?!!”

“beri aku alkohol 70%!!!”

“sssssstttttttttttt……”

II

ada yang mengalir. ada yang mendesir.

memang ada yang harus ada.

dalam kekosongan wadah.

seperti ruh yang terjatuh ke dalam tubuh.

tapi kemudian sayang…

kita belum bisa menyematkan ukuran tunggal.

kita belum bisa menandatangani lembar kepastian maha kepastian.

ketika ruh bangkit dan memanjat naik,

perlahan,

detik demi detik,

meninggalkan tubuh.

ada yang mengalir. ada yang mendesir.

rasanya memang ada ketiadaan,

yang tiba-tiba minta diadakan.

sepeti kalimat lupa,

yang tak sengaja lahir dari persenggamaan

kegamangan dan jeritan:

uh, hidup makin riuh…

ah, mati makin hening…

huh, kapan kita jadi suci dan menyeluruh setelah tubuh?

-2008-

Tentang suluhpw

Suluh Pamuji W. lahir di Semarang, 9 Juni 1987. Aktif kuliah dan bergiat di FSB RéTORIKA (Filsafat UGM). Beberapa puisinya pernah dimuat Pontianak Post. Kemudian beberapa esai dan artikelnya lumayan sering menghiasi Buletin di kampusnya, seperti: Jahe, Hitam-Putih dan Ré-Med (RéTORIKA Media). Sementara ini berdomisili di Yogya.
Pos ini dipublikasikan di Bagasi Sajak. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s