Membaca “Kematian”

: Sebuah esai untuk editorial Jurnal KacaMata Vol. 1, 2008

Mungkin hanya dalam keadaan sunyi dan sendiri. Perenungan atas “kematian”, seringkali menyelinap masuk, secara diam-diam, ke dalam hati dan pikiran kita. Dalam keadaan tersebut kita akan tergetar, sebab dipaksa atau diacukan pada sebuah kenyataan yang secara mutlak tidak bisa kita hindari. Di dunia ini, secara empiris, keberadaan manusia pasti akan berakhir atau menemui akhir. Namun gerangan apa yang sering merasuki kedirian manusia, kemudian menyerabutnya dari perenungan eksistensial seperti kematian?

Jawabannya bisa jadi adalah pola pikir dominan manusia saat ini yang pragmatik dan positivistik. Secara tidak langsung, ternyata meredusir, bahkan—pada tingkat yang ekstrim—menggerus habis pergesekan manusia dengan hal-hal yang sifatnya metafisik. Taruhlah jawaban tersebut adalah jawaban yang mengandung kebenaran. Sehingga menjadi wajar, jika tidak sedikit dari kita yang tergagap ketika membaca narasi—apalagi metanarasi—dari kematian. Walaupun sejauh ini, kematian telah kita ketahui secara empiris sebagai sebuah peristiwa yang harus dijalani manusia begitu saja (taken for granted).

Dalam diskursus filsafat, secara luas, “kematian” mengandung dua makna yang berbeda, yakni (1) kematian yang berarti sebuah fakta, (2) kematian yang berarti sebuah kata. Untuk makna yang pertama, yakni kematian sebagai sebuah fakta, lebih mengacu kepada titik pijak antroposentris. Misalnya: anggapan bahwa kematian adalah sebuah titik nadir yang harus kita terima begitu saja. Sedangkan makna yang kedua, yakni kematian yang berarti sebuah kata, lebih mengacu kepada penggunaannya secara luas sebagai kata atau metafora dalam sebuah kesimpulan filsafat. Misalnya: salah satu ungkapan Nietzsche yang terkenal: “Tuhan telah mati!”, dalam salah satu periode pemikirannya.

Belakangan ini, diskursus filsafat mungkin lebih didominasi oleh riuhnya perbincangan seputar isu-isu post-modern, seperti globalisme dan kapitalisme. Sebenarnya kematian pun termasuk, namun dalam konteks tersebut, kematian lebih mengacu kepada maknanya yang kedua, yang berarti sebagai sebuah kata. Dan kematian yang mengacu kepada maknanya yang pertama, yakni sebagai sebuah fakta tersebut. Relatif sunyi dan marginal, jika tolak ukurnya adalah diskursus filsafat yang sedang riuh atau dominan.

Dalam edisi perdananya ini, Jurnal Filsafat “Kacamata” sengaja mengangkat tema “kematian”—dalam artinya yang luas atau dengan kata lain, dalam konteks dua makna berbeda yang dikandungnya—dan meletakannya dalam diskursus filsafat. Keinginan atau kegelisahan untuk meletakkan kematian dalam diskurusus filsafat, mungkin semata-mata hanyalah keinginan atau kegelisahan beberapa orang saja—taruhlah para penulis di dalam jurnal ini. Sehingga ketika keinginan semacam itu sudah benar-benar terwujud, kesan elitis dan sektoral dengan mudah akan muncul. Namun siapa tahu, bahwa diskursus semacam ini rupanya dinanti, karena diam-diam menjadi kegelisahan banyak orang. Dan secara tidak langsung, pun berarti memiliki sifat global dan universal.

Ada sembilan tulisan yang menghiasi jurnal. Yang masing-masing terhimpun dalam empat fragmen (Diskursus, Hukum, Tuhan dan Manusia, Refleksi). Empat tulisan yang berjudul Mencandra Kematian sebagai Pengalaman: Sebuah Upaya Mencari Pemaknaan Baru (Muhammad Tijany), Keberadaan yang Berjalan Menuju Kematian (Suluh Pamuji W.), Bayang-Bayang Kematian (Jantan Putra Bangsa), Raibnya Palung Kodratisme Kehancuran (Rifqi Muhammad). Terhimpun dalam fragmen “Diskursus”. Kemudian tulisan M. Nasrudin yang berjudul Hak Menghadirkan Kematian: Kritik Pidana Mati dalam Filsafat Hukum Islam, sendirian menghiasi fragmen “Hukum”. Pada fragmen berikutnya, yakni “Tuhan dan Manusia”, tulisan Qustan Abqary yang berjudul Pertentangan Diametral yang Tidak Memadai: Silang Kuasa antara Tuhan dan Manusia Mengenai Kematian dan tulisan M. Najib Yuliantoro yang berjudul Teologi Masyarakat Modern: Merangkai, Sekaligus “Mengasingkan” Tuhan? menghuni fragmen tersebut. Dan “Refleksi” sebagai fragmen terakhir, ditutup oleh tulisan Muhammad Baihaqi Lathif, Mati yang Terpatri dan Brigitta Isabella, Upacara Kematian dan Kematian Masyarakat Modern.

Tentunya pada edisi perdana Jurnal Filsafat “Kacamata”, Kehadirannya masih berlubang di sana-sini, baik dari segi bentuk maupun isi. Maka dari itu, sumbang saran dan kritik positif dari sidang pembaca sangat kami nanti. Sebagai penutup yang manis, kami mengucapkan: selamat membaca “kematian”…***

Tentang suluhpw

Suluh Pamuji W. lahir di Semarang, 9 Juni 1987. Aktif kuliah dan bergiat di FSB RéTORIKA (Filsafat UGM). Beberapa puisinya pernah dimuat Pontianak Post. Kemudian beberapa esai dan artikelnya lumayan sering menghiasi Buletin di kampusnya, seperti: Jahe, Hitam-Putih dan Ré-Med (RéTORIKA Media). Sementara ini berdomisili di Yogya.
Pos ini dipublikasikan di Bagasi Esai & Artikel. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Membaca “Kematian”

  1. najib berkata:

    selalu tak ada yang bisa kulewatkan dari setiap katamu. amazing word!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s